Suzanne mendulang berkah dari baju ukuran besar



Banyak orang mendapat ide bisnis dari salah satu hobi dan kegemaran yang dilakoninya. Demikian halnya dengan Suzanne Subijanto. Ketertarikan akan dunia fashion sejak remaja menjadi inspirasi dia merintis bisnis baju dengan ukuran maksi.Berawal dari satu karyawan, kini perempuan kelahiran Jakarta, 17 Maret 1974, itu mempekerjakan hingga 80 karyawan. Penjualan dari 16 gerai My Size pun berhasil mencetak omzet hingga belasan miliar rupiah saban tahun.Padahal, pada hari-hari awal, 2003 silam, banyak orang meragukan konsep bisnis My Size. Termasuk para pemilik konveksi yang diajak Suzanne untuk menjadi rekanan. “Mereka bertanya, yakin Bu, dengan bisnis ini?” ujar Suzanne. Bahkan, banyak yang menolak, dengan alasan belum terampil menjahit baju berukuran besar dan tak punya meja potong untuk baju ukuran besar. Namun, ibu dua anak ini tetap melanjutkan niatnya. Selain dikejar target pembukaan gerai di ITC Kuningan yang bakal kena denda jika tak segera buka, dia juga melihat banyak orang yang kesulitan menemukan pakaian yang cocok untuk ukuran tubuh besar, seperti dirinya yang makin subur setelah melahirkan. “Saat itu di Indonesia belum ada merek khusus yang menawarkan baju ukuran besar,” kenang dia.Kebetulan, sebelumnya, profesi Suzanne adalah seorang buyer di department store terkemuka. “Pekerjaan saya waktu itu bertemu dengan para pemasok, memperkirakan harga dan order,” tandas dia.Dunia fashion memang sudah melekat lama dalam diri Suzanne. Sambil kuliah di Universitas of Washington, Seattle, Amerika Serikat, dia juga menjadi sales promotion girl sebuah gerai fashion di sana. “Saat itu, saya kerap diminta memadupadankan pakaian di toko. Saya sangat menikmati itu,” kata Suzanne. Pengalaman semacam itu lah yang menuntun Suzanne ketika benar-benar terjun menjadi pengusaha fashion.Dengan modal hasil tabungan, Suzanne memulai bisnisnya di sebuah gerai berukuran 6 m2 x 2 m2, milik orang tuanya. Dia juga dibantu adiknya, Fransisca Subijanto. Baju-baju yang ia jual menggebrak pakem busana yang biasanya dipakai oleh orang-orang bertubuh gemuk, yang suka warna hitam dan ukuran longgar. “Saya memakai warna-warna ceria dan bermacam model,” ujar diayakin. Gandeng komunitasNyatanya, pengunjung tak langsung tertarik membeli baju-baju My Size. “Bahkan, pegawai saya juga kerap malu-malu menawarkan produk ini,” tutur Suzanne. Menghadapi tantangan ini, Suzanne turun tangan ikut menyapa konsumen sambil memberi penjelasan bahwa produknya bisa membuat mereka cantik dan percaya diri.Namun, usaha itu tak berimbas ke penjualan. Saban hari, My Size hanya melego satu hingga dua potong baju. Suzanne pun tak patah semangat. Dia terus menggali ide untuk mempromosikan produk My Size.Akhirnya, Suzanne bergabung dengan berbagai komunitas wanita bertubuh besar, seperti komunitas Extra L dan Kombes (komunitas besar) untuk memperkenalkan produknya. Keaktifan Suzanne dalam setiap acara komunitas pun memberi hasil positif. Anggota komunitas giat mempromosikan produk My Size dari mulut ke mulut. Dari sini, nama Suzanne makin dikenal. Roda bisnis My Size pun terus berputar. Dari gerainya di Kuningan, Suzanne menambah satu demi satu gerainya di Jakarta. Selain ibu kota, dia juga membuka cabang di Surabaya, Medan, Makasar dan Manado.Tak hanya penambahan gerai jualannya, Suzanne juga mengembangkan bisnisnya. Sejak 2009, dia juga membuat produk pakaian dalam khusus untuk mereka yang berukuran besar. Pada tahun yang sama, Suzanne menambah koleksi produknya, yaitu baju berukuran besar untuk pria. Untuk memproduksi produk-produknya, selain masih menggandeng konveksi, Suzanne juga telah memiliki rumah produksi sendiri. Ada sepuluh penjahit yang membuat baju-baju untuk My Size. Maklum, penjualan setiap gerai bisa mencapai 50 potong setiap hari.Bisnisnya terus membesar dan mempekerjakan puluhan orang. Supaya pengelolaan bisnisnya rapi, Suzanne juga membangun kantor My Size di Tebet, Jakarta SelatanWanita yang tahun ini genap berusia 40 tahun ini memang cukup beruntung. Perjalanan bisnisnya tidak tersandung musibah. “Saya belum pernah ditipu atau rugi besar-besaran, paling hanya kehilangan baju di gerai,” kata dia.Persaingan yang kian ketat, tidak menggoyahkan langkahnya untuk bertahan. Bahkan, sampai sepuluh tahun berlalu, Suzanne mengaku belum pernah sekalipun My Size berutang ke bank. “Kami sangat disiplin. Jika tak ada dana, tak menambah cabang baru,” kata dia.Lagi, inspirasi usaha bisa lahir dari kebutuhan sendiri.        

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Editor: Tri Adi