Suzuki Nilai Insentif Bukan Satu-satunya Penentu Kinerja Pasar Otomotif



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) menilai ketidakpastian kebijakan insentif kendaraan dari pemerintah belum menjadi satu-satunya faktor penentu pergerakan pasar otomotif nasional. Perseroan menyebut kinerja industri roda empat dipengaruhi kombinasi kondisi ekonomi, regulasi, dan strategi internal produsen.

Deputy Managing Director Sales and Marketing 4W Suzuki Indomobil Sales (SIS), Dony Ismi Himawan Saputramengatakan, terdapat tiga faktor utama yang memengaruhi permintaan kendaraan.

“Pertama adalah kondisi ekonomi. Kalau ekonomi bagus, daya beli naik dan permintaan otomotif ikut tumbuh. Kedua adalah regulasi, bisa dalam bentuk insentif atau stimulus lain. Ketiga adalah faktor internal perusahaan, seperti peluncuran produk baru, varian baru, program penjualan, dan layanan,” ujar Dony di IIMS, Jakarta, Kamis (5/2/2026).


Baca Juga: Suzuki Tetapkan Harga e VITARA Rp755 Juta, Bidik Pasar SUV Listrik Premium

Menurutnya, insentif fiskal memang berperan sebagai pendorong pasar, namun bukan satu-satunya faktor yang menentukan. Ia mencontohkan kebijakan pembebasan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) pada 2020–2021 saat pandemi Covid-19 yang terbukti mampu mendorong permintaan.

“Stimulus seperti PPnBM waktu pandemi itu efektif mendongkrak market. Tapi insentif hanya salah satu faktor, bukan satu-satunya yang sangat berkontribusi,” katanya.

Dony menilai ketiga faktor tersebut harus berjalan beriringan. Jika hanya mengandalkan satu aspek, pasar berpotensi stagnan. Misalnya, ekonomi membaik dan insentif tersedia, namun produsen tidak menghadirkan produk baru, maka minat konsumen tetap terbatas.

Baca Juga: Suzuki Rilis New XL7 Hybrid Alpha Kuro, Harga Mulai Rp312 Juta

“Kalau ekonominya bagus, pemerintah sudah kasih insentif, tapi merek tidak agresif mengenalkan produk baru, konsumen bisa jenuh. Sebaliknya, kalau produk baru ada tapi ekonomi lemah dan tidak ada stimulus, hasilnya juga tidak optimal,” ujarnya.

Terkait proses pengajuan insentif oleh asosiasi industri kepada pemerintah, Dony menyebut Suzuki memahami bahwa pemerintah tengah mengkaji berbagai opsi kebijakan. Perseroan memilih menunggu keputusan regulator sambil mengandalkan strategi internal untuk menjaga daya tarik pasar.

“Kalau bicara insentif, tentu membantu. Tapi itu hanya salah satu faktor. Market otomotif akan bergerak kalau ketiga aspek itu berjalan bersama,” tambahnya.

Dengan pendekatan tersebut, Suzuki memandang dinamika pasar otomotif 2026 tidak hanya ditentukan oleh kepastian insentif, tetapi juga oleh pemulihan ekonomi dan kemampuan produsen menghadirkan produk yang relevan bagi konsumen.

Baca Juga: Insentif Berakhir, Penjualan Kendaraan Listrik Berpotensi Melambat

Selanjutnya: Saham Big Banks Melemah pada Penutupan Jumat (6/2), BBRI Catat Penurunan Terdalam

Menarik Dibaca: 8 Tanda Terlalu Banyak Konsumsi Kafein pada Tubuh, Apa Saja?

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News