KONTAN.CO.ID - LONDON. Produsen jam tangan asal Swiss, Swatch, menuntut ganti rugi sebesar US$ 170 juta dari Samsung Electronics. Tuntutan tersebut lantaran Samsung disebut melakukan pelanggaran merek dagang terbesar di Inggris. Swatch menuduh raksasa teknologi Korea Selatan itu mengizinkan beredarnya replika digital jam tangan Swatch pada smartwatch Samsung melalui aplikasi pihak ketiga. Mengacu pada dokumen pengadilan, putusan mengenai besaran ganti rugi diperkirakan akan segera keluar setelah persidangan di Pengadilan Tinggi London berakhir pada Jumat (26/6/2026).
Baca Juga: Bursa Global Melemah, Kenaikan Harga Apple Picu Kekhawatiran Inflasi Sektor Teknologi Sebelumnya, pada 2022, pengadilan telah menyatakan Samsung bertanggung jawab atas pelanggaran merek dagang terkait aplikasi pihak ketiga yang tersedia di smartwatch buatannya. Aplikasi tersebut memungkinkan pengguna menampilkan tampilan jam digital yang menyerupai sejumlah model populer milik merek-merek di bawah Swatch Group, termasuk merek jam mewah Omega dan Tissot. Perkara yang dimulai pada 2019, sebelum Inggris resmi keluar dari Uni Eropa, juga mencakup dugaan pelanggaran yang terjadi di wilayah Uni Eropa. Putusan dalam kasus ini berpotensi menjadi dasar bagi gugatan serupa yang tengah dipersiapkan Swatch terhadap anak usaha Samsung di Amerika Serikat. Dalam dokumen tertanggal 19 Juni yang diajukan kuasa hukum Swatch dan diperoleh Reuters, nilai tuntutan sebesar US$ 170 juta dihitung berdasarkan skema biaya lisensi hipotetis untuk 10 merek milik Swatch Group. Nilai tersebut juga mencerminkan prestise, reputasi, dan daya tarik portofolio merek perusahaan. Samsung belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar dari Reuters. Namun, dalam dokumen terpisah yang dikutip Financial Times, Samsung menyebut tuntutan Swatch sebagai sesuatu yang "berlebihan" dan nilainya terlalu besar. Kasus ini mencerminkan meningkatnya persaingan antara industri jam tangan Swiss dan produsen smartwatch global seperti Samsung, Apple, dan Huawei. Pesatnya pertumbuhan pasar jam tangan pintar dinilai menjadi tantangan bagi produsen jam mekanis tradisional. Dalam dokumen tersebut, CEO Tissot Sylvain Dolla menyatakan bahwa perusahaannya sengaja memilih untuk tidak masuk ke pasar smartwatch, meski pernah mendapat pendekatan dari sejumlah perusahaan teknologi besar. Menurut Dolla, melisensikan desain jam tangan Tissot untuk digunakan pada smartwatch justru akan mengurangi nilai merek yang selama ini dibangun Swatch Group.
Baca Juga: Harga Emas Bertahan di Atas US$ 4.000, Sikap Hawkish The Fed Masih Jadi Beban "Melisensikan desain kami untuk digunakan pada smartwatch, yang merupakan produk komoditas, akan menghancurkan nilai yang telah dibangun oleh merek-merek Swatch Group," ujar Dolla dalam dokumen terpisah yang diajukan pada 2025.
Industri jam tangan Swiss selama ini dikenal menjaga pasokan produknya secara ketat untuk mempertahankan kelangkaan, menopang harga premium, sekaligus menjaga citra eksklusif merek. Swatch sendiri memiliki portofolio produk yang sangat beragam, mulai dari jam tangan plastik dengan harga terjangkau hingga jam tangan mewah bernilai puluhan ribu dolar AS. Meski telah memiliki produk terhubung seperti SwatchPAY!, perusahaan hingga kini belum meluncurkan smartwatch penuh. Dolla menegaskan bahwa masuk ke pasar smartwatch akan menghilangkan eksklusivitas yang menjadi daya tarik utama jam tangan Swiss. "Hal itu akan membunuh nilai jam tangan Swiss berkualitas tinggi karena tidak lagi menjadi sesuatu yang eksklusif," katanya