Swiss Bersiap Hadapi Tarif AS yang Berpotensi Jadi Permanen



KONTAN.CO.ID - ZURICH. Pemerintah Swiss mulai bersiap menghadapi kemungkinan bahwa tarif impor Amerika Serikat (AS) akan berlaku dalam jangka panjang, meskipun Mahkamah Agung Amerika Serikat pekan lalu membatalkan kebijakan tarif yang diterapkan Presiden AS Donald Trump.

Kepala Sekretariat Negara Bidang Urusan Ekonomi Swiss (SECO), State Secretariat for Economic Affairs (SECO), Helene Budliger Artieda, mengatakan Swiss perlu menerima kenyataan bahwa tarif AS kemungkinan akan tetap ada. Pernyataan itu ia sampaikan kepada surat kabar SonntagsBlick.

“Saya menduga kita harus berdamai dengan tarif AS,” ujar Helene Budliger Artieda. 


Baca Juga: Bangladesh Amankan Tarif AS Turun Jadi 19%, Produk Garmen Berbahan AS Bebas Bea Masuk

Menurutnya, pemerintah AS telah memberi sinyal akan menggunakan jalur hukum lain untuk mempertahankan tarif, termasuk dengan alasan keamanan nasional atau dugaan praktik perdagangan yang tidak adil.

Swiss sebelumnya menjadi salah satu negara Eropa yang paling terdampak kebijakan tarif AS. Pada awalnya, produk Swiss dikenai tarif tertinggi di Eropa sebelum akhirnya diturunkan. 

Namun, setelah Mahkamah Agung AS membatalkan kebijakan tarif tersebut, Presiden Trump justru mengumumkan tarif baru sebesar 15% untuk seluruh mitra dagang secara menyeluruh.

Saat ini, otoritas Swiss tengah mengkaji dampak kebijakan tarif global 15% tersebut. Budliger Artieda menilai, secara keseluruhan, beban bea masuk atas barang Swiss ke AS kemungkinan tidak akan banyak berubah.

Baca Juga: Ekspor Jepang Menguat Tak Terduga pada Oktober Seiring Meredanya Dampak Tarif AS

Ia menegaskan bahwa pemerintah AS tetap konsisten dengan tujuan kebijakan perdagangannya, yakni mengurangi defisit perdagangan, mendorong prinsip timbal balik, serta menarik kembali aktivitas produksi ke dalam negeri AS.

Pada November lalu, Bern dan Washington telah menyepakati kerangka perjanjian untuk mencegah perang dagang terbuka. 

Dalam kesepakatan itu, tarif ekspor Swiss ke AS diturunkan dari 39% menjadi 15%, setara dengan tarif yang dikenakan kepada eksportir dari Uni Eropa.

Sebagai imbalannya, perusahaan-perusahaan Swiss berkomitmen menanamkan investasi senilai US$ 200 miliar di AS hingga akhir 2028. Kedua pihak menargetkan finalisasi perjanjian tersebut paling lambat akhir Maret, dan proses negosiasi masih berlangsung.

Baca Juga: Prabowo Siap Teken Tarif AS 19% dengan Trump, Dorong Babak Baru Dagang RI–AS

Budliger Artieda juga menyebutkan bahwa SECO tetap menjalin komunikasi dengan pejabat perdagangan AS setelah putusan Mahkamah Agung tersebut diumumkan.

Selanjutnya: Mengukur Tantangan Petani Menjaga Pasokan Pangan Segar Selama Puasa dan Lebaran

Menarik Dibaca: Hujan Sangat Lebat di Provinsi Ini, Simak Peringatan Dini BMKG Cuaca Besok (23/2)