Syailendra Capital Siap Luncurkan ETF Emas, Bidik Investor HNWI



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri pasar modal Indonesia kedatangan instrumen investasi baru berupa Exchange Traded Fund (ETF) emas. 

PT Syailendra Capital merupakan salah satu manajer investasi yang siap meluncurkan ETF emas melalui Syailendra ETF Sharia Gold (XSGO) pada Senin, 10 Agustus 2026. 

Head of Investment Specialist Syailendra Capital, Syanne Gracetinne, mengatakan pihaknya memandang peluncuran ETF emas sebagai inovasi produk yang tepat waktu.


Baca Juga: Nilai Transaksi Kripto Domestik Melonjak, Investor Mulai Beralih ke Altcoin

“Produk ini berbentuk Kontrak Investasi Kolektif dengan underlying emas fisik dalam bentuk EGR (Electronic Gold Receipt) berkemurnian 99,5% (LBMA) atau 99,9% (SNI),” ungkap Syanne kepada Kontan, Jumat (7/8/2026).

Syanne menyebut bahwa Syailendra Capital optimistis instrumen ini menarik minat investor karena beberapa alasan fundamental, seperti harga emas yang mencatat pertumbuhan rata-rata sekitar 10% dalam 15 tahun terakhir dan menjadi winning asset sebanyak lima kali sepanjang 2014-2025.

Selain itu, emas dinilai terbukti resilien sebagai aset lindung nilai ketika terjadi krisis. Pada Krisis Finansial Global 2008, misalnya, emas mencatat kenaikan 72%, sementara IHSG naik 40%. Kemudian pada periode pandemi Covid-19, harga emas meningkat 48%, sedangkan IHSG terkoreksi 3,5%.

Menariknya, Syanne melihat koreksi harga emas yang terjadi saat ini justru dapat menjadi peluang bagi investor. Di sisi lain, permintaan emas secara struktural masih kuat, terutama dari bank sentral.

“Jadi, harga yang sedang terkoreksi justru memperkuat tesis investasi, bukan melemahkannya sehingga investor bisa masuk di posisi yang lebih menarik untuk horizon jangka menengah-panjang,” lanjutnya.

Bidik Institusi dan HNWI

Syanne mengatakan, berdasarkan spesifikasi produknya, ETF emas ini membidik profil investor institusional dan High Net Worth Individual (HNWI).

Hal ini tercermin dari satuan transaksi di pasar primer yang relatif besar. Minimum pembelian pertama setara dengan 500 gram emas atau sekitar Rp 1,5 miliar, dengan asumsi harga acuan Rp 3 juta per gram atau setara dengan 15 basket.

Baca Juga: Kinerja Emiten Properti Kawasan Industri Beragam, Simak Rekomendasi Sahamnya

Meski demikian, akses terhadap ETF emas tetap terbuka bagi investor ritel melalui pasar sekunder. Investor ritel dapat membeli mulai dari satu lot atau 100 unit, dengan nilai sekitar Rp 100.000, sehingga segmennya bisa meluas seiring likuiditas yang terbentuk di bursa.

Menurut ia, salah satu tantangan utama pengembangan ETF emas di Indonesia adalah edukasi pasar. Sebagai instrumen yang masih tergolong baru, investor perlu memahami perbedaan ETF emas dengan emas fisik maupun emas digital, termasuk mekanisme EGR, nilai aktiva bersih (NAV) secara real-time, serta struktur Dealer Partisipan.

Tantangan lainnya adalah membangun likuiditas di pasar sekunder. Peran Dealer Partisipan menjadi penting untuk menjaga likuiditas sekaligus mempertahankan spread yang kompetitif. Pada ETF emas besutan Syailendra Capital ini, posisi Dealer Partisipan tersebut diisi oleh PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia.

Syanne menyebut perlunya menjaga spread berada di kisaran 2%-3% agar tetap kompetitif. lebih rendah dibandingkan spread pada platform emas ritel yang berada di sekitar 6%.

Kendati demikian, Syailendra Capital masih belum membeberkan terkait berapa target dana kelolaan (AUM) dan jumlah investor yang dibidik untuk produk ETF emas ini. Syanne bilang, pihaknya masih akan cenderung mengamati terlebih dulu perkembangan yang terjadi pasca rilisnya ETF Gold. 

“Namun, kami cukup optimis bahwa minat investor terhadap emas masih relatif tinggi mengingat aset ini sifatnya timeless dan layak untuk menjadi portfolio diversifier bagi tiap investor,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News