KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di tengah dinamika pasar obligasi dan sukuk Oktober 2026, reksa dana pendapatan tetap syariah menunjukkan daya tahan solid berkat pendekatan selektif manajer investasi dalam menjaga likuiditas dan meredam volatilitas (Nilai Aktiva Bersih) NAB. Daya tahan tersebut tercermin pada produk Syailendra Sharia Fixed Income Fund Kelas A (SSFIF Kelas A) milik PT Syailendra Capital. Berdasarkan data per 30 Oktober 2026, produk reksa dana pendapatan tetap syariah ini mencatatkan pertumbuhan imbal hasil (return) positif sebesar 4,65% secara year-to-date (YTD) dan bergerak stabil di level 0,00% secara month-on-month (MoM). Kinerja tersebut jauh melampaui indeks acuan pasar (benchmark) IRDPTS yang berada di kisaran 1,2% pada periode yang sama. Investment Analyst Syailendra Capital, Daffa Hartadi, menjelaskan bahwa di tengah pasar yang bergejolak, pihaknya tidak menerapkan strategi spekulatif. Pengelolaan portofolio difokuskan pada kalkulasi rasio risiko dan imbal hasil (risk and reward) yang ketat pada setiap pemilihan instrumen. "Strategi khusus kami rasa tidak ada. Di dalam pasar yang volatilitasnya sedang tinggi, kami lebih mengedepankan risk and reward dalam pemilihan instrumen untuk meminimalisir volatilitas dan tentunya menjaga likuiditas fund itu sendiri," ungkap Daffa kepada KONTAN, Kamis (5/11/2026). Baca Juga: Syailendra Capital Targetkan AUM ETF Emas Capai Rp 200 Miliar Berdasarkan lembar fakta produk (Fund Fact Sheet), SSFIF Kelas A menerapkan strategi alokasi aset dengan menempatkan 80% hingga 90% dana pada efek syariah pendapatan tetap yang didominasi oleh sukuk korporasi berdurasi pendek berperingkat layak investasi (minimal rating A), serta didukung alokasi pada Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) sebagai risk-free asset. Memasuki akhir 2026 dan proyeksi awal 2027, Syailendra Capital menilai kondisi pasar obligasi dan sukuk masih akan diwarnai oleh berbagai sentimen global. Oleh karena itu, strategi pengelolaan reksa dana pendapatan tetap syariah akan tetap diarahkan agar lebih defensif. "Kembali lagi, di dalam pasar yang volatile, kami rasa strategi pengelolaan yang dilakukan tentu cenderung konservatif dan lebih selektif dalam pemilihan instrumen," tambahnya. Kendati dibayangi ketidakpastian pasar, prospek reksa dana pendapatan tetap syariah dinilai masih tetap menarik hingga awal 2027. Instrumen ini tetap menjadi pilihan utama bagi investor yang ingin mengoptimalkan pertumbuhan nilai investasi dengan profil risiko menengah di tengah fluktuasi pasar. "Di tengah kondisi pasar yang masih cukup dinamis, reksa dana pendapatan tetap tetap menarik sebagai salah satu opsi investasi, terutama bagi investor yang mengutamakan profil risiko menengah," pungkasnya. Baca Juga: Syailendra Luncurkan ETF Syariah Berbasis Emas di BEI
Syailendra Sharia Fixed Income Fund Cetak Return 4,65% di Tengah Tekanan Pasar
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di tengah dinamika pasar obligasi dan sukuk Oktober 2026, reksa dana pendapatan tetap syariah menunjukkan daya tahan solid berkat pendekatan selektif manajer investasi dalam menjaga likuiditas dan meredam volatilitas (Nilai Aktiva Bersih) NAB. Daya tahan tersebut tercermin pada produk Syailendra Sharia Fixed Income Fund Kelas A (SSFIF Kelas A) milik PT Syailendra Capital. Berdasarkan data per 30 Oktober 2026, produk reksa dana pendapatan tetap syariah ini mencatatkan pertumbuhan imbal hasil (return) positif sebesar 4,65% secara year-to-date (YTD) dan bergerak stabil di level 0,00% secara month-on-month (MoM). Kinerja tersebut jauh melampaui indeks acuan pasar (benchmark) IRDPTS yang berada di kisaran 1,2% pada periode yang sama. Investment Analyst Syailendra Capital, Daffa Hartadi, menjelaskan bahwa di tengah pasar yang bergejolak, pihaknya tidak menerapkan strategi spekulatif. Pengelolaan portofolio difokuskan pada kalkulasi rasio risiko dan imbal hasil (risk and reward) yang ketat pada setiap pemilihan instrumen. "Strategi khusus kami rasa tidak ada. Di dalam pasar yang volatilitasnya sedang tinggi, kami lebih mengedepankan risk and reward dalam pemilihan instrumen untuk meminimalisir volatilitas dan tentunya menjaga likuiditas fund itu sendiri," ungkap Daffa kepada KONTAN, Kamis (5/11/2026). Baca Juga: Syailendra Capital Targetkan AUM ETF Emas Capai Rp 200 Miliar Berdasarkan lembar fakta produk (Fund Fact Sheet), SSFIF Kelas A menerapkan strategi alokasi aset dengan menempatkan 80% hingga 90% dana pada efek syariah pendapatan tetap yang didominasi oleh sukuk korporasi berdurasi pendek berperingkat layak investasi (minimal rating A), serta didukung alokasi pada Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) sebagai risk-free asset. Memasuki akhir 2026 dan proyeksi awal 2027, Syailendra Capital menilai kondisi pasar obligasi dan sukuk masih akan diwarnai oleh berbagai sentimen global. Oleh karena itu, strategi pengelolaan reksa dana pendapatan tetap syariah akan tetap diarahkan agar lebih defensif. "Kembali lagi, di dalam pasar yang volatile, kami rasa strategi pengelolaan yang dilakukan tentu cenderung konservatif dan lebih selektif dalam pemilihan instrumen," tambahnya. Kendati dibayangi ketidakpastian pasar, prospek reksa dana pendapatan tetap syariah dinilai masih tetap menarik hingga awal 2027. Instrumen ini tetap menjadi pilihan utama bagi investor yang ingin mengoptimalkan pertumbuhan nilai investasi dengan profil risiko menengah di tengah fluktuasi pasar. "Di tengah kondisi pasar yang masih cukup dinamis, reksa dana pendapatan tetap tetap menarik sebagai salah satu opsi investasi, terutama bagi investor yang mengutamakan profil risiko menengah," pungkasnya. Baca Juga: Syailendra Luncurkan ETF Syariah Berbasis Emas di BEI