KONTAN.CO.ID - Harga minyak turun tajam ke level terendah dalam dua pekan pada Rabu (6/5/2026), seiring meningkatnya optimisme bahwa perang di Timur Tengah dapat segera berakhir. Hal itu dipicu laporan bahwa Amerika Serikat dan Iran semakin dekat menuju kesepakatan damai awal. Data
Reuters menunjukkan, harga kontrak berjangka minyak Brent ditutup turun US$ 8,60 atau 7,83% menjadi US$ 101,27 per barel, setelah sebelumnya sempat turun di bawah US$ 100 untuk pertama kalinya sejak 22 April. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun US$ 7,19 atau 7,03% menjadi US$ 95,08 per barel. Tabel 1: Pergerakan Harga Minyak Dunia (Rabu, 6 Mei 2026)
| Jenis Minyak | Harga Penutupan | Perubahan (US$) | Perubahan (%) |
| Brent | US$ 101,27/barel | -US$ 8,60 | -7,83% |
| WTI | US$ 95,08/barel | -US$ 7,19 | -7,03% |
Sumber dari Pakistan selaku mediator menyebut AS dan Iran semakin dekat mencapai kesepakatan berupa memorandum kesepahaman satu halaman. Iran mengatakan pada Rabu bahwa pihaknya sedang meninjau proposal baru dari AS. Seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, dikutip kantor berita ISNA, mengatakan Iran akan segera menyampaikan respons melalui Pakistan. Iran sebelumnya menegaskan hanya akan menerima kesepakatan yang adil dan menyeluruh. Media AS Axios melaporkan bahwa AS memperkirakan respons Iran terhadap sejumlah poin kunci akan diterima dalam 48 jam ke depan. Axios mengutip sumber yang menyebut ini adalah posisi terdekat kedua pihak menuju kesepakatan sejak perang dimulai.
Baca Juga: Tabel Faktor Penggerak Harga Emas (6/5): Emas Sentuh Rekor Sepekan, Perak Lompat 6% “Ada rasa yang semakin kuat bahwa peluang Selat Hormuz dibuka kembali semakin besar, terlepas apakah nantinya tercapai kesepakatan damai permanen dengan Iran atau tidak,” kata Phil Flynn, analis senior di Price Futures Group. Kedua kontrak minyak sempat menyentuh level terendah dua pekan, dengan Brent mencatat titik terendah intraday di US$ 96,75, sebelum memangkas kerugian setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan masih “terlalu dini” untuk mempertimbangkan pembicaraan tatap muka dengan Teheran. Seorang anggota parlemen senior Iran juga menyebut proposal AS lebih mirip daftar keinginan dibanding sesuatu yang realistis. Militer AS pada Senin mengatakan pihaknya menghancurkan beberapa kapal kecil Iran sebagai bagian dari upaya membantu kapal-kapal yang terjebak untuk keluar dari Selat Hormuz. “Pengumuman kesepakatan akan langsung mendorong pergerakan harga berjangka lebih jauh. Bahkan potensi kesepakatan saja sudah memicu penurunan harga minyak,” kata Kepala Analis Minyak Rystad Energy, Paola Rodriguez-Masiu. Namun, ia menekankan bahwa arus pasokan minyak global membutuhkan waktu untuk kembali normal meskipun selat itu dibuka kembali. Menurutnya, jeda enam hingga delapan minggu antara kondisi akses pelayaran yang kredibel dan normalisasi arus pasokan bukanlah estimasi konservatif, melainkan karakter struktural dari cara kerja pasar pengiriman minyak. Gangguan pasokan akibat terhentinya lalu lintas kapal di Selat Hormuz sejak perang dimulai pada Februari telah mendorong harga minyak naik, bahkan Brent sempat diperdagangkan pekan lalu di level tertinggi sejak Maret 2022.
Baca Juga: Harga Emas Antam Terbaru Sore Ini Rabu (6/5/2026) Yuk Intip! Penutupan Selat Hormuz juga menyebabkan penurunan persediaan minyak dan bahan bakar global karena kilang berusaha menutup kekurangan produksi. Analis Raymond James, Pavel Molchanov, mengatakan kesepakatan parsial mungkin cukup untuk membuat pelayaran di Selat Hormuz perlahan kembali normal. Ia menambahkan, jika penurunan harga bertahan, maka harga BBM di pompa bensin bisa turun dalam satu hingga dua minggu bagi konsumen AS. Persediaan minyak mentah dan bahan bakar AS kembali menurun pekan lalu, kata Badan Informasi Energi AS (EIA) pada Rabu, seiring negara-negara di seluruh dunia berlomba mengisi celah pasokan akibat gangguan konflik Timur Tengah. Stok minyak mentah AS turun 2,3 juta barel menjadi 457,2 juta barel pekan lalu, menurut EIA. Angka ini lebih kecil dibanding perkiraan analis dalam survei
Reuters yang memperkirakan penurunan 3,3 juta barel. Tabel 2: Data Penting yang Menggerakkan Harga Minyak
| Faktor | Dampak ke Harga Minyak | Penjelasan |
| Isu kesepakatan damai AS-Iran | Negatif | Risiko geopolitik mereda, pasokan berpotensi pulih |
| Peluang Selat Hormuz dibuka | Negatif | Lalu lintas kapal bisa normal kembali |
| Trump bilang “terlalu dini” untuk pertemuan | Menahan penurunan | Meredam optimisme pasar |
| Stok minyak AS turun 2,3 juta barel | Positif | Menunjukkan pasokan masih ketat |
| Gangguan pengiriman sejak Februari | Positif (sebelumnya) | Membuat harga sempat melonjak tinggi |
Sumber: Reuters Dampak ke Indonesia?
Penurunan harga minyak dunia ini berpotensi memberi sentimen positif bagi Indonesia, mengingat beban impor energi dan tekanan subsidi BBM bisa lebih ringan jika tren pelemahan berlanjut.
Harga Brent yang sempat turun mendekati US$ 100 per barel juga dapat memengaruhi pergerakan Indonesian Crude Price (ICP) yang menjadi acuan pemerintah dalam perhitungan APBN.
Tonton: Mobil dan Motor Listrik Masih Bebas Pajak di Jakarta Di sisi lain, turunnya harga minyak berpeluang menahan laju inflasi domestik, terutama pada komponen transportasi dan energi, sekaligus membuka ruang bagi stabilitas harga BBM di dalam negeri.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News