Tabungan Haji Melejit, DPK BSI Tembus Rp 376,8 Triliun pada Kuartal I-2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) mencatat pertumbuhan tabungan tertinggi di industri perbankan syariah pada kuartal I-2026. Lonjakan tersebut ditopang tingginya minat masyarakat untuk berhaji yang mendorong jumlah nasabah Tabungan Haji BSI menembus 7,25 juta rekening.

Menariknya, sekitar 1,2 juta nasabah Tabungan Haji berasal dari kalangan generasi muda, yakni milenial dan Gen Z.

Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo mengatakan, tabungan kini menjadi mesin pertumbuhan utama perusahaan, terutama dari produk Tabungan Haji.


Baca Juga: DPLK Avrist Catat Pertumbuhan Aset 8,65% pada Kuartal I-2026, Ini Penopangnya

“Tabungan saat ini menjadi engine growth BSI termasuk dari Tabungan Haji,” ujar Anggoro dalam paparan kinerja BSI, Selasa (12/5/2026).

Sejak merger pada Februari 2021, jumlah nasabah BSI tercatat bertambah 9,26 juta. Khusus pada tiga bulan pertama 2026, jumlah nasabah naik sekitar 500 ribu sehingga totalnya mencapai 23,7 juta nasabah.

Pertumbuhan basis nasabah tersebut ikut mengerek dana pihak ketiga (DPK) BSI. Hingga Maret 2026, DPK BSI tercatat mencapai Rp 376,8 triliun atau tumbuh 18% secara tahunan.

Kenaikan DPK terutama ditopang pertumbuhan dana murah atau current account savings account (CASA). Giro tumbuh 24,17% secara year on year (yoy) menjadi Rp 71,7 triliun, sementara tabungan naik 20,18% yoy menjadi Rp 164,5 triliun. Total CASA BSI pun meningkat 21,36% yoy menjadi Rp 236,2 triliun.

BSI juga mencatat dominasi pada bisnis tabungan haji nasional. Pangsa pasar (market share) pendaftaran haji BSI naik dari 49,5% pada 2023 menjadi 53,6% pada 2025.

Dari total 422.300 pendaftar haji nasional pada 2025, sebanyak 226.400 di antaranya mendaftar melalui BSI. Bahkan untuk keberangkatan haji 2026, sekitar 83,5% jemaah berasal dari nasabah yang mendaftar lewat BSI.

Baca Juga: BSI Sebut Kenaikan Suku Bunga Tak Terlalu Pengaruhi Kinerja Perseroan

Perusahaan ini menilai peningkatan tersebut didukung kemudahan pembukaan rekening melalui platform BYOND by BSI serta berbagai program kampanye haji yang dilakukan secara nasional.

Kinerja penghimpunan dana yang solid turut mendongkrak total aset BSI menjadi Rp 460,1 triliun per Maret 2026. Posisi tersebut mengantarkan BSI masuk jajaran lima bank terbesar di Indonesia setelah resmi menjadi bank persero pada Januari 2026.

Selain mengandalkan bisnis perbankan syariah, BSI juga mulai memetik hasil dari lisensi bank emas yang dimiliki perseroan. BSI mencatat jumlah nasabah non-Muslim meningkat menjadi 12%, didorong pengembangan ekosistem bisnis emas.

“Keunikan dual licence menghasilkan kinerja BSI yang sehat dan profit sustain,” kata Anggoro.

Pada kuartal I-2026, laba bersih BSI mencapai Rp 2,2 triliun atau tumbuh 17,1% yoy. Pertumbuhan laba ditopang strategi penurunan biaya dana, kualitas pembiayaan yang terjaga, serta peningkatan pendapatan berbasis komisi atau fee based income dari bisnis emas.

Direktur Finance and Strategy BSI Ade Cahyo Nugroho mengatakan, fee based income (FBI) BSI tumbuh 22,98% yoy menjadi Rp 2,09 triliun pada kuartal I-2026.

Bisnis emas menjadi kontributor terbesar FBI dengan porsi 33,69% atau senilai Rp 705 miliar, melonjak 125% yoy. Pertumbuhan tersebut didorong kenaikan pembiayaan gadai emas sebesar 58,3% yoy serta lonjakan transaksi E-mas lebih dari 2.700%.

Baca Juga: Usai Pengumuman Integrasi dengan MUFG, Saham BDMN Bergejolak, Investor Profit Taking

Dari sisi intermediasi, pembiayaan BSI tumbuh 14,39% yoy menjadi Rp 329 triliun. Pertumbuhan terutama berasal dari segmen konsumer.

Meski agresif menyalurkan pembiayaan, kualitas aset BSI tetap terjaga. Rasio non-performing financing (NPF) gross membaik menjadi 1,8% dari sebelumnya 1,88%, sedangkan NPF net berada di level 0,38%.

Mayoritas pembiayaan atau sekitar 72,37% disalurkan ke segmen konsumer dan ritel, sementara sisanya sebesar 27,63% ke segmen wholesale.

Peningkatan dana murah juga membantu menekan biaya dana (cost of fund) ke level 2,12%. Sementara Cost of Credit (CoC) BSI juga masih terjaga di level 0,73%.

Kondisi tersebut menopang profitabilitas perseroan, tercermin dari rasio return on asset (ROA) sebesar 2,53% dan return on equity (ROE) sebesar 19,36% pada kuartal I-2026.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News