KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama ekonomi Indonesia. Namun, penguatan konsumsi mulai dibayangi oleh penurunan porsi tabungan masyarakat. Kondisi ini membuat investasi dituntut lebih kuat untuk menjaga laju pertumbuhan ekonomi pada paruh kedua 2026. Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan, konsumsi yang menguat dan investasi yang belum optimal sebenarnya bukan dua kondisi yang bertentangan.
Menurutnya, Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) pada Agustus 2026 menunjukkan keyakinan masyarakat kembali membaik. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Agustus 2026 tercatat 118,5, sementara Indeks Kondisi Ekonomi(IKE) Saat Ini mencapai 109,4.
Baca Juga: Investasi Barang Mewah Menarik, Simak Saran Perencana Keuangan "Porsi pendapatan yang dibelanjakan juga naik menjadi 74,2%. Artinya, permintaan domestik masih cukup kuat," ujar Yusuf kepada Kontan, Minggu (13/9/2026). Meski demikian, ada catatan dari penguatan konsumsi tersebut. Porsi pendapatan yang ditabung turun dari 16,8% pada Agustus 2026, menjadi 15,8%. Sementara itu, porsi pendapatan yang digunakan untuk membayar cicilan relatif stabil di sekitar 10%. Yusuf menilai, kondisi tersebut menunjukkan konsumsi masih didorong optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi. Namun, ruang keuangan rumah tangga mulai sedikit menyempit. Jika pendapatan dan lapangan kerja tetap kuat, konsumsi masih dapat bertahan. Sebaliknya, jika tabungan terus tergerus tanpa diikuti peningkatan pendapatan, konsumsi akan sulit menjadi penopang pertumbuhan dalam jangka panjang. Di tengah kondisi tersebut, investasi menjadi salah satu kunci untuk menjaga pertumbuhan ekonomi pada semester II 2026. Menurut Yusuf, realisasi investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) pada kuartal II 2026 masih cukup baik, yakni tumbuh sebesar 6,87%% dengan porsi kontribusi atau distribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai 29,36%.
Baca Juga: Belanja Pemerintah Tumbuh tapi Mesin Ekonomi Swasta Belum Sepenuhnya Bergerak Namun menurutnya, persoalan investasi saat ini lebih terletak pada kecepatan dan kualitas transmisinya terhadap aktivitas ekonomi serta penciptaan lapangan kerja. Dengan demikian, tantangan investasi bukan semata-mata mengejar nilai realisasi, tetapi memastikan investasi tersebut benar-benar masuk ke sektor produktif dan memberikan dampak terhadap aktivitas ekonomi serta penciptaan lapangan kerja. Ia mencatat, salah satu kendala yang masih membayangi investasi adalah biaya pembiayaan. Sebagaimana diketahui, BI-Rate saat ini berada di level 5,75%, sementara rata-rata suku bunga kredit perbankan pada Juni 2026 masih mencapai 8,81%. Yusuf mengatakan, penurunan suku bunga acuan tidak otomatis membuat bunga kredit menjadi murah. Perbankan tetap memperhitungkan biaya dana, risiko kredit, serta kondisi likuiditas. "Jadi, tantangannya sekarang bukan hanya bagaimana menjaga stabilitas rupiah dan inflasi, tetapi juga memastikan pelonggaran kondisi moneter benar-benar diteruskan ke sektor produktif," ujarnya. Lebih lanjut, Yusuf juga menilai konsumsi yang ditopang tabungan yang lebih tipis masih dapat menjaga pertumbuhan ekonomi untuk sementara waktu. Namun, konsumsi tidak bisa menjadi satu-satunya sumber pertumbuhan dalam jangka panjang. Konsumsi rumah tangga memiliki bobot lebih dari separuh Produk Domestik Bruto (PDB), sehingga perubahan konsumsi akan memberikan dampak besar terhadap pertumbuhan ekonomi. Namun, apabila tabungan terus menurun sementara investasi tidak meningkat, konsumsi pada akhirnya akan kehilangan tenaga.
Baca Juga: Kolaborasi BKPH dan STM Perkuat Perlindungan Hutan, Jaga Aktivitas Ekonomi NTB Menurut dia, risiko yang perlu diwaspadai bukan kontraksi ekonomi secara mendadak. Risiko yang lebih besar adalah pertumbuhan berhenti di kisaran 5% dan sulit naik ke level yang lebih tinggi. Karena itu, peluang target pertumbuhan ekonomi 2026 terlewat akan sangat bergantung pada kinerja investasi pada paruh kedua tahun ini.
Jika pertumbuhan ekonomi pada kuartal III dan IV mampu bertahan di kisaran 5,2%-5,4%, asumsi pertumbuhan ekonomi 5,4% sebagaimana yang tercantum dalam APBN 2026 masih cukup realistis. Namun, untuk mencapai pertumbuhan 5,6% atau lebih, konsumsi rumah tangga saja tidak cukup. Investasi swasta perlu bergerak lebih cepat, terutama investasi yang meningkatkan kapasitas produksi dan menciptakan lapangan kerja. "Untuk mencapai 5,6% atau lebih, konsumsi saja tidak cukup. Investasi swasta harus lebih cepat, terutama investasi yang meningkatkan kapasitas produksi dan menciptakan lapangan kerja," pungkas Yusuf. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News