Kebal dari resesi, konsumen tajir tetap memburu barang mewah Louis Vuitton



KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Pemilik Louis Vuitton menikmati lonjakan penjualan yang tak terduga di kuartal ketiga tahun ini. Pendapatan organik di unit fesyen dan barang-barang kulit LVMH melonjak 12% pada kuartal III terdorong penjualan yang kuat untuk barang-barang mewah seperti tas Bobby Christian Dior yang harganya mulai dari US$ 3.000 atau sekitar Rp 44 juta per unit. (kurs Rp 14.764 per dollar AS). 

Beberapa konsumen masih memiliki keinginan berbelanja secara royal meskipun prospek perekonomian negara mengerikan. Kinerja LVMH menunjukkan bagaimana merek-merek terkemuka membantu mengatasi dampak ekonomi yang merusak dari pandemi setelah penguncian dan karantina. 

Baca Juga: Gagal akuisisi, Tiffany & Co gugat LVMH


Laporan kinerja yang optimistis dari LVMH, menjadi pertanda baik bagi merek mewah lain di sektor ini. “Kami berharap lebih banyak pemain mengikuti jalan ini, terutama Hermes,” kata Luca Solca, seorang analis di Sanford C. Bernstein seperti dikutip Bloomberg, Sabtu (18/10).

LVMH sempat mengejutkan investor ketika mengumumkan rencana menarik diri dari kesepakatan $ 16 miliar untuk membeli Tiffany & Co. pada bulan lalu. Sebelumnya pada hari Kamis (15/10), toko perhiasan AS itu mengungkapkan tren penjualan yang positif dalam upaya untuk menjaga kesepakatan akuisisi pada jalurnya.

Baca Juga: Ini 10 miliarder dunia pada paruh pertama 2020 versi Forbes

Divisi LVMH memiliki hasil yang sangat beragam dalam periode terakhir ini. Adapun unit bisnis anggur dan minuman keras yang menampung merek Hennessy Cognac dan Moet & Chandon Champagne juga mencatatkan kinerja  lebih baik dari yang diharapkan. Pendapatan organik turun 3%, kurang dari setengah penurunan yang diperkirakan analis.

Namun, beberapa unit bisnis bernasib lebih buruk. Unit ritel selektif LVMH yang mencakup gerai bebas bea DFS dan jaringan toko kosmetik Sephora mengalami penurunan pendapatan organik sebesar 29% di tengah penghentian pariwisata internasional. Dengan perjalanan ke luar negeri yang hampir mustahil, konsumen China yang telah mendorong pertumbuhan industri mewah menghabiskan lebih banyak uang di dalam negeri. 

Baca Juga: Aplikasi Ini yang Dimanfaatkan Produsen Barang Mewah untuk Berjualan di Thailand

Chief Financial Officer Louis Vuitton Jean-Jacques Guiony mengatakan, penjualan barang mewah merek Louis Vuitton kembali tumbuh di China pada kuartal ketiga. Adapun Pendapatan total LVMH masih turun 7% secara organik, mencapai € 11,96 miliar (US$ 14 miliar). 

LVMH tetap mengkhawatirkan prospek ekonomi karena virus korona menyebar lagi di pasar-pasar utama termasuk Eropa. Namun, pihaknya mengatakan akan mempertahankan pengeluaran pemasaran dan langkah-langkah lain yang bertujuan untuk meningkatkan nilai mereknya.

"Kinerja kuartalan sebagian besar didorong oleh pemasaran  di merek-merek utama seperti Louis Vuitton dan Dior," kata Guillaume Gauville, seorang analis di Credit Suisse.

Editor: Rizki Caturini