Tahun 2019, rupiah masih belum bebas dari tekanan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah sepanjang tahun ini bergerak sangat fluktuatif akibat perpaduan sentimen negatif eksternal maupun domestik.

Kendati tak setinggi tahun ini, volatilitas rupiah diproyeksi masih akan terjadi tahun depan, terutama jika pemerintah gagal mengendalikan defisit transaksi berjalan (CAD).

"Perbaikan neraca transaksi berjalan belum bisa banyak diharapkan tahun depan karena pedagangan barang masih akan defisit," ujar Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Muhammad Faisal kepada Kontan.co.id, Rabu (26/12)


Selain itu, lanjut Faisal, faktor pengetatan moneter Amerika Serikat (AS) juga masih akan mempengaruhi kurs. Meski laju kenaikan suku bunga acuan The Federal Reserve tak akan sekencang tahun ini, dampak kebijakan moneter negeri Paman Sam tersebut juga masih patut diantisipasi oleh Bank Indonesia (BI).

Belum lagi, Ekonom Bank Permata Josua Pardede menambahkan, perang dagang AS dan China mash berpotensi berlanjut. "Setelah masa 90 hari berakhir, kemungkinan masing-masing negara masih akan mempertahankan ego dagangnya," katanya.

Berlanjutnya perang dagang tak hanya jadi sentimen buruk bagi rupiah, tapi juga sekaligus memukul ekspor sehingga berpotensi merembet ke kondisi CAD tahun depan. Apalagi, pertumbuhan ekonomi global diprediksi bakal melambat sehingga permintaan pun ikut tertekan.

Sementara, Analis Pasar Uang Bank Mandiri Reny Eka Putri mengingatkan, faktor politik terkait pemilihan umum 2019 juga akan turut menahan investor masuk ke aset-aset keuangan Indoesia, termasuk rupiah. Itu sebabnya ia menaksir, tahun depan nilai tukar rupiah secara rata-rata akan berada di level Rp 14.908 per dollar AS. Sementara akhir 2019, kurs akan berada pada posisi Rp 15.185 per dollar AS.

"Proyeksi kami masih sedikit di atas asumsi pemerintah dalam APBN 2019 yang sebesar Rp 15.000 karena risiko eksternal perang dagang dan perlambatan ekonomi global akan lebih menguntungkan mata uang dollar AS," terang Reny.

Senada, Faisal memproyeksi kurs rupiah tahun depan akan berada di level Rp 15.000-an. Adapun, Josua memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang Rp 14.500-Rp 15.500 per dollar AS sepanjang 2019.

"Asumsi kurs rupiah dalam APBN 2019 masih realistis meski sepertinya masih mempertimbangkan kenaikan suku bunga The Fed sebanyak 3 kali tahun depan. Kelihatannya, pemerintah masih akan mempertahankan asumsi ini, kecuali rupiah dan harga minyak mengarah ke arah yang lebih baik," tutur Josua.

Faisal pun menilai, penguatan rupiah belakangan tak akan bertahan lama hingga tahun depan. Sebab, defisit neraca perdagangan tak terlihat membaik dan defisit transaksi berjalan berpotensi makin melebar.

"Defisit perdagangan tahun depan mungkin menipis, tapi secara keseluruhan transaksi berjalan kami perkirakan masih defisit. Makanya, kalaupun ada penguatan rupiah sekarang, itu sifatnya belum permanen dan juga tidak terlalu kuat," tandas Faisal.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Yudho Winarto