Tahun Ajaran Baru Sekolah Kerek Penjualan Produk Sepatu, Industri Andalkan Stok Lama



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) mencermati adanya pertumbuhan penjualan produk alas kaki, khususnya sepatu sekolah, menjelang dimulainya tahun ajaran baru 2026. Namun, peningkatan permintaan tersebut belum diikuti oleh kenaikan produksi di tingkat pabrik.

Sekretaris Jenderal Aprisindo Yoseph Billie Dosiwoda menjelaskan, pelaku industri masih mengandalkan persediaan produk dari tahun sebelumnya untuk memenuhi kebutuhan pasar. Langkah ini diambil karena industri masih menghadapi kelebihan stok akibat lesunya penjualan pada sejumlah momentum penting sepanjang 2025.

"Daya beli masyarakat itu menurun pada Ramadhan, Idulfitri, hingga tahun ajaran baru pada tahun lalu. Jadi sekarang, overstok itu yang dipakai dan dijual untuk memenuhi kebutuhan pasar tahun ajaran sekolah di 2026 ini," jelas Billie kepada Kontan, Selasa (14/7/2026).


Menurut Billie, lemahnya daya beli masyarakat pada tahun lalu membuat penjualan alas kaki tidak mampu tumbuh optimal. Akibatnya, produsen menyimpan stok dalam jumlah besar yang kini dimanfaatkan untuk memenuhi lonjakan permintaan menjelang masuk sekolah.

Baca Juga: Harga Ayam dan Telur Mulai Naik, Program MBG Dorong Permintaan Peternak

Di sisi lain, konflik geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel pada awal tahun ini turut memengaruhi strategi pelaku usaha. Ketidakpastian global mendorong kenaikan harga bahan baku impor dan biaya produksi, sehingga perusahaan memilih bersikap lebih berhati-hati.

Kondisi tersebut membuat banyak pelaku industri menunda ekspansi produksi dan lebih mengutamakan penjualan stok yang masih tersedia.

Meski terjadi peningkatan penjualan sepatu sekolah pada tahun ajaran baru 2026, Billie menilai pertumbuhannya belum terlalu signifikan. Menurut dia, dampak pelemahan daya beli masyarakat yang terjadi sejak tahun lalu masih membayangi kinerja industri alas kaki hingga saat ini.

"Namun, tentu harapannya pelaku usaha domestik ke depannya bisa kembali meningkatkan produksi," tutur Billie.

Baca Juga: Kemendag Terima 1.911 Layanan Konsumen Semester I-2026, Ini Sektor Terbanyak Diadukan

Selain tantangan permintaan domestik, industri alas kaki nasional juga masih dibayangi maraknya peredaran produk impor ilegal dan sepatu tiruan di pasar dalam negeri. Fenomena tersebut dinilai menekan daya saing produsen lokal dan menghambat pemulihan industri.

Billie menegaskan bahwa upaya pemberantasan impor ilegal tidak cukup hanya dilakukan melalui operasi pasar maupun pembentukan satuan tugas (satgas). Menurutnya, diperlukan langkah penegakan hukum yang lebih tegas agar memberikan efek jera dan mampu menekan praktik impor ilegal secara permanen.

Dengan berbagai tantangan tersebut, pelaku industri berharap kondisi ekonomi dan daya beli masyarakat dapat terus membaik sehingga mendorong peningkatan produksi dan memperkuat industri alas kaki nasional dalam jangka panjang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News