Tahun lalu Toyota kuasai 90% pasar taksi Indonesia



JAKARTA. Kebutuhan taksi berupa kendaraan penumpang jenis sedan cukup tinggi di Indonesia. Dalam 11 bulan 2013, penjualan taksi berupa sedan mencapai 13.018 unit atau rata-rata 1.183 unit setiap bulan.

Berdasarkan data penjualan dari anggota GAIKINDO, produsen yang menyediakan produknya untuk taksi tahun lalu adalah Toyota (Limo atau Vios, Etios dan Mark X), Kia (Cerato), Proton (Wira), Nissan (Almera), Hyundai (Ecxel III) dan Chevrolet (Kalos dan Lova). Pada tahun lalu, Proto tidak lagi menjual produk untuk taksi sama sekali.

Dari semua merek tersebut baru Vios yang diproduksi Indonesia pada akhir tahun lalu. Sisanya diimpor. Vios bersama Limo pada tahap awal, hanya bisa diproduksi 1.000 unit perbulan. Berarti  kebutuhan sedan untuk taksi belum bisa dipenuhi oleh produsen atau APM yang ada di Indonesia saat ini.


Toyota adalah pemasok taksi terbesar di Indonesia. Kendati demikian, Limo atau Vios belum bisa memenuhi kebutuhan perusahaan taksi. Karena itulah, beberapa permintaan perusahaan taksi lain, dipenuhi dengan sedan Etios yang diimpor langsung dari India. Bahkan harus mengganti mesin dari 1,2 liter dengan 1,5 liter.

Saat ini, perusahaan taksi yang sudah menggunakan Etios sedan adalah Golden Taxi dari Surabaya. Sedangkan dari Jakarta, berdasarkan cerita supir kepada KompasOtomotif adalah Taxiku.

“Ya, kita pernah mengimpor Etios sedan pada IIMS lalu untuk taksi. Perusahaan yang  menggunakan Etios karena tidak kebagian Limo,” jelas Rouli Sijabat, Manajer Humas Toyota Astra Motor, ketika KompasOtomotif memperlihatkan foto Golden Taxi Surabaya menggunakan sedan Etios. 

Selama 2013, Toyota berhasil menjual Etios sedan 2.194 unit kepada beberapa taksi di Indionesia. Sedangkan Limo atau kembaran dari Vios, mencapai 9.431 unit atau memperoleh 73 persen. Kalau digabungkan perusahaan taksi yang menggunakan produk Toyota mencapai 90 persen. Sisanya dibagi oleh Nissan, Kia, Chevrolet dan Hyundai. (Zulkifli BJ)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Hendra Gunawan