Tahun Naga Kayu Telah Tiba, Komoditas Emas dan Nikel Berpotensi Cuan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tahun Kelinci Air sudah berganti menjadi tahun Naga Kayu yang kerap dianggap sebagai tahun yang bergejolak.

Ahli Feng Shui, Xiang Yi mengatakan, Tahun Naga kerap mencerminkan adanya perubahan yang menyebabkan terjadinya gejolak dan ketidakpastian. 

Lalu bagaimana dengan prospek komoditas seperti emas, nikel, dan tembaga?


Baca Juga: Strategi Trading & Investasi Beserta Saham Pilihan pada Pekan Pemilu & Pilpres

Presiden Komisioner HFX International Berjangka Sutopo Widodo melihat, komoditas emas paling diuntungkan dan berpotensi cuan. Lantaran membeli emas selama liburan Tahun Baru Imlek merupakan tradisi di China dan pembelian trennya terus meningkat  bahkan ketika hargamencapai titik tertinggi baru sepanjang masa.

“Laporan tersebut mencatat bahwa semua tanda menunjukkan penjualan emas konsumen sangat kuat tahun ini, sehingga komoditas emas sangat menguntungkan di Tahun Naga Kayu,” ujar Sutopo kepada Kontan.co.id, Jumat (9/2). 

Menurut dia, dengan harga emas yang lebih tinggi sebenarnya menciptakan insentif tambahan bagi masyarakat untuk membeli, karena mereka melihat logam mulia sebagai aset yang mengalami apresiasi. 

Baca Juga: Masuk Tahun Naga Kayu, Cek Komoditas yang Diprediksi Paling Menguntungkan

Namun demikian, Sutopo mengatakan komoditas tembaga tidak begitu cuan di Tahun Naga Kayu ini, karena komoditas tersebut lebih dipengaruhi oleh perkembangan dunia industri. 

Dia menyebutkan, tembaga berjangka turun hingga di bawah $3,79 per pon, melemah tajam dari level tertinggi satu bulan di US$3,9 yang dicapai pada tanggal 30 Januari 2024, di tengah tekanan dari penguatan dolar dan sentimen industri yang pesimistis di konsumen utama China.

Selain itu, dia menjelaskan sentimen lainnya yang membuat komoditas tembaga tidak menguntungkan di Tahun Naga Kayu ini.

Diantaranya yaitu, akibat data tenaga kerja yang kuat di Amerika Serikat (AS) dan pernyataan hawkish dari Ketua The Fed Powell mengangkat dolar yang digunakan untuk menentukan harga tembaga berjangka. Sehingga menekan daya beli importir utama dan meningkatkan acuan biaya pinjaman yang penting bagi aktivitas industri. 

“Kemudian tantangan makroekonomi yang terus berlanjut pada perekonomian Tiongkok terus menghambat prospek logam dasar,” kata Sutopo. 

Sutopo menyebutkan, data Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur resmi menunjukkan kontraksi keempat berturut-turut di sektor tembaga selama bulan Januari 2024.

Baca Juga: Harga Jual Kembali Uang Baru China Berlambang Naga Melesat

Perkembangan ini memicu penurunan terus-menerus pada harga premium tembaga Yangshan karena pabrik-pabrik menahan diri untuk membeli logam tersebut.

“Sementara persediaan di gudang-gudang besar China melonjak lebih dari 120% tahun ini menjadi hampir 70.000 ton,” ujarnya. 

Lebih lanjut, Sutopo menyebutkan, harga tembaga turun 0,10 US$/LB atau 2,48% sejak awal tahun 2024, menurut perdagangan contract for Difference  yang melacak pasar acuan komoditas ini.

Untuk itu, dia memperkirakan harga tembaga akan diperdagangkan sebesar US$ 3,79 per LB pada akhir kuartal ini, dan akan diperdagangkan US$ 3,59 per LB dalam waktu 12 bulan.

Secara keseluruhan, lesunya kinerja industri dan inventaris yang belum terpakai membuat harga tembaga ini sulit untuk menguat tajam, sampai kondisi membaik,” kata dia. 

Baca Juga: Tembus US$ 48.000, Bitcoin Kembali Naik Saat Perayaan Imlek 2024

Sementara itu, Sutopo melihat bahwa komoditas nikel bisa berpotensi cuan pada Tahun Naga Kayu ini. Hal tersebut berkaca dari harga Nikel berjangka yang masih stabil di kisaran $16.000 per ton. 

Namun demikian, komoditas nikel diprediksi akan mengalami sejumlah tantangan pada tahun ini.

Pasalnya, menurut perkiraan International Nickel Study Group, pasokan nikel akan melampaui permintaan sebesar 239.000 metrik ton pada tahun 2024.

Kemudian, menurut perdagangan Contract for Difference yang melacak pasar acuan untuk komoditas nikel, mencatat bahwa harganya turun US$ 715 per metrik ton atau 4,37% sejak awal tahun 2024. 

Sutopo pun memprediksi harga nikel akan diperkirakan seharga US$ 15577,45 per metrik ton pada akhir kuartal ini,dan akan diperdagangkan US$ di 14341.24 per metrik ton dalam waktu 12 bulan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Yudho Winarto