Taipan Tambang Australia Borong Saham SpaceX Senilai Lebih US$ 1 Miliar



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Orang terkaya di Australia sekaligus taipan pertambangan, Gina Rinehart, dikabarkan mengambil porsi kepemilikan senilai lebih dari US$ 1 miliar dalam penawaran umum perdana saham (IPO) SpaceX yang mencetak rekor dengan nilai mencapai US$ 75 miliar.

Laporan tersebut pertama kali diungkap oleh The Wall Street Journal pada Senin (15/6/2026), mengutip sumber yang mengetahui transaksi tersebut.

Meski demikian, perusahaan milik Rinehart, Hancock Prospecting, tidak mengonfirmasi besaran investasi tersebut. Dalam pernyataannya, perusahaan hanya menyebut bahwa investasi di SpaceX merupakan langkah strategis yang signifikan.


Rinehart mengatakan, "Ini merupakan investasi yang signifikan bagi Hancock, dan kami senang telah memperoleh alokasi saham dalam IPO yang sangat diminati dan mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed)."

Baca Juga: Kapal LNG India Mulai Melintas Selat Hormuz Pasca Kesepakatan Damai AS-Iran

Ia juga memuji pendiri SpaceX, Elon Musk, karena dinilai berhasil membangun dua perusahaan yang kini masuk dalam jajaran 10 perusahaan terbesar di dunia.

Menurut Rinehart, "Kami memandang SpaceX sebagai perusahaan yang langka, dipimpin oleh sosok yang benar-benar luar biasa, memiliki keunggulan teknis, beroperasi di sektor-sektor yang sangat penting, dan mempunyai potensi jangka panjang."

Hancock Prospecting Incar Sinergi Mineral Kritis dengan SpaceX

Investasi tersebut tidak hanya dipandang sebagai peluang finansial, tetapi juga membuka potensi kerja sama bisnis antara Hancock Prospecting dan SpaceX, khususnya dalam penyediaan mineral kritis yang dibutuhkan industri teknologi canggih.

Chief Executive Officer (CEO) Hancock Prospecting, Garry Korte, mengatakan perusahaan melihat peluang hubungan saling menguntungkan di masa depan.

Ia menyatakan, "Ke depan, kami juga melihat adanya kemungkinan terciptanya kerja sama yang saling menguntungkan antara SpaceX dan investasi besar Hancock Prospecting di sektor mineral kritis, seiring meningkatnya permintaan terhadap material dan infrastruktur yang dibutuhkan untuk mendukung teknologi maju."

Hancock Prospecting sendiri merupakan investor penting di berbagai perusahaan penghasil mineral strategis, termasuk perusahaan tanah jarang asal Amerika Serikat MP Materials dan Rare Earths Americas, serta produsen tanah jarang Australia Lynas Rare Earths dan perusahaan litium Liontown Resources.

Dokumen perusahaan yang dirilis bulan lalu juga menunjukkan bahwa Hancock memperbesar kepemilikannya pada aset-aset di sektor pertahanan, emas, dan tanah jarang dalam portofolio investasi di Amerika Serikat yang bernilai sekitar US$ 3,3 miliar.

Investasi Langsung Menguntungkan Berkat Lonjakan Saham SpaceX

Keputusan Gina Rinehart berinvestasi di SpaceX langsung membuahkan hasil positif. Pada hari pertama perdagangan, saham perusahaan tersebut melonjak sekitar 19%, sehingga kapitalisasi pasarnya melampaui US$ 2 triliun.

Baca Juga: Bursa Saham Eropa Cetak Rekor Tertinggi Setelah AS-Iran Capai Kesepakatan Perdamaian

Kenaikan tersebut menjadikan SpaceX sebagai perusahaan terbesar keenam di Amerika Serikat berdasarkan nilai pasar, didorong antusiasme investor terhadap kerajaan bisnis Elon Musk yang mencakup industri roket, satelit, hingga kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Rinehart Puji Elon Musk dan Kritik Birokrasi

Selain mengapresiasi kemampuan Elon Musk sebagai pengusaha, Rinehart juga memuji langkah Musk dalam memangkas jumlah pegawai pemerintah federal Amerika Serikat melalui Department of Government Efficiency (DOGE) di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump.

Menurut Rinehart, "SpaceX merupakan contoh nyata lainnya mengapa dunia membutuhkan lebih banyak semangat kewirausahaan, lebih banyak para pembangun, dan jauh lebih sedikit birokrasi."

Dalam beberapa tahun terakhir, Rinehart juga semakin aktif dalam dunia politik Australia. Ia diketahui mendorong sebagian kalangan pemilih kaya di negaranya untuk mengalihkan dukungan dari koalisi konservatif Liberal-National kepada partai populis anti-imigrasi One Nation.