Taiwan Bantah AS Pecah Paket Senjata US$ 14 Miliar Jadi Beberapa Tahap



KONTAN.CO.ID - Taiwan menyatakan belum menerima informasi bahwa Amerika Serikat (AS) berencana memecah potensi penjualan senjata senilai US$ 14 miliar menjadi beberapa tahap.

Taipei menegaskan komitmen Washington untuk membantu memperkuat pertahanan Taiwan tidak berubah.

Melansir Reuters, Menteri Pertahanan Taiwan Wellington Koo mengatakan hal tersebut dalam sidang parlemen pada Selasa (6/10/2026).


Baca Juga: Euro Dekati Level Terendah 17 Bulan, Dolar AS Makin Perkasa

Pernyataan ini muncul di tengah laporan bahwa AS mempertimbangkan pemecahan paket penjualan senjata untuk mengurangi ketegangan dengan China.

"Kami menghormati proses peninjauan penjualan senjata oleh AS. Kami juga terus berkoordinasi dengan Amerika Serikat. Saat ini, kami belum menerima informasi mengenai apa yang disebut sebagai penjualan dalam beberapa tahap," kata Koo.

Koo menambahkan, AS berulang kali menegaskan komitmennya untuk membantu Taiwan memperkuat kemampuan pertahanan diri tidak mengalami perubahan.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya menahan persetujuan atas paket penjualan senjata baru untuk Taiwan.

Langkah tersebut dilakukan ketika Washington berupaya mempertahankan hubungan dengan Presiden China Xi Jinping serta menjaga gencatan perdagangan yang masih rapuh antara kedua negara.

Pada Desember lalu, Trump menyetujui paket penjualan senjata senilai US$ 11 miliar untuk Taiwan.

Kemudian pada Mei, setelah bertemu Xi di Beijing, Trump mengatakan dirinya menunda paket berikutnya dan menyebut penjualan senjata tersebut sebagai "alat negosiasi yang sangat baik".

China, yang menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya, berulang kali mendesak AS menghentikan penjualan senjata kepada Taipei.

Sebelumnya, pejabat Taiwan mengatakan Washington dapat membagi paket penjualan senjata tersebut menjadi beberapa bagian untuk mengurangi risiko memicu ketegangan dengan Beijing.

Baca Juga: Harga Diesel AS Melonjak, Trump Perluas Akses Solar Bebas Pajak

AS Jadi Pendukung Utama Taiwan

Departemen Luar Negeri AS belum memberikan tanggapan langsung terhadap permintaan komentar terkait rencana tersebut.

Berdasarkan undang-undang AS, Washington berkewajiban menyediakan sarana bagi Taiwan untuk mempertahankan diri.

AS juga menjadi mitra internasional terpenting Taiwan meskipun kedua pihak tidak memiliki hubungan diplomatik formal.

Koo mengatakan, Taiwan dan AS memiliki hubungan yang erat di bidang militer dan pertahanan.

"Hal ini juga akan membantu upaya kesiapan perang kami saat ini dan transformasi angkatan bersenjata," ujarnya.

Hubungan Taiwan-AS menjadi perhatian pada pekan ini setelah Menteri Luar Negeri Taiwan Lin Chia-lung dan mantan Presiden Taiwan Tsai Ing-wen melakukan kunjungan ke AS.

Baca Juga: Harga Emas Spot Stabil Selasa (6/10) Pagi, Dolar AS yang Menguat Menahan Kenaikan

Bagi Tsai, kunjungan tersebut menjadi perjalanan pertamanya ke AS sejak meninggalkan jabatan presiden dua tahun lalu.

Menanggapi kunjungan tersebut, juru bicara Departemen Luar Negeri AS mengatakan AS dan masyarakat internasional secara keseluruhan mendapat manfaat dari hubungan dengan Taiwan, mengingat kekuatan teknologinya serta statusnya sebagai negara demokrasi yang dinamis.

Namun, China kembali menegaskan penolakannya terhadap hubungan resmi antara Taiwan dan AS.

Kedutaan Besar China di Washington menyatakan, pihaknya "dengan tegas menentang segala bentuk interaksi resmi" antara Taiwan dan AS.