Taiwan Peringatkan Eropa soal Risiko Ketergantungan Pasokan dari China



KONTAN.CO.ID - Menteri Luar Negeri Taiwan Lin Chia-lung memperingatkan Uni Eropa (UE) mengenai risiko ketergantungan terhadap pemasok asal China.

Menurutnya, ketergantungan tersebut bukan hanya menimbulkan risiko ekonomi, tetapi juga dapat mengancam kebebasan dan kedaulatan Eropa.

Peringatan itu disampaikan Lin dalam pidatonya di Warsaw Security Forum, Polandia, Selasa (13/10/2026), menjelang pertemuan para pemimpin UE di Brussels pada Kamis mendatang. Perdagangan dengan China menjadi salah satu agenda utama pertemuan tersebut.


Baca Juga: Rusia Siap Dongkrak Ekspor Solar hingga 3,5 Juta Ton per Bulan

Para pemimpin UE dijadwalkan membahas upaya mengurangi defisit perdagangan blok tersebut sekaligus memitigasi risiko ketergantungan berlebihan terhadap Beijing, terutama pada sektor-sektor strategis.

“Karena ideologi otoriter China pada dasarnya tidak sejalan dengan demokrasi Eropa, ketergantungan terhadap China bukan sekadar risiko ekonomi, melainkan juga ancaman terhadap kebebasan dan kedaulatan Eropa,” ujar Lin dalam pidatonya.

Ia menambahkan, ketergantungan terhadap rantai pasok China dapat membatasi ruang gerak Eropa dalam menentukan kebijakannya sendiri.

“Eropa yang dikendalikan melalui rantai pasoknya akan menjadi Eropa yang telah menyerahkan sebagian kebebasannya,” kata Lin.

Kedutaan Besar China di Warsawa belum segera menanggapi permintaan komentar melalui surat elektronik.

Baca Juga: Penjualan Louis Vuitton Anjlok, Pemulihan Industri Barang Mewah Terancam

Beijing selama ini kerap mengecam kunjungan pejabat Taiwan ke luar negeri dan menolak berdialog dengan Presiden Taiwan Lai Ching-te, yang oleh China disebut sebagai tokoh separatis.

Di sisi lain, Lin menilai hubungan perdagangan dengan Taiwan dapat memberikan manfaat bagi Eropa. Ia menyebut kedua pihak memiliki kesamaan nilai, antara lain demokrasi, kebebasan, hak asasi manusia, dan supremasi hukum.

“Model Taiwan telah membantu mendorong inovasi dan kemakmuran di Silicon Valley, dan model tersebut juga dapat memberikan manfaat serupa bagi Eropa,” ujarnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, Taiwan berupaya mempererat hubungan dengan negara-negara Eropa, terutama sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.

Langkah tersebut berlangsung di tengah perbedaan pandangan antara Eropa dan China terkait ketidakseimbangan perdagangan serta sikap Beijing terhadap Rusia.

Kunjungan pejabat tinggi Taiwan ke Eropa sebelumnya relatif jarang dilakukan karena keberatan China.

Baca Juga: Nobel Ekonomi 2026 Diraih Robert Hall dan Michael Woodford, Ini Kontribusinya

Namun, Lin telah beberapa kali mengunjungi kawasan tersebut sejak menjabat lebih dari dua tahun lalu, termasuk ke Polandia.

Polandia, seperti sebagian besar negara lainnya, tidak memiliki hubungan diplomatik formal dengan Taiwan, yang diklaim sebagai bagian dari wilayah China.

Pemerintahan Taiwan yang dipilih secara demokratis menolak klaim kedaulatan Beijing dan menyatakan memiliki hak untuk menjalin hubungan dengan negara lain secara setara.