KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Taiwan menyatakan komitmen untuk memperkuat kerja sama energi dengan Amerika Serikat (AS) melalui rencana pembelian gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) dari proyek pipa gas Alaska. Presiden AS Donald Trump mengatakan Taiwan telah sepakat membeli 30% pasokan LNG dari proyek tersebut. Trump menyampaikan hal itu dalam sebuah kampanye di Alaska pada Selasa (13/10/2026). Namun, ketentuan transaksi, termasuk apakah kesepakatan final telah ditandatangani, belum dijelaskan secara terperinci. Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick, yang turut hadir dalam acara yang diselenggarakan Komite Nasional Partai Republik tersebut, mengatakan Taiwan telah berkomitmen menginvestasikan US$ 4,4 miliar untuk pengembangan proyek pipa gas itu.
Sementara itu, Kementerian Perekonomian Taiwan yang bertanggung jawab atas kebijakan energi belum memberikan komentar langsung mengenai pernyataan Trump.
Baca Juga: Inflasi AS Diprediksi Melonjak 3,6% pada September 2026, Harga BBM Jadi Pemicu Perdana Menteri Taiwan Cho Jung-tai menanggapi pernyataan tersebut dengan menegaskan bahwa pemerintah memiliki tanggung jawab untuk menjaga pasokan energi nasional. "Tugas pemerintah adalah menstabilkan seluruh pasokan energi dan membangun ketahanannya, seperti yang dilakukan pemerintah di seluruh dunia," kata Cho kepada wartawan.
Taiwan Tingkatkan Pembelian Gas AS
Pernyataan Trump muncul setelah pejabat Taiwan pada Februari lalu menyampaikan rencana untuk meningkatkan pembelian gas alam dari AS. Taiwan menargetkan gas AS mencakup sekitar sepertiga dari total impor gas alam pulau tersebut pada 2026, sekaligus mengurangi pembelian dari negara lain. Perusahaan energi milik negara Taiwan, CPC Corp, sebelumnya telah menandatangani kesepakatan dengan Alaska Gasline Development Corp pada tahun lalu. Kesepakatan tersebut mencakup pembelian LNG sekaligus investasi dalam proyek pipa gas Alaska. Gubernur Alaska juga menyampaikan pada tahun lalu bahwa Taiwan telah menandatangani surat pernyataan minat (letter of intent) untuk membeli 6 juta ton LNG per tahun dari proyek tersebut. Presiden Taiwan Lai Ching-te ketika itu mengatakan investasi tersebut akan membantu menjamin keamanan energi Taiwan. Meski demikian, pernyataan terbaru Trump belum memastikan apakah kesepakatan pembelian LNG dan investasi Taiwan telah mencapai tahap final.
Proyek Alaska LNG Targetkan Ekspor 20 Juta Ton per Tahun
Pada tahun lalu, Sekretaris Jenderal Kantor Kepresidenan Taiwan Pan Men-an mengunjungi lokasi proyek LNG yang direncanakan di Alaska. Pemerintahan Trump secara aktif mendorong negara-negara mitra di Asia untuk mempertimbangkan proyek tersebut sebagai salah satu alternatif sumber pasokan energi. Jika terealisasi, proyek Alaska LNG diperkirakan mampu mengekspor hingga 20 juta ton gas alam cair per tahun. Hingga saat ini, proyek tersebut telah mengantongi kesepakatan yang mencakup potensi pembelian sekitar 13 juta ton LNG per tahun dari sejumlah pembeli di Asia dan perusahaan energi asal Prancis, TotalEnergies.
Baca Juga: Rusia Serang Kyiv dengan Rudal Balistik, Zelensky Tuduh Langgar Gencatan Senjata Pengembang proyek masih membutuhkan kesepakatan tambahan untuk sekitar 3 juta ton LNG per tahun. Kesepakatan tersebut juga perlu diubah menjadi kontrak yang mengikat secara hukum agar proyek dapat memperoleh pembiayaan. Proyek Alaska LNG berpotensi membuka jalur pasokan LNG asal AS menuju pasar Asia, termasuk Taiwan, tanpa harus melewati Terusan Panama atau memutari Tanjung Harapan di Afrika. Jalur tersebut berpotensi memangkas waktu pengiriman dan biaya transportasi.
Bagi Taiwan, peningkatan impor energi dari AS juga menjadi bagian dari upaya memperluas hubungan perdagangan dengan Washington. Taiwan telah berkomitmen meningkatkan pembelian berbagai produk AS, termasuk energi, untuk mengurangi surplus perdagangan yang selama ini menjadi salah satu sumber ketegangan dengan pemerintah AS.
Korea Selatan Juga Dikaitkan dengan Investasi Alaska LNG
Selain Taiwan, Korea Selatan juga disebut berpotensi berpartisipasi dalam pengembangan proyek Alaska LNG. Pada September 2026, Trump mengatakan Korea Selatan telah sepakat berinvestasi dalam proyek pipa gas tersebut yang diperkirakan bernilai US$ 54 miliar. Namun, pemerintah Korea Selatan menyatakan bahwa kesepakatan investasi itu belum dapat dianggap final.