KONTAN.CO.ID - Taiwan menyatakan terus melakukan pembicaraan dengan Amerika Serikat (AS) terkait penjualan senjata, menyusul pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Washington pekan lalu. Melansir
Reuters, Menteri Pertahanan Taiwan Wellington Koo mengatakan, pemerintah Taiwan juga telah berulang kali menerima penjelasan dari pihak AS bahwa kebijakan Washington terhadap Taiwan tidak berubah setelah pertemuan tersebut.
Baca Juga: Zelenskiy Sebut Korea Utara Siapkan 10.000 Pasukan Tambahan ke Rusia "Kami juga terus berdiskusi dengan pihak AS terkait berbagai kasus penjualan senjata yang sedang berlangsung. Setiap kasus membutuhkan kerja sama konkret. Sepengetahuan saya, sejauh ini kami belum menerima pemberitahuan mengenai perubahan apa pun," ujar Koo kepada wartawan di parlemen Taiwan, Selasa (29/9/2026). AS merupakan pemasok senjata utama Taiwan, meskipun Washington dan Taipei tidak memiliki hubungan diplomatik formal. China secara konsisten menentang penjualan senjata AS kepada Taiwan dan meminta Washington menghentikan kebijakan tersebut. Sebelumnya pada Mei, setelah bertemu Xi di Beijing, Trump mengatakan paket penjualan senjata baru untuk Taiwan senilai sekitar US$ 14 miliar masih ditahan. Namun, setelah bertemu Xi di Washington pekan lalu, Trump hanya mengatakan bahwa pemimpin China tersebut memahami posisinya mengenai Taiwan.
Baca Juga: Bursa Australia Melemah Selasa (29/9), Jelang Keputusan Suku Bunga RBA Taiwan sendiri masih menghadapi antrean pengiriman sejumlah persenjataan yang telah dipesan sebelumnya dari AS. Salah satu yang mengalami penundaan adalah pesanan 66 jet tempur F-16V buatan Lockheed Martin yang disepakati pada 2019. F-16V tersebut dilengkapi avionik, persenjataan dan sistem radar yang lebih modern. Kemampuan tersebut ditujukan untuk meningkatkan kemampuan pertahanan Taiwan, termasuk dalam menghadapi pesawat tempur China seperti J-20. Media Taiwan melaporkan dua unit F-16V pertama saat ini berada di Hawaii dan menunggu penerbangan pengiriman ke Taiwan. Koo tidak memberikan rincian mengenai jadwal pengiriman. Ia hanya mengatakan proses produksi telah mencapai tahap yang memungkinkan pengiriman dilakukan. Menurut dia, terdapat langkah kompensasi terkait keterlambatan tersebut.
Baca Juga: OpenAI Batalkan Peluncuran GPT-6.1 Astra karena Masalah Keamanan "Kami akan terus berkoordinasi dengan pihak AS" mengenai pengiriman tersebut, kata Koo. Lockheed Martin belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar
Reuters. Pembahasan penjualan senjata tersebut berlangsung setelah pertemuan Trump dan Xi yang tidak menghasilkan perubahan terbuka terkait kebijakan AS terhadap Taiwan.
Dalam pertemuan tersebut, isu Taiwan menjadi salah satu persoalan yang tetap menjadi perhatian dalam hubungan AS-China. Sebelumnya, Wakil Menteri Luar Negeri Taiwan Francois Wu mengatakan Taiwan terus berkomunikasi dengan Washington mengenai penjualan senjata. Ia juga menyebut dukungan terhadap kemampuan pertahanan Taiwan sebagai bagian dari kepentingan AS. Kebijakan AS terhadap Taiwan juga memiliki dasar hukum melalui Taiwan Relations Act 1979, yang menjadi salah satu landasan hubungan tidak resmi Washington dengan Taipei dan dukungan terhadap kemampuan pertahanan Taiwan.
Baca Juga: Kasus Manchester City dan Negreira Barcelona, Mengapa Hukumannya Berbeda?