KONTAN.CO.ID - TAIPEI. Pemerintah Taiwan mengklaim berhasil mengusir kapal riset China yang diduga melakukan aktivitas survei ilegal di perairan dekat pulau tersebut. Insiden ini kembali memanaskan ketegangan di Selat Taiwan, di tengah meningkatnya aktivitas maritim Beijing yang dianggap Taipei sebagai bentuk tekanan terselubung. Otoritas penjaga pantai Taiwan pada Senin (11/5/2026) menyatakan kapal riset China bernama Tongji terdeteksi berada sekitar 29 mil laut di tenggara ujung selatan Taiwan pada Kamis pekan lalu.
Meski berada di luar zona perairan terlarang, kapal itu disebut melakukan aktivitas mencurigakan.
Baca Juga: China Gelar Latihan Militer di Sekitar Taiwan, Peringatan Tegas ke Taipei Menurut penjaga pantai Taiwan, kapal tersebut terlihat menurunkan sejumlah kabel ke laut yang diduga digunakan untuk memasang instrumen penelitian ilmiah. Taipei menilai kegiatan itu merupakan operasi survei ilegal di wilayah perairannya. Sebagai respons, Taiwan mengerahkan kapal penjaga pantai untuk mendekati Tongji. Kapal Taiwan bahkan melakukan manuver gelombang laut guna mengganggu operasi kapal China tersebut, sambil terus menyiarkan peringatan agar aktivitas dihentikan dan kapal segera meninggalkan wilayah itu. Setelah mendapat tekanan, kapal Tongji dilaporkan menarik kembali alat surveinya dan mengubah arah pelayaran menjauh dari perairan dekat Taiwan. Penjaga pantai Taiwan mengatakan pihaknya terus membayangi kapal tersebut hingga Senin, sebelum akhirnya kapal China itu benar-benar bergerak menjauh dari kawasan sekitar pulau. Taiwan juga menuding kapal-kapal riset China kerap mengabaikan hukum internasional dengan melakukan survei tanpa izin. Taipei mendesak Beijing menghentikan praktik tersebut.
Baca Juga: Gempa Magnitudo 7,0 Guncang Taiwan, Bangunan Bergoyang di Taipei Hingga kini, Kantor Urusan Taiwan China belum memberikan tanggapan resmi atas insiden tersebut. Media pemerintah China sebelumnya melaporkan bahwa Tongji merupakan kapal riset canggih yang baru dioperasikan tahun lalu. Kapal itu disebut mampu beroperasi dalam segala cuaca dan dilengkapi kendaraan bawah laut tanpa awak, laboratorium, hingga sistem otomatis. Selain untuk penelitian geologi laut, oseanografi, kimia laut, dan biologi laut, kapal tersebut juga diklaim dapat digunakan untuk proyek rekayasa lepas pantai seperti pemasangan pipa bawah laut.
Taiwan menilai meningkatnya kehadiran kapal sipil China di sekitar wilayahnya merupakan bagian dari strategi grey zone atau tekanan nonmiliter. Strategi itu dilakukan Beijing untuk menekan Taiwan secara terus-menerus tanpa memicu konflik terbuka, sekaligus menguras sumber daya keamanan Taiwan.
Baca Juga: Gempa Magnitudo 6,1 Guncang Taiwan Tenggara, Getaran Terasa hingga Ibu Kota Taipei Selain kapal sipil, China juga rutin mengirim kapal perang dan pesawat militernya ke sekitar Taiwan. Beijing menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya, sementara pemerintah di Taipei menolak klaim tersebut.