KONTAN.CO.ID - Pemerintah Taiwan meningkatkan kewaspadaan terhadap lonjakan aktivitas militer China di sekitar wilayahnya, meskipun Beijing secara paralel menyuarakan pesan perdamaian dalam komunikasi dengan pihak oposisi Taiwan. Melansir
Reuters Jumat (10/4/2026), Menteri Pertahanan Taiwan Wellington Koo menyebut bahwa kemampuan militer China terus berkembang dan ancaman terhadap Taiwan semakin serius. Ia menekankan pentingnya menunjukkan komitmen pertahanan kepada sekutu seperti Amerika Serikat (AS).
Baca Juga: Harga Emas Menuju Kenaikan Mingguan Ketiga Jumat (10/4), Dipicu Prospek Suku Bunga AS Situasi ini menjadi semakin sensitif karena oposisi Taiwan dari Kuomintang (KMT) dinilai menghambat peningkatan anggaran pertahanan yang didorong Washington. Dua pejabat keamanan Taiwan mengungkapkan bahwa China mengerahkan hampir 100 kapal angkatan laut dan penjaga pantai di kawasan Laut China Selatan dan Laut China Timur dalam sepekan terakhir, jumlah yang jauh di atas rata-rata normal sekitar 50–60 kapal. Lonjakan ini dinilai tidak biasa, terutama karena periode ini umumnya bukan musim intensif latihan militer China. Sejumlah sumber keamanan lain menyebut peningkatan tersebut bisa menjadi “normal baru” dari strategi militer Beijing.
Baca Juga: Harga Tembaga Sentuh Level Tertinggi 3 Pekan Jumat (10/4), Cermati Negosiasi AS-Iran China sendiri memandang Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan untuk menguasai pulau tersebut. Sebaliknya, pemerintah Taiwan menegaskan bahwa masa depan pulau itu hanya dapat ditentukan oleh rakyatnya. Di tengah meningkatnya tekanan militer, Presiden China Xi Jinping bertemu dengan Ketua KMT Cheng Li-wun di Beijing. Dalam pertemuan itu, Xi menyatakan bahwa masyarakat di kedua sisi Selat Taiwan menginginkan perdamaian dan kerja sama, namun menegaskan bahwa China “tidak akan mentolerir” kemerdekaan Taiwan.
Baca Juga: Bursa Korea Selatan Catat Kinerja Terbaik 5 Tahun pada Jumat (10/4), Ini Sentimennya Selain aktivitas laut, Taiwan juga mencatat peningkatan kehadiran militer China di udara. Kementerian Pertahanan Taiwan melaporkan tujuh pesawat militer dan tujuh kapal perang China beroperasi di sekitar pulau dalam 24 jam terakhir. Kepala Dewan Urusan Kelautan Taiwan, Kuan Bi-ling, bahkan secara tidak biasa mempublikasikan posisi dan nama kapal perang China di sekitar wilayah tersebut untuk meningkatkan kesadaran publik dan internasional. Langkah ini diambil di tengah kunjungan pemimpin oposisi ke China, guna menunjukkan situasi keamanan yang dihadapi Taiwan.
Di sisi lain, China juga menetapkan zona udara “terbatas” di sepanjang pantai timurnya sejak 27 Maret hingga 5 Mei, menjelang rencana pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Xi Jinping.
Baca Juga: Bursa Australia Catat Kinerja Terbaik Sejak 2022 Jumat (10/4), Investor Masih Waspada Kepala Biro Keamanan Nasional Taiwan Tsai Ming-yen menilai, langkah tersebut kemungkinan digunakan untuk memantau aktivitas militer udara AS di kawasan Indo-Pasifik, sekaligus mengirim sinyal politik menjelang pertemuan tingkat tinggi kedua negara. Kondisi ini mencerminkan meningkatnya ketegangan di kawasan, di tengah fokus global yang juga tertuju pada konflik di Timur Tengah.