KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerataan akses digital masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Terutama di tengah kesenjangan infrastruktur antara wilayah perkotaan dan daerah underserved. Di sisi lain, kebutuhan akan konektivitas yang cepat, stabil, dan terjangkau terus meningkat seiring percepatan transformasi digital di berbagai sektor. Seiring percepatan pembangunan infrastruktur
broadband, teknologi seperti
fiber to the home (FTTH), fixed wireless access (FWA), serta layanan
mobile (seluler) menjadi elemen penting dalam mendukung konektivitas yang andal dan merata.
Namun, masing-masing teknologi memiliki karakteristik, keunggulan, dan tantangan yang berbeda, sehingga membutuhkan pendekatan yang komprehensif. Maka, Institut Teknologi Bandung (ITB) mempertemukan berbagai perspektif, mulai dari akademisi, regulator, pelaku industri, hingga penyedia teknologi. Pendekatan ini diharapkan dapat memberikan gambaran menyeluruh mengenai peran tiap teknologi dalam ekosistem telekomunikasi nasional. Ketua Pusat Studi Kebijakan Industri dan Regulasi Telekomunikasi Indonesia STEI ITB, Ian Josef Matheus Edward menjelaskan, tidak ada satu teknologi yang dapat menjadi solusi tunggal dalam memperluas akses digital.
Baca Juga: Industri Data Center Lima Tahun Terakhir Tumbuh Signifikan, Ini Pendorongnya “FTTH menawarkan kapasitas dan stabilitas terbaik, sementara FWA memberikan fleksibilitas dan kecepatan
deployment. Keduanya perlu diposisikan sebagai solusi yang saling melengkapi,” ujar dia, dalam keterangannya, Selasa (7/4). Dari sisi regulator, Direktur Strategi dan Kebijakan Infrastruktur Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Denny Setiawan menegaskan pentingnya pemerataan pembangunan. “Kami mendorong agar pengembangan layanan broadband tidak hanya terfokus di wilayah padat, tetapi juga menjangkau daerah
underserved,” jelasnya. Sementara itu,
Chief Technology Officer MyRepublic Indonesia, Hendra Gunawan menilai, FTTH dan FWA bukan untuk saling menggantikan, melainkan saling melengkapi. Menurutnya, FTTH tetap menjadi backbone utama, sementara FWA berperan mempercepat penetrasi di wilayah yang belum terjangkau jaringan fiber.
Dari sisi teknologi,
Telecom Solutions Architect & Business Consultant ZTE Indonesia, Iman Hirawadi menyebut, teknologi FWA semakin matang dengan dukungan 4G dan 5G. Tantangan berikutnya adalah mencapai skala ekonomi agar perangkat semakin terjangkau. Melengkapi diskusi, Sekretaris Jenderal Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia, Merza Fachys, menekankan pentingnya keseimbangan ekosistem. “Setiap teknologi memiliki peran berbeda. Fixed broadband unggul dalam stabilitas, sementara mobile menawarkan fleksibilitas. Yang terpenting adalah kebijakan yang menciptakan ekosistem yang berkelanjutan,” tuturnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News