Tak Semua Saham Dividen Menguntungkan, Ini Emiten yang Masih Beri Capital Gain



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kondisi pasar yang begitu volatil membuat banyak saham berguguran, tak terkecuali saham pembagi dividen. Di tengah ketidakpastian pasar, saham seperti ini lebih condong menawarkan keuntungan berupa imbal hasil dividen kompetitif, namun tidak dibarengi oleh capital gain atas kenaikan harga.

Kontan telah merangkum kinerja konstituen penghuni indeks High Dividend 20 (IDX HIDIV20) yang berisi saham-saham yang rutin membagikan dividen dengan imbal hasil (yield) tinggi.

Dari 20 saham yang ada di indeks tersebut, 11 saham di antaranya mengalami penurunan kinerja harga, baik secara year to date (YTD) atau sejak awal tahun, year on year (YoY) atau secara tahunan, bahkan keduanya alias sejak awal tahun dan secara tahunan.


Contohnya adalah tiga saham perbankan, yaitu BBCA, BBRI, dan BMRI. Dikutip dari data Google Finance, harga saham BBCA tergerus 20,87% YTD dan 23,49% YoY ke level Rp 6.350 per saham pada Kamis (6/8/2026).

Saham BBRI juga terkoreksi 16,48% YTD dan 18,06% YoY ke level Rp 3.040 per saham. Begitu pula dengan saham BMRI yang anjlok 17,24% YTD dan 10,64% YoY ke level Rp 4.200 per saham.

Baca Juga: Penguatan Rupiah Masih Terbatas, Investor Tunggu Data Ekonomi Penting

Ketiga saham ini sebenarnya masih cukup royal membagikan dividen dengan yield kompetitif. Contohnya, BBCA yang telah mengumumkan pembagian dividen interim tahun buku 2026 senilai Rp 20 per saham, dengan dividend yield sekitar 0,32% berdasarkan harga saham saat cum date.

BBRI dan BMRI juga telah membagikan dividen tahun buku 2025 dengan nilai masing-masing Rp 346 per saham dan Rp 476,95 per saham. BBRI memiliki dividend yield sebesar 10,46%, sedangkan BMRI sebesar 10,30%. Namun, tetap saja dividend yield tersebut belum mampu mengompensasi kerugian atas koreksi harga saham.

Lantas, hanya ada beberapa saham saja yang masih mampu memberikan keuntungan dari dividend yield sekaligus capital gain atas kenaikan harga saham sejak awal tahun dan secara tahunan.

Contohnya adalah HMSP yang memberikan dividen tahun buku 2025 senilai Rp 56,30 per saham dengan dividend yield 7,66%. Sejak awal tahun, harga saham HMSP naik 2,70% YTD ke level Rp 760 per saham. Harga saham emiten produsen rokok ini juga melonjak 44,76% YoY.

Selain itu, ada ADRO yang menebar dividen tahun buku 2025 senilai Rp 263,40 per saham dengan dividend yield 10,49%. Harga saham ADRO telah menguat 37,36% YTD dan 34,41% YoY ke level Rp 2.500 per saham.

Contoh lainnya ada pada saham TAPG yang harganya menguat 23,51% YTD dan 25,59% YoY ke level Rp 1.865 per saham. Emiten ini berencana menebar dividen interim tahun buku 2026 senilai Rp 60 per saham dengan dividend yield diperkirakan sebesar 3,22%.

Di luar itu, ada saham AKRA, ITMG, dan ERAA sebagai penghuni IDX HIDIV20 yang mampu mencetak kinerja pertumbuhan harga positif, baik secara tahunan maupun sejak awal tahun, serta memberikan dividend yield tinggi.

Baca Juga: Pasar IPO Kehilangan Momentum, Apa yang Menahan Calon Emiten Go Public?

Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan mengatakan, fenomena tersebut mencerminkan kombinasi antara tekanan pasar secara umum dengan kondisi fundamental masing-masing emiten.

Dalam kondisi pasar yang bergejolak, saham yang masih membagikan dividen tinggi belum tentu langsung memberikan capital gain karena pergerakan harga tetap dipengaruhi oleh prospek laba, arus dana, valuasi, dan sentimen sektoral.

Dia juga menilai, dividend yield dan kenaikan harga saham tidak selalu bergerak searah. Bahkan, dividend yield dapat terlihat makin tinggi ketika harga saham turun, karena perhitungannya menggunakan besaran dividen dibandingkan harga saham. Alhasil, imbal hasil dividen yang tinggi belum tentu menunjukkan prospek harga yang kuat.

"Kondisi ini juga dapat menjadi dividend trap apabila penurunan harga mencerminkan pelemahan fundamental dan berisiko diikuti penurunan dividen pada periode berikutnya," ujar dia, Kamis (6/8).

Ekky menambahkan, sejumlah saham seperti HMSP, ADRO, TAPG, AKRA, ITMG, dan ERAA mendapat dukungan dari sisi katalis fundamental atau sektoral.

Katalis tersebut dapat berasal dari pertumbuhan laba, perbaikan volume penjualan, kenaikan harga komoditas, penguatan arus kas, maupun ekspansi bisnis. Inilah yang membuat saham-saham tersebut mampu memberikan dividend yield tinggi sekaligus capital gain.

Senada, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan, ada beberapa faktor yang membuat dividend yield dan capital gain suatu saham tidak selalu selaras.

Salah satunya adalah fakta bahwa dividend yield merupakan cerminan kinerja emiten pada masa lalu, karena dividen dibagikan dari laba tahun sebelumnya. Sebaliknya, harga saham lebih banyak mencerminkan ekspektasi terhadap prospek laba emiten pada masa depan.

"Jadi, meskipun suatu emiten membagikan dividen besar, apabila investor memperkirakan pertumbuhan laba ke depan melambat, maka harga saham tetap bisa terkoreksi," tutur dia, Kamis (6/8/2026).

Baca Juga: Kinerja Emiten BUMN Belum Terdorong Peran Danantara, Simak Prospeknya

Di samping itu, pada periode pasar yang volatil, investor cenderung menerapkan strategi defensif, sehingga dividen menjadi buffer return. Hal ini menandakan bahwa sebagian keuntungan investor saham berasal dari dividen, sementara capital gain belum tercapai karena valuasi saham masih tertekan.

Tak hanya itu, faktor eksternal juga sangat menentukan. Suatu sektor bisa saja menghadapi tekanan permintaan, penurunan harga komoditas, hingga margin yang menyusut, sehingga harga saham terkait mengalami koreksi sekalipun masih membagikan dividen dengan yield tinggi.

"Investor tidak hanya menghargai besarnya dividen, tetapi juga percaya bahwa perusahaan masih mampu menciptakan pertumbuhan laba ke depan," terang dia.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menyebut, peluang pembalikan arah makin terbuka mengingat pasar mulai memperlihatkan tanda-tanda rebound lantaran hampir semua risiko sudah tercermin pada harga saham yang terkoreksi panjang sejak awal tahun.

Dari situ, saham pembagi dividen yang selama ini hanya menghasilkan dividend yield tinggi tanpa capital gain mulai mengalami re-rating begitu momentum bullish terkonfirmasi. Sebab, valuasi saham yang sudah sangat terdiskon akan menciptakan ruang penguatan yang asimetris.

"Jika inflow asing terus berlanjut dan sentimen makro membaik, kombinasi dividend yield dan capital gain berpotensi kembali dinikmati investor secara bersamaan dalam beberapa bulan ke depan," ungkap dia, Kamis (6/8/2026).

Sementara itu, Ekky memandang bahwa tren perbedaan antara dividend yield dan capital gain masih dapat terjadi ke depan, terutama ketika kondisi pasar masih volatil. Dividen sebenarnya dapat menjadi bantalan terhadap penurunan harga, namun belum tentu cukup untuk menutup kerugian kapital apabila koreksinya jauh lebih besar dibandingkan dividend yield yang diterima.

Di sisi lain, ketika kondisi pasar mulai normal, peluang memperoleh dividen dan capital gain secara bersamaan tetap terbuka. Namun, hal tersebut lebih mungkin terjadi pada emiten yang mampu menjaga pertumbuhan laba, arus kas yang sehat, serta keberlanjutan pembagian dividen.

"Jadi, pemulihan pasar saja belum cukup apabila kinerja fundamental perusahaan terus melemah," katanya.

Berkaca dari situ, Nafan mengingatkan investor agar tidak hanya berfokus pada besarnya dividend yield ataupun potensi capital gain secara terpisah, melainkan melihat imbal hasil total sebagai tujuan investasi.

Dalam hal ini, investor diharapkan tidak hanya mengejar dividend yield tinggi tanpa melihat kualitas fundamental emiten. Investor perlu memperhatikan keberlanjutan laba dan kemampuan emiten dalam mempertahankan pembagian dividen pada masa depan.

Baca Juga: Baru 7 Emiten IPO per Juli 2026, BEI Ungkap Prospek Hingga Akhir Tahun

Sesuaikan juga strategi investasi dengan profil risiko. Bagi investor yang mengutamakan pendapatan secara berkala, mereka dapat fokus pada saham pembagi dividen. Adapun investor dengan orientasi jangka panjang dapat mengombinasikan aspek dividen dengan pertumbuhan harga saham.

"Risiko terbesar yang perlu diwaspadai adalah dividend trap, yakni ketika investor membeli saham hanya karena dividend yield tinggi, padahal laba perusahaan sedang menurun sehingga kemampuan membayar dividen pada tahun berikutnya berpotensi melemah," jelasnya.

Sementara menurut Ekky, dari sekian saham yang disebutkan tadi, ADRO, AKRA, dan TAPG dapat menjadi pilihan utama. Ada pula ITMG yang bisa menjadi alternatif bagi investor yang lebih berorientasi pada pendapatan dividen.

Saham ADRO dan AKRA direkomendasikan buy on weakness dengan target harga masing-masing di kisaran Rp 2.800–Rp 3.000 per saham dan Rp 1.600–Rp 1.700 per saham. Saham ADRO dan AKRA juga memiliki target lanjutan masing-masing di level Rp 3.100 per saham dan Rp 1.800 per saham.

Rekomendasi accumulate atau buy on weakness turut disematkan untuk saham TAPG dengan target Rp 2.050–Rp 2.200 per saham dan target lanjutan Rp 2.400 per saham.

Tak ketinggalan, saham ITMG dapat dicermati saat terjadi koreksi dengan target Rp 26.000–Rp 27.500 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News