Tak Terduga! Thailand Turunkan Suku Bunga, Ekonomi Tertekan Tarif dan Baht Kuat



KONTAN.CO.ID - Bank sentral Thailand secara mengejutkan memangkas suku bunga acuan pada Rabu (25/2/2026), di tengah tekanan ekonomi akibat ketidakpastian tarif Amerika Serikat (AS) dan penguatan baht.

Komite kebijakan moneter Bank of Thailand (BOT) memutuskan dengan suara 4-2 untuk memangkas suku bunga repo satu hari sebesar 25 basis poin menjadi 1,00%. Level ini merupakan yang terendah dalam lebih dari tiga tahun.

Baca Juga: Bank-Bank Global Kompak Naikkan Proyeksi Emas, Tren Dedolarisasi Jadi Pendorong


Dari 27 ekonom yang disurvei Reuters, hanya enam yang memperkirakan pemangkasan suku bunga pada pertemuan kali ini. Selebihnya memproyeksikan suku bunga tetap.

Setelah pengumuman, baht memangkas penguatannya, meski masih naik sekitar 1,2% terhadap dolar AS sepanjang tahun ini. Indeks saham utama Thailand justru memperpanjang kenaikan menjadi 1,7% pada hari yang sama.

Pertumbuhan di Bawah Potensi

Dalam pernyataannya, BOT memproyeksikan pertumbuhan ekonomi akan tetap berada di bawah potensi pada 2026 dan 2027, serta tidak merata antar sektor.

Tahun ini, pertumbuhan diperkirakan melambat menjadi sekitar 2,0% dari 2,4% pada tahun lalu.

Baca Juga: 1% Terkaya Singapura Genggam 14% Kekayaan Nasional, Pemerintah Klaim Masih Wajar

“Asisten Gubernur Don Nakornthab menyebut pemangkasan kali ini sebagai langkah ‘front-loading’ untuk mendukung ekonomi,” ujar pejabat tersebut dalam konferensi pers.

Ia menegaskan, “Jika prospek ekonomi berubah signifikan, kami siap untuk menurunkan suku bunga.”

Ekonomi Thailand, yang tertinggal dari negara-negara regional sejak pandemi, menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari tarif AS, utang rumah tangga yang tinggi, hingga penguatan baht.

Potensi Pemangkasan Tambahan

Gareth Leather, ekonom senior Asia di Capital Economics memperkirakan masih ada satu kali pemangkasan lagi tahun ini sehingga suku bunga bisa turun ke 0,75% pada akhir tahun.

Baca Juga: Aston Martin Pangkas 20% Karyawan, Respons Tarif AS dan Lesunya Pasar China

Namun, ekonom Kasikornbank, Kobsidthi Silpachai, menilai suku bunga 1% kemungkinan menjadi batas bawah siklus ini kecuali Thailand menghadapi resesi.

Sejak Oktober 2024, BOT telah memangkas suku bunga sebanyak enam kali dengan total penurunan 150 basis poin.

Gubernur BOT, Vitai Ratanakorn, sebelumnya menyatakan kebijakan fiskal dan moneter perlu dioptimalkan untuk mendorong pertumbuhan mendekati potensi 2,7% tahun ini.

Baht Kuat Tekan Ekspor

Penguatan baht dinilai memperketat kondisi keuangan eksportir. Tahun lalu, baht sudah menguat sekitar 9% terhadap dolar AS, dan tren kenaikan berlanjut tahun ini.

Kondisi ini berpotensi menggerus daya saing sektor ekspor dan pariwisata, dua motor utama ekonomi Thailand.

Ketidakpastian juga datang dari kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump. Meski tarif global ditetapkan sebesar 15% setelah Mahkamah Agung membatalkan rezim tarif sebelumnya lebih rendah dari tarif 19% yang sempat dikenakan pada Thailand risiko kebijakan tetap membayangi.

Baca Juga: BMW Akan Menarik Kembali 58.713 Kendaraan di AS Karena Kerusakan Rangkaian Kabel

BOT menyatakan perlu mencermati ketidakpastian terkait kebijakan tarif AS, keterlambatan anggaran 2027, serta tantangan UMKM yang menghadapi persaingan ketat, akses kredit terbatas, dan tekanan dari apresiasi baht.

Pertemuan kebijakan suku bunga berikutnya dijadwalkan pada 29 April mendatang.

Selanjutnya: Penempatan Dana Perbankan di Surat Berharga Masih Tumbuh Awal 2026

Menarik Dibaca: Hujan Lebat Cuma di Sini, Cek Peringatan Dini BMKG Cuaca Besok (26/2) Jabodetabek