KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Takeda akan masuk berinvestasi Indonesia untuk membangun ekosistem industri plasma nasional dan memperluas akses terhadap produk obat derivat plasma (PODP) yang menyelamatkan nyawa. Sebagai tahap awal, Takeda akan menginvestasikan hingga US$ 30 juta atau sekitar Rp 539 miliar dalam dua tahun untuk membangun bank plasma, mengembangkan kapasitas SDM, serta mengkaji pembangunan fasilitas manufaktur PODP di Indonesia. Kehadiran Takeda diharapkan memperkuat ketahanan kesehatan nasional, mendorong transfer teknologi, menciptakan lapangan kerja, dan menjadikan Indonesia sebagai pusat inovasi biofarmasi serta manufaktur obat di kawasan Asia Tenggara.
Bank plasma pertama ditargetkan mulai beroperasi pada 2027 sebagai langkah awal menuju kemandirian pasokan plasma dan PODP di dalam negeri. Bank plasma ini akan menjadi bagian dari jaringan BioLife milik Takeda.
Baca Juga: Ketidakpastian Global Masih Tinggi, Kalbe Farma (KLBF) Menahan Target Kinerja 2026 Kementerian Kesehatan menetapkan Takeda sebagai industri farmasi yang dapat menyelenggarakan fraksionasi plasma. Penetapan ini memungkinkan Takeda mengumpulkan dan memproses plasma secara bertahap untuk mendukung pengembangan industri plasma nasional serta memperkuat ketahanan kesehatan dan biofarmasi Indonesia. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, kemitraan tersebut mencerminkan komitmen pemerintah membangun industri kesehatan strategis sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap terapi penting. “Melalui kemitraan dengan Takeda, kami berharap dapat memperkuat sistem kesehatan nasional sekaligus mempersiapkan Indonesia menghadapi tantangan kesehatan di masa depan," ujar Budi dalam keterangannya, Selasa (14/7/2026). Kerja sama jangka panjang ini menjadi yang pertama di Asia Tenggara. Fokusnya adalah membangun sistem pengumpulan plasma berstandar internasional dan mengembangkan kapasitas manufaktur PODP. Dengan pengalaman global Takeda, Indonesia diharapkan menjadi pusat pengembangan teknologi plasma dan inovasi biofarmasi di kawasan.
Baca Juga: Bidik Potensi Pasar Lansia, Begini Strategi Kimia Farma (KAEF) President Plasma-Derived Therapies Takeda, Ramy Riad, menyatakan kemitraan ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk memperluas akses PODP di Indonesia sekaligus membangun ekosistem plasma yang berkelanjutan. Hasil tahap awal ini investasi pembanguan bank plasma Takeda akan menjadi dasar evaluasi bersama Kementerian Kesehatan sebelum pengembangan jaringan bank plasma secara nasional. Seluruh bank plasma akan menerapkan standar mutu dan regulasi internasional. Program ini juga diharapkan membuka lapangan kerja bagi tenaga kesehatan dan teknisi laboratorium, sekaligus memperkuat kompetensi SDM melalui pelatihan dan alih teknologi. Selain itu, Takeda akan mengkaji pembangunan fasilitas manufaktur PODP berteknologi tinggi di Indonesia.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan P. Roeslani menilai investasi tersebut tidak hanya menghadirkan modal, tetapi juga mendorong transfer teknologi, pengembangan SDM, dan penciptaan lapangan kerja. Di tengah meningkatnya permintaan global terhadap PODP dan masih terbatasnya pasokan di Asia Tenggara, kemitraan ini diharapkan dapat memperkuat pasokan plasma melalui peningkatan kapasitas lokal, pengembangan tenaga kesehatan, serta penerapan praktik terbaik dalam pengumpulan dan pengolahan plasma. Selama fasilitas fraksionasi plasma di Indonesia masih dalam tahap kajian, plasma yang dikumpulkan akan diproses melalui jaringan manufaktur global Takeda dengan tetap memprioritaskan kebutuhan Indonesia. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News