KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penguatan talenta digital dinilai menjadi kunci penting agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar dalam industri artificial intelligence (AI), tetapi juga mampu masuk dalam rantai pasok global industri tersebut. Isu tersebut mengemuka dalam forum diskusi bertajuk “Peta Jalan AI Indonesia untuk Kedaulatan Digital dan Ketahanan Nasional” yang digelar oleh President Club di President Lounge, Menara Batavia, Jakarta, Selasa (19/5/2026). Wakil Menteri Komunikasi dan Digital RI Nezar Patria mengatakan, pengembangan industri AI tidak bisa dilepaskan dari pembangunan ekosistem industri dan penguatan talenta digital nasional.
“Kalau bicara industri AI, kita bicara tentang bagaimana membangun ekosistem industrinya dan bagaimana menyiapkan dan memperkuat talenta digital itu sendiri. Indonesia saat ini belum sepenuhnya masuk dalam rantai pasok global industri AI. Karena itu, kita harus bangun (dari sekarang),” ujar Nezar, dalam siaran pers, Jumat (22/5/2026).
Baca Juga: Huawei Petakan Kebutuhan 36 Juta Talenta Digital Baru hingga Tahun 2030 Menurutnya, Indonesia memiliki peluang besar karena ditopang bonus demografi, namun kebutuhan talenta digital ke depan juga sangat besar. Indonesia diperkirakan membutuhkan sekitar 12 juta tenaga kerja dengan kompetensi digital pada 2030. Nezar menilai kebutuhan tersebut tidak mungkin dipenuhi pemerintah sendiri sehingga diperlukan kolaborasi lintas sektor, mulai dari perguruan tinggi, lembaga riset, hingga perusahaan teknologi global. Ia menambahkan, pemerintah juga telah membuka sejumlah kerja sama di bidang semikonduktor dan teknologi digital saat Presiden Prabowo Subianto melakukan kunjungan ke Jepang, Amerika Serikat, dan Tiongkok beberapa waktu lalu. “Pengembangan talenta digital sama pentingnya dengan pembangunan infrastruktur dan ekosistem. Karena itu, universitas-universitas akan menjadi bagian penting dalam pengembangan talenta digital bangsa ke depan,” jelasnya. Dalam forum tersebut juga dilakukan penandatanganan nota kesepahaman antara Yayasan Pendidikan President University dengan BPSDM Kementerian Komunikasi dan Digital RI untuk memperkuat pengembangan talenta digital nasional, khususnya bagi mahasiswa President University.
Baca Juga: Telkomsel–ITB Resmikan AI Innovation Hub Pertama di Indonesia, Dorong Talenta Digital Dalam sesi diskusi panel, pembahasan berkembang ke berbagai isu strategis AI nasional, mulai dari implementasi peta jalan AI nasional, talenta digital, integrasi keamanan siber dan AI, pengembangan riset nasional, tata kelola data, hingga tantangan etika dan keamanan digital. Diskusi menghadirkan sejumlah panelis antara lain Bonifasius Wahyu Pudjianto, Anggota Dewan Pengarah BRIN Marsudi Wahyu Kisworo, Founder & Managing Partner Skha Consulting dan Nalar AI Sayed Musaddiq, President Director PT ASIX Indonesia Cerdas Andrie Tjioe, serta Executive Director Catalyst Policy Works Wahyudi Djafar. Dalam diskusi tersebut, Sayed Musaddiq menilai implementasi AI di Indonesia perlu didorong lebih agresif melalui program-program konkret agar Indonesia tidak tertinggal dari negara lain. Sementara itu, Andrie Tjioe mengusulkan adanya program pelatihan AI bagi guru di Indonesia guna mempercepat lahirnya talenta digital sejak dini. Menurutnya, pihaknya siap bekerja sama karena telah memiliki training center untuk robotik, AI, dan drone, termasuk pengembangan pusat riset dan inovasi AI di BSD.
“Kalau tidak ada yang dilatih, akan sulit berkembang. Kedaulatan digital bisa tercapai, tetapi mungkin akan membutuhkan waktu lebih lama,” ujarnya. Forum diskusi tersebut juga menyoroti pentingnya sinergi antara pemerintah, akademisi, industri, dan lembaga riset untuk membangun ekosistem AI nasional yang kuat, berdaya saing, dan berkelanjutan guna memperkuat kedaulatan digital dan ketahanan nasional.
Baca Juga: Pemerintah Siapkan Talenta Kreatif Lewat Beasiswa Digital Talent 2026 Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News