Taman Safari Indonesia Rawat Kembangbiakkan 100 Satwa Endemik Langka di PCBA Jatim
Jumat, 30 Januari 2026 18:11 WIB
Oleh: Tim KONTAN | Editor: Indah Sulistyorini
KONTAN.CO.ID - Pada Selasa pagi, 16 Desember 2025, Jochen tampak teliti melihat satwa yang berada dalam penangkaran Prigen Conservation Breeding Ark atau PCBA, ex situ milik Taman Safari Indonesia Group yang berlokasi di area Taman Safari 2 Prigen, Jawa Timur. Sesekali ia berceletuk dengan satwa, seakan-akan sudah mengenal satu sama lainnya. Dari kandang ke kandang, dari kolam ke sangkar, Jochen memperhatikan satwa yang juga dalam proses breeding (pengembangbiakkan) itu secara serius. Tak lupa, pria yang juga menjadi kurator satwa di PCBA itu memberi makanan buah-buahan dan dedaunan segar agar gizi satwa tercukupi. Asupan makanan yang diberikan pun berkualitas Grade A, layaknya manusia konsumsi.
Petugas (keeper) sedang memilah sayur dan buah untuk satwa di PCBA.
Penanganan khusus pun Jochen berikan, mengingat status satwa yang berada di PCBA yang terancam punah, bahkan ada yang dibiarkan atau tidak mampu dirawat oleh lembaga konservasi (LK) lain. Oleh karenanya, Taman Safari Indonesia tidak menampilkan satwa tersebut kepada para pengunjung dengan alasan konservasi dan kebutuhan khusus satwa.
Monyet Darre, misalnya, yang tergolong agresif, cukup berbahaya bagi pengunjung. Primata yang biasa ditemukan di Sulawesi Selatan itu, kemudian ditempat dalam kandang sepanjang lebih dari 100 meter dan lebar lebih dari lima meter di area PCBA yang berisi lima jantan, tiga betina, dan satu ekor anak yang lahir di PCBA. Pun Sempidan Merah, jenis ayam hutan yang hidup di hutan dataran rendah subtropis dan tropis. Satwa yang berasal dari Asia Tenggara ini cukup sensitif dan pemalu, namun punya bulu estetik. Sangkarnya dibuat layaknya pekarangan rumah, namun penuh ilalang dan pohon yang tumbuh alami. Kandang Babi Kutil, salah satu kandang terluas, dibuat berlumpur dengan gundukan tanah dan batu agar lebih nyaman untuk mendinginkan diri. PCBA pun membangun tangga setinggi 50 cm untuk memudahkan keeper memantau kondisi serta memberi makan Babi Kutil dari luar kandang.
Kondisi kandang Murai Maratua
“PCBA ini tidak terbuka untuk pengunjung umum. Itu sebabnya infrastruktur kami di sini tidak sesuai kebutuhan atau permintaan pengunjung umum. Fasilitasnya memang sesuai kebutuhan satwa. Itu kelihatannya tidak terawat, tapi sebenarnya itu by design. Karena kami di sini kerja sesuai kebutuhan satwa,” tutur Jochen kepada Tim Kontan. Khusus PCBA, Taman Safari Prigen membangun fasilitas-fasilitas ini di lahan seluas lima hektar. Ketika Tim Kontan berkunjung ke sana, terlihat banyak rumput dan pohon yang tumbuh di dalam kandang, bahkan ada juga pucuk merah yang menjulang tinggi di depan kandang. Dari pos pemantau yang berada dekat sekretariat PCBA, sepanjang mata memandang terlihat hamparan rumput dan pohon-pohon rindang. Berbeda dengan area edukasi dan rekreasi yang ada di Taman Safari Indonesia yang sudah didesain secara komersial untuk pengunjung. Menurut Jochen, fasilitas tersebut dibangun untuk tumbuh kembang satwa. Sebagai ex situ, PCBA ingin satwa hidup seakan-akan berada di habitat aslinya. Jika fasilitas dibangun secara komersial, satwa-satwa ini belum tentu nyaman dan menyebabkan stres. Oleh karenanya, satwa ini tidak akan ditemukan ketika berkunjung ke area Taman Safari Indonesia Group lainnya. PCBA total memiliki 100 jenis satwa dalam rangka pengembangbiakkan yang terdiri dari ikan, inverterbrata, mamalia, dan burung. Jumlah ikan cukup mendominasi dari pada satwa lainnya dengan total 40 jenis ikan, salah salah satunya Ikan Pelangi yang hidup di sungai air tawar Sulawesi dan Papua. Untuk fasilitasnya, PCBA memiliki 300 aviarium, 70 kandang mamalia, dan 300 akuarium. Satwa-satwa yang terancam punah ini tidak semata-mata didapat dari hasil rescue. Ada juga satwa yang diberikan oleh lembaga konservasi lain karena ketidaksanggupan dalam infrastruktur, biaya, atau SDM. Sebagai LK yang berfokus pada konservasi, PCBA dan Taman Safari Indonesia pun menerima satwa tersebut.
Jochen memberi makan di kandang Kekah Natuna
Taman Safari Prigen, melalui PCBA, menerima satwa-satwa hampir punah tersebut sebagai rangka konservasi dan penyelamatan satwa untuk keseimbangan ekosistem. Sebagai contoh, Kekah Natuna, salah satu primata pemakan daun, yang disita oleh BKSDA Riau dari hasil perawatan ilegal milik masyarakat. Kekah Natuna sendiri adalah primata endemik dari pulau Natuna di Kepulauan Riau. “Empat individu Kekah Natuna dulu dirawat secara ilegal oleh masyarakat lokal. Terus disita oleh BKSDA. Kemudian dititip ke sini dengan harapan empat individu itu masih bisa mereproduksi dan kontribusi kekelanjutan jenisnya. Karena kalau dirawat sendiri-sendiri, di pemilik sebelumnya, dari sisi populasinya, sudah mati. Kalau tidak ada reproduksi, tidak ada kelanjutan genetiknya,” ucap Jochen. Selain itu, PCBA juga mengonversi dan mem-breeding Monyet Darre yang luka karena jerat buatan manusia. Secara display, tentu satwa ini tidak layak ditampilkan ke pengunjung karena cenderung agresif. Selain itu, Monyet Darre juga dianggap hama dan enggan dikembangbiakkan. Padahal, keagresifan itu disebabkan oleh hilangnya ekologi di Sulawesi. Menurut Jochen, satwa yang bernama latin Macaca Maura ini masih punya nilai konservasi. Untuk itu, PCBA mau mem-breeding Monyet Darre. “Tapi dari sisi konservasi, nilainya tidak berkurang. Genetiknya tetap Monyet Darre. Tidak ada kekurangan. Itu sebabnya, di PCBA ini, individu (Monyet Darre) seperti itu sama aja. Meskipun bertangan satu, genetiknya sama. Tapi tetap bisa reproduksi. Anak-anak (Monyet Darre) ini tidak cacat, dia lengkap,” sambung pria asal Jerman tersebut. Salah satu keberhasilan konservasi PCBA adalah melepasliarkan 40 Jalak Suren pada tahun 2022 lalu. Namun, karena dimangsa satwa atau hewan liar lain, angka hidup Jalak Suren di alam liar juga ikut menurun. Total Jalak Suren yang hidup lebih 50 ekor dengan tambahan kelahiran 10 ekor pada tahun 2024 lalu. “Sekarang ini ada lebih dari 60 ekor. Lebih dari 60 individu di Taman Safari Prigen dan sekitarnya. Tapi tetap jenisnya terancam punah kritis dan punah di alam,” tutur Jochen. PCBA juga punya satwa endemik lainnya dalam PCBA seperti Sempidan Sumatera, Sempidan Kalimantan, Pleci Jawa, Beo Tenggara, Ayam Modern Game Bantam (MGB), Ayam Moa, berbagai jenis ikan pelangi rawa gambut, dan Murai Maratua. Khusus Murai Maratua, PCBA juga siap melepas burung yang berasal dari Pulau Maratua, Kalimantan Timur itu, ke alam liar. Total sudah ada 95 Murai Maratua di PCBA. Jika angkanya sudah melebihi 100 ekor, PCBA berencana melepasnya ke alam.
Konservasi melalui Kolaborasi
PCBA berdiri pada tahun 2017. Lahir sebagai jawaban dari 60 pakar internasional yang berkumpul dalam Songbird Crisis Summit yang terselenggara di Singapura pada tahun 2015. Dalam pertemuan tersebut, disimpulkan bahwa kebutuhan ex situ sangat dibutuhkan sebagai langkah konservasi bagi beberapa burung kicau yang terancam di wilayah Sunda Besar. PCBA sendiri merupakan tempat konservasi satwa langka terbesar di Asia Tenggara Kemudian, Taman Safari Indonesia melalui Konservasi Alam Satwa Indonesia (KASI) Foundation bersama mitra lain, memulai program pemeliharaan dan mengembangbiakkan spesies burung kicau Indonesia yang terancam punah guna memberikan waktu untuk kegiatan konservasi lainnya. PCBA pun dibentuk dalam mendukung upaya pelestarian satwa langka dan mitigas perdagangan satwa liar melalui program breeding atau konservasi berstandar internasional. Total terdapat sekitar 10-15 orang bekerja di PCBA. Mereka bertugas memeriksa, memberi makan, dan melaporkan kondisi satwa. Sebagai lembaga yang berkomitmen pada konservasi, kemudian PCBA mulai menerima satwa terancam punah dan endemik lainnya guna proses penangkaran dan pengembangbiakkan. Untuk itu, fasilitas yang dibangun berfokus pada kebutuhan spesies satwa yang terancam punah. “PCBA juga menjadi salah satu joint effort. Karena konservasi tidak bisa dilakukan sendiri. Butuh mitra, butuh network yang sangat kuat,” ungkap Jochen. PCBA juga tergabung dalam Conservation Planning Specialist Group, Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Republik Indonesia, Perhimpunan Kebun Binatang Se-Indonesia, Southeast Asia Zoos and Aquarium Association. Dalam kolaborasi luar negeri, PCBA turut menjadi anggota Zoologischen Gesellschaft für Arten und Populationsschutz (ZGAP), Vogelpark Marlow Erlebnis, dan Zoo Augsburg. Dalam rangka inovasi, PCBA berkolaborasi dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN. “Dan network kami di PCBA ini, memang berdiri dari beberapa pihak. Ada lembaga nasional dan juga internasional,” sambung pria yang sudah menjadi kurator di PCBA lebih dari tujuh tahun itu. Jochen menegaskan, PCBA tidak memilih atau mengkurasi satwa berdasarkan fisik atau warna bulu hewan yang indah. Selama PCBA dan Taman Safari Indonesia memiliki fasilitas pendukung dan SDM memadai, para satwa ini akan dirawat dan dikembangbiakkan. Berkat aksi konservasi tersebut, PCBA turut mendapat apresiasi dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada 2024 lalu melalui penghargaan Program Breeding Terbaik 2024. Lebih lanjut, Direktur Utama Taman Safari Indonesia Group Aswin Sumampau menjelaskan konservasi yang dilakukan PCBA merupakan kebanggaan bagi Taman Safari Indonesia Group. Selain berfokus pada rekreasi dan edukasi, PCBA memperkokoh nilai konservasi yang telah menjadi core value Taman Safari Indonesia selama lebih dari 30 tahun. “Taman Safari ini bisa berkontribusi, itu dulu. Berkontribusi terhadap konservasi dan bukan kontribusi yang main-main, tetapi kontribusi yang serius,” ungkap Aswin kepada Tim Kontan di Enchanting Forest, Taman Safari Prigen, Jawa Timur pada Selasa, 16 Desember 2025. “Kalaupun keberhasilannya misalnya hanya 10%, angka itu sudah bagus. Next one kita introduce lagi. Kalau setiap kita (PCBA) introduce 10% terus, mereka berkembang di alam. Akhirnya kita (PCBA) berhasil. Jadi saya tidak melihat ada suatu program konservasi itu yang sia-sia. Mau kita lepas liarkan Elang Jawa, mau kita lepas liarkan Komodo, mau kita lepas liarkan apapun, kalaupun misalnya pelepasliarannya tidak berhasil, itu tetap sebuah proses konservasi yang tetap harus kita laksanakan terus menerus,” sambung Aswin. Kemampuan PCBA dalam mengkonservasi sebanyak 100 jenis satwa bukanlah sebuah perjalanan yang singkat. Aswin menjelaskan, conservation effort yang dilakukan mencakup banyak pertimbangan seperti tenaga ahli, anggaran, dan lokasi. Berkat program dan pendanaan yang berjalan konsisten juga, PCBA mampu bertahan sampai saat ini. Oleh karenanya, PCBA turut membuka ruang kolaborasi melalui konservasi melalui B2B approach. Aswin mengungkapkan, sudah banyak perusahaan dan personal yang berkolaborasi dengan PCBA dalam rangka program konservasi. PCBA pun memberi ruang bagi organisasi, lembaga, atau instansi yang ingin belajar mengenai konservasi satwa langka. Tak hanya itu, PCBA turut menerima mahasiswa magang dalam rangka edukasi.
Jochen di depan pintu masuk PCBA. Lokasi ini berbeda dari pintu masuk lokasi wisata di Taman Safari Prigen.
Meski begitu, PCBA belum memiliki blueprint jangka panjang. Terlebih, PCBA menerima satwa dari lembaga konservasi atau BKSDA berdasarkan kemampuan dan fasilitas pendukung. Aswin beralasan, ketika fasilitas tidak mumpuni dapat menyebabkan satwa akan stres dan mati, sehingga populasi turut berkurang. Untuk itu, PCBA perlu proses jangka panjang untuk membuat blueprint program konservasi. “Jadi banyak sekali yang bekerjasama dengan Taman Safari untuk membesarkan program konservasi. Salah satunya mungkin PT Smelting, bekerjasama dengan kita dengan program Elang Jawa. Banteng Jawa juga bekerjasama itu secara B2B. Jadi secara B2B banyak yang kita ajak. Foundation-foundation, ada pengusaha Shanghai dan sebagainya, yang mereka juga ikut berkontribusi terhadap konservasi. Donasi pribadi ada dari orang Jerman,” kata Aswin. Jochen menambahkan, relasi dan sumber daya manusia yang kompeten diperlukan guna mendukung pertumbuhan satwa hidup lebih panjang, meskipun di ex situ. Namun, program ini belum tentu dapat direplikasi oleh lembaga konservasi atau kebun binatang lainnya. Aswin menilai, kemampuan konservasi bergantung pada kondisi lembaganya. Asalkan owner berorientasi pada konservasi yang kuat, bukan tidak mungkin LK mampu membangun area konservasi satwa yang lebih banyak dan beragam. Mengingat, banyak LK di Indonesia yang memiliki sumber daya manusia dan infrastruktur mendukung untuk pengembangbiakkan. “Kalau mereka berfokus kepada bisnis, konservasi itu menjadi cost, menjadi suatu biaya. Jadi, kita harus melihat apakah owner atau pimpinan itu memiliki visi konservasi dulu. Kalau misalnya konservasi kan biasa lahannya terbatas, orangnya terbatas, lalu mereka mencari profit. Jadi, sangat sulit untuk mengadopsi program konservasi. Oleh karena itu, seringkali kita lihat malahan penangkar-penangkar burung itu lebih pintar untuk mengembang biakan burung dibanding lembaga konservasi. Karena mereka lebih fokus. Dan, kelahirannya juga secara komersial juga bisa dikomersialisasikan,” tegas Aswin. General Manager Taman Safari Indonesia 2 Prigen Erwina Lemuel menambahkan, perubahan status satwa dapat terjadi sangat cepat. Dalam kurun waktu sepuluh tahun, spesies yang semula tidak tergolong terancam dapat masuk ke dalam daftar satwa terancam punah. Karena itu, konservasi tidak hanya berbicara tentang penyelamatan ketika populasi sudah kritis, tetapi juga tentang upaya pencegahan sejak dini. “Tapi di habitat aslinya, we can see. Tapi, bisakah kita very sure bahwa for the next 20 years, alam liar untuk mereka akan masih ada? Jadi hanya dalam satu dekade, Satwa yang tadinya tidak threatened, itu bisa threatened,” ujarnya. Menurut wanita yang biasa disapa El itu, konservasi bukan hanya soal satwa besar atau ikonik. Spesies kecil, termasuk burung dan satwa yang kerap luput dari perhatian, ikut berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Hilangnya satu spesies kecil dapat memicu dampak berantai terhadap lingkungan. “Dulu kita masih bisa melihat banyak satwa di habitat alaminya. Hari ini, karena berbagai tekanan, keberadaan mereka semakin jarang terlihat. Justru di situlah fungsi konservasi, menjaga agar setiap spesies tetap ada,” katanya.
Pendekatan konservasi di Taman Safari Indonesia 2 Prigen juga diarahkan pada penguatan biodiversitas, termasuk mengembangkan tumbuhan atau tanaman langka. Dari total area sekitar 250 hektare, sekitar 67% dipertahankan sebagai ruang hijau. Proporsi ini dinilai masih sangat besar untuk dikembangkan sebagai area konservasi yang lebih komprehensif dan berkelanjutan.