JAKARTA. Indonesia berencana tak lagi impor serat rayon. Pasalnya, industri tekstil akan mendapatkan tambahan serat rayon dari penambahan pabrik baru PT South Pacific Viscose (SPV), produsen rayon asal Austria. SPV akan meningkatkan kapasitas produksi menjadi 325.000 ton. Sebesar 60% atau 195.000 ton untuk domestik dan sisanya untuk ekspor. Saat ini, pasokan serat rayon SPV ke domestik hanya sekitar 120.000 ton."Tahun ini, permintaan serat rayon akan tumbuh sebesar 6%. Dengan penambahan pabrik SPV ini diharapkan tidak ada lagi impor," ujar Direktur Jenderal Industri Berbasis Manufaktur Kementrian Perindustrian, Panggah Susanto, Kamis (13/1). Berdasarkan data dari Kementrian Perindustrian, tahun lalu kebutuhan serat rayon mencapai 252.000 ton. Namun, industri dalam negeri hanya mampu memenuhi 219.360 ton. Sisanya sebanyak 32.640 adalah impor. Panggah menjelaskan, selama ini, kebutuhan serat rayon berasal dari SPV dan PT Indo Bharat Rayon (IBR). Kontribusi terbesar berasal dari SPV yakni sebesar 120.000 ton. Sedangkan pasokan dari IBR sebesar 99.360 ton. "Saat ini hanya ada dua industri dalam negeri pembuat serat rayon," kata Panggah. Sebenarnya, produksi serat rayon dalam negeri pada tahun lalu mencapai 425.000 ton. Namun, Kedua perusahaan itu mengekspor sekitar 48% dari total produksinya. Tahun lalu, SPV memproduksi serat rayon sebesar 234.000 ton, serat rayon yang ke luar negeri mencapai 114.000 ton. Sementara produksi IBR sebesar 189.000 ton, sebanyak 89.640 ton serat rayon untuk ekspor.Pemimpin Lenzing Group, induk usaha SPV, Peter Unterspreger berkomitmen untuk memenuhi pasokan dalam negeri baru kemudian di ekspor. Porsi ekspor SPV kecil hanya sekitar 40%. Pembangunan pabrik ke lima SPV ini menelan dana sekitar US$ 130 juta. Harapannya, pabrik akan selesai pada Desember 2012 atau awal 2013. Alasan SPV memperluas pabrik karena permintaan serat rayon di Asia, termasuk Indonesia terus naik. "Mayoritas penjualan produk Lenzing ada di Asia. Selain China, Indonesia adalah salah satu pasar yang besar. Kami berharap bisa memenuhi sekitar 80% pasar Indonesia," ujar Peter.Selain karena konsumsi lokal yang terus menggelembung juga karena terganggunya pasokan serat alam seperti kapal. Pabrik ini, kata Peter selain untuk memenuhi kebutuhan industri dalam negeri juga untuk memenuhi kebutuhan pasar global. "Pabrik baru ini untuk mengantisipasi kenaikan serat rayon global sehingga kami bisa memasok lebih besar lagi di pasar global," kata Peter.
Tambah pabrik, Indonesia tak impor serat rayon
JAKARTA. Indonesia berencana tak lagi impor serat rayon. Pasalnya, industri tekstil akan mendapatkan tambahan serat rayon dari penambahan pabrik baru PT South Pacific Viscose (SPV), produsen rayon asal Austria. SPV akan meningkatkan kapasitas produksi menjadi 325.000 ton. Sebesar 60% atau 195.000 ton untuk domestik dan sisanya untuk ekspor. Saat ini, pasokan serat rayon SPV ke domestik hanya sekitar 120.000 ton."Tahun ini, permintaan serat rayon akan tumbuh sebesar 6%. Dengan penambahan pabrik SPV ini diharapkan tidak ada lagi impor," ujar Direktur Jenderal Industri Berbasis Manufaktur Kementrian Perindustrian, Panggah Susanto, Kamis (13/1). Berdasarkan data dari Kementrian Perindustrian, tahun lalu kebutuhan serat rayon mencapai 252.000 ton. Namun, industri dalam negeri hanya mampu memenuhi 219.360 ton. Sisanya sebanyak 32.640 adalah impor. Panggah menjelaskan, selama ini, kebutuhan serat rayon berasal dari SPV dan PT Indo Bharat Rayon (IBR). Kontribusi terbesar berasal dari SPV yakni sebesar 120.000 ton. Sedangkan pasokan dari IBR sebesar 99.360 ton. "Saat ini hanya ada dua industri dalam negeri pembuat serat rayon," kata Panggah. Sebenarnya, produksi serat rayon dalam negeri pada tahun lalu mencapai 425.000 ton. Namun, Kedua perusahaan itu mengekspor sekitar 48% dari total produksinya. Tahun lalu, SPV memproduksi serat rayon sebesar 234.000 ton, serat rayon yang ke luar negeri mencapai 114.000 ton. Sementara produksi IBR sebesar 189.000 ton, sebanyak 89.640 ton serat rayon untuk ekspor.Pemimpin Lenzing Group, induk usaha SPV, Peter Unterspreger berkomitmen untuk memenuhi pasokan dalam negeri baru kemudian di ekspor. Porsi ekspor SPV kecil hanya sekitar 40%. Pembangunan pabrik ke lima SPV ini menelan dana sekitar US$ 130 juta. Harapannya, pabrik akan selesai pada Desember 2012 atau awal 2013. Alasan SPV memperluas pabrik karena permintaan serat rayon di Asia, termasuk Indonesia terus naik. "Mayoritas penjualan produk Lenzing ada di Asia. Selain China, Indonesia adalah salah satu pasar yang besar. Kami berharap bisa memenuhi sekitar 80% pasar Indonesia," ujar Peter.Selain karena konsumsi lokal yang terus menggelembung juga karena terganggunya pasokan serat alam seperti kapal. Pabrik ini, kata Peter selain untuk memenuhi kebutuhan industri dalam negeri juga untuk memenuhi kebutuhan pasar global. "Pabrik baru ini untuk mengantisipasi kenaikan serat rayon global sehingga kami bisa memasok lebih besar lagi di pasar global," kata Peter.