KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Aneka Tambang Tbk (
ANTM) menyatakan Tambang Pongkor masih menjadi kontributor utama produksi emas pada 2026. Sekretaris Perusahaan PT Aneka Tambang Tbk Wisnu Danandi Haryanto mengatakan, produksi dari tambang bawah tanah yang telah beroperasi ini, dibarengi dengan pasokan emas domestik, menjadi pilar utama untuk memenuhi kebutuhan emas perseroan. "Kontributor utama produksi emas Antam pada 2026 masih berasal dari tambang emas yang telah beroperasi, khususnya Tambang Pongkor, serta pasokan emas dari domestik," ujarnya kepada Kontan, Selasa (13/1/2026).
Pongkor merupakan salah satu tambang emas bawah tanah paling penting di Indonesia. Eksplorasinya dimulai pada 1974 dengan tujuan awal mencari timbal dan seng. Pada 1981, ditemukan urat emas dan perak yang kemudian mengubah sejarah operasional tambang ini.
Baca Juga: Produksi Minyak Pertamina EP Zona 4 Naik 6,6% Sepanjang 2025 Saat ini, lebih dari tiga dekade sejak operasi pertamanya, Pongkor tetap produktif dengan area Izin Usaha Pertambangan (IUP) seluas 6.047 hektare, seluruhnya berada dalam kawasan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak. Tambang ini menghasilkan sekitar 1 ton emas per tahun. Namun, kebutuhan emas ANTM saat ini mencapai puluhan ton. Untuk menutup defisit produksi internal, perseroan mengandalkan tiga sumber utama:
buyback dari masyarakat, pembelian dari penambang lokal, dan impor dari luar negeri. Seiring harga emas global yang relatif tinggi, ANTM optimistis prospek kinerja 2026 tetap positif. Perseroan akan mengoptimalkan kinerja operasional, efisiensi biaya, serta strategi pemasaran untuk menjaga pertumbuhan pendapatan dan laba. Meski demikian, manajemen tetap mencermati dinamika global, termasuk kondisi geopolitik dan kebijakan moneter, sebagai bagian dari manajemen risiko. Untuk produksi 2026, ANTAM menargetkan output emas relatif sejalan dengan realisasi tahun sebelumnya, dengan memperhatikan kesiapan operasional tambang dan prinsip kehati-hatian. Dari sisi penjualan, permintaan emas domestik diperkirakan tetap kuat, baik untuk investasi maupun lindung nilai. Perseroan menegaskan akan mengoptimalkan penyerapan pasar dengan dukungan jaringan distribusi dan inovasi produk logam mulia.
Baca Juga: Prospek Emas Cerah pada 2026, Emiten Tambang Siapkan Strategi Produksi Dalam menghadapi fluktuasi biaya operasional dan harga emas, ANTM menerapkan pengendalian biaya secara disiplin, peningkatan produktivitas, serta
operational excellence di seluruh lini bisnis. Perusahaan juga memperkuat tata kelola risiko untuk menjaga margin usaha tetap sehat dan berkelanjutan.
Belanja modal perseroan tahun 2026 dialokasikan secara selektif dan terukur, dengan fokus pada keberlanjutan operasi tambang, pengembangan dan pemeliharaan fasilitas produksi, eksplorasi untuk menjaga cadangan jangka panjang, serta peningkatan aspek keselamatan dan lingkungan. Setiap penggunaan
capex tetap sejalan dengan strategi pertumbuhan jangka panjang dan prinsip
good mining practice. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News