Tanda-tanda Pemulihan Ekonomi China Memudar Lagi



KONTAN.CO.ID - BEIJING. Laba perusahaan sektor industri atau manufaktur di China sepanjang sepuluh bulan pertama tahun ini tercatat mengalami penurunan sebesar 7,8% secara tahunan (year on year/yoy).

Penurunan ini sudah menyempit dari periode sembilan bulan pertama yang melorot sebesar 9% secara tahunan, berdasarkan data yang dirilis Biro Statistik Nasional, Senin (27/11). 

Meski menyempit namun tantangan perusahaan manufaktur masih besar. Apalagi, tanda-tanda pemulihan yang sempat terlihat sejak Agustus lalu sudah mulai memudar. 


Kondisi tersebut menunjukkan bahwa negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia itu masih memerlukan lebih banyak dukungan kebijakan dari pemerintah untuk menopang pertumbuhannya. 

Sepanjang tahun berjalan, pemulihan ekonomi China memang tidak merata. Pada kuartal pertama terlihat sudah mulai membaik, lalu memudar dengan cepat pada kuartal II, selanjutnya menunjukkan sedikit pemulihan pada triwulan ketiga. 

Baca Juga: Inflasi AS dan Eropa Diprediksi Melandai

Memasuki kuartal IV, tanda-tanda perlambatan mulai terlihat. Laba perusahaan manufaktur pada Oktober hanya tumbuh 2,7% secara tahunan. Padahal pada Agustus sudah sempat naik 17,2% dan pada September meningkat 11,9%. 

Gambaran yang beragam ini semakin menambah ketidakpastian bagi perusahaan manufaktur di tengah krisis sektor properti yang berkepanjangan, adanya risiko utang pemerintah daerah, lemahnya permintaan domestik dan global, dan ketegangan geopolitik telah membuat takut investor.

NBS mengatakan pihak berwenang harus fokus pada peningkatan permintaan domestik dan menginspirasi dunia usaha untuk menghadapi tantangan yang dihadapi pabrik-pabrik. 

Menurut Xu Tianchen, ekonom senior di Economist Intelligence Unit (EIU), volatilitas keuntungan perusahaan manufkatur merupakan tanda bahwa perusahaan masih sangat sensitif terhadap biaya input. “Perlambatan tajam pertumbuhan laba tahun-ke-tahun sebagian didorong oleh reboundnya harga energi," kata dia dilansir Reuters, Senin (27/11).

LONGi Green Energy Technology Co, produsen energi surya terbesar di China, mengalami penurunan laba bersih pada kuartal ketiga sebesar 44,1% menjadi 2,5 miliar yuan, akibat hambatan makroekonomi dan kelebihan pasokan. 

Perusahaan manufaktur pelat merah China tercatat mengalami penurunan laba 9,9% dalam sepuluh bulan pertama. Sedangkan laba perusahaan asing kontraksi 10,2% dan perusahaan swasta melorot 1,9%.

Baca Juga: Sentimen Suku Bunga Dominasi Pergerakan IHSG di Sepanjang Pekan Ini

Data laba perusahaan manufaktir yang dirilis NBS ini mencakup perusahaan dengan pendapatan tahunan setidaknya 20 juta yuan atau setara US$ 2,74 juta dari operasi utama mereka.

Baik pesanan ekspor dan impor baru menyusut selama delapan bulan berturut-turut di bulan Oktober, menurut indeks manajer pembelian (PMI) resmi. Namun, output industri tumbuh 4,6% pada bulan Oktober, dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, didukung oleh kuatnya penjualan otomotif dan restoran.

Goldman Sachs menulis dalam sebuah catatan bahwa “perbedaan keuntungan di berbagai sektor dan perusahaan tetap signifikan”.

Misalnya, laba perusahaan furnitur turun 11,8% selama 10 bulan pertama tahun 2023 tahun-ke-tahun, sementara laba produsen elektronik melonjak 20,8% dibandingkan periode yang sama.

“Tanda-tanda awal kembalinya siklus elektronik global akan menguntungkan produsen Tiongkok,” kata Xu dari EIU, yang memperingatkan penurunan di sektor ini dan kelebihan kapasitas pada kendaraan listrik, baterai litium, dan sel surya pada tahun 2024.

Editor: Dina Hutauruk