Tangkap Peluang Saat Pasar Kripto Terkoreksi dengan Strategi Buy The Dip



KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Pasar kripto mengalami volatilitas signifikan di pekan kedua bulan September 2023. Investor bisa menangkap peluang terkoreksinya pasar kripto dengan menerapkan strategi buy the dip.

Crypto Analyst Reku, Afid Sugiono mengamati penurunan terjadi di antaranya akibat ketidakpastian suku bunga Amerika Serikat (AS). Kondisi ini menciptakan Fear, Uncertainty, dan Doubt (FUD) di kalangan investor kripto.

Pasar memproyeksikan The Fed akan mempertahankan suku bunga di area 5,25% hingga 5,50%. Namun, investor masih harus menunggu data inflasi bulan Agustus yang dirilis pada 13 September serta pertemuan The Fed pada 20 September mendatang.


Baca Juga: Adanya Perpindahan Pengawas Kripto, Diharapkan Bisa Lebih Melindungi Investor

“Apabila suku bunga AS berhasil dipertahankan, maka ada potensi pasar kripto mengalami reli atau kenaikan harga. Jika suku bunga dinaikkan, pasar kripto akan cenderung masih bearish,” kata Afid dalam siaran pers, Selasa (12/9).

Lebih lanjut, Afid mencermati bahwa sentimen pemicu selanjutnya adalah rumor terkait FTX. Walaupun belum terkonfirmasi, kabar bahwa FTX akan segera melikuidasi asetnya sudah mempengaruhi harga di aset kripto secara signifikan.

Hal itu tercermin di antaranya dari pergerakan Solana (SOL) sebagai salah satu aset yang paling banyak dimiliki oleh FTX, telah mengalami harga turun (sell-off) hingga 5% sejak hari minggu (10/9).

Baca Juga: Bitcoin Stagnan Akibat Ketidakpastian di Pasar Kripto, Bagaimana Prospek Selanjutnya?

FTX yang memiliki aset kripto senilai sekitar US$ 3,4 miliar dikabarkan akan melakukan likuidasi asetnya mulai 13 September mendatang. FTX tengah mempertimbangkan untuk menjual aset senilai US$200 juta setiap minggunya.

“FTX dikabarkan memiliki aset SOL senilai US$ 1.16 miliar, Bitcoin (BTC) senilai US$ 560 juta dan Ethereum (ETH) senilai US$ 192 juta. Selagi menunggu kabar ini terkonfirmasi, diperkirakan pasar kripto masih akan mengalami volatilitas signifikan,” tambah Afid.

Menurit Afid, rumor FTX dapat menyebabkan FUD yang lebih besar karena bisa mempengaruhi harga dengan cepat dan signifikan. Sementara keputusan tentang suku bunga AS, meskipun juga berdampak pada harga, namun biasanya membutuhkan waktu yang cenderung lebih lama untuk mempengaruhi pasar.

“Jadi, selagi menunggu kepastian data inflasi, suku bunga AS, dan konfirmasi rumor FTX, investor bisa memantau kondisi pasar secara berkala, serta mengambil keputusan secara cermat,” imbuhnya.

Baca Juga: Pasar Kripto Bergerak Sideways, Begini Saran Analis

Afid menilai bahwa kondisi ekonomi secara makro saat ini masih dipenuhi tantangan. Walaupun demikian, masih ada peluang bagi investor untuk mengoptimalkan portfolionya di tengah kondisi ini.

Secara historis, harga Bitcoin cenderung positif di periode Oktober dan November 2013 hingga 2022, dengan rata-rata kenaikan 22,35% di September dan 50,61% di Oktober.  Walaupun investor cenderung wait and see terhadap kondisi pasar, secara historis masih ada peluang tren bullish di pasar kripto dalam waktu dekat.

Investor bisa memanfaatkan peluang tersebut dengan masuk ke pasar dan mengambil keuntungan saat harga sedang turun. Strategi ini dikenal dengan istilah buy the dip.

Baca Juga: Saran Investasi Terbaik dari Warren Buffett Agar Cepat Kaya

“Strategi buy the dip dilakukan dengan harapan bisa mendapat keuntungan di saat pasar mulai pulih dan harganya menunjukkan sentimen bullish,” jelas Afid.

Afid mengingatkan investor untuk mendiversifikasikan portfolio, mengingat pasar kripto sangat fluktuatif. Diversifikasi portofolio dapat menjadi penyeimbang terhadap dinamika kondisi aset kripto.

“Diversifikasi ini bukan hanya dalam hal instrumen, namun juga termasuk mengalokasikan aset ke berbagai jenis kripto dan memanfaatkan teknis investasi yang berbeda,” ungkapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Noverius Laoli