Tanpa HSC, Bobot Bank Besar Dominan di IHSG, Apakah Sahamnya Layak Beli?



KONTAN.CO.ID - Jakarta. Perubahan komposisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) setelah saham berstatus High Shareholding Concentration (HSC) dikeluarkan dari perhitungan indeks membuat bobot saham-saham berkapitalisasi besar semakin dominan. Sektor perbankan menjadi salah satu sektor yang paling diuntungkan dari perubahan tersebut.

Pada perdagangan Kamis (5/11/2026), IHSG ditutup menguat 2,25% atau bertambah 110,49 poin ke level 5.030,26. Sementara itu, kapitalisasi pasar saham Indonesia tercatat mencapai Rp 8.780 triliun.

Pasca penyesuaian komposisi, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) masing-masing memiliki bobot 9% terhadap IHSG. Keduanya menjadi saham dengan kontribusi bobot terbesar dalam indeks.


Bobot saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) juga meningkat dari sebelumnya 5,9% menjadi 7,4%. Sementara itu, bobot PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) naik dari 3,6% menjadi 4,6%.

Bursa Efek Indonesia (BEI) tetap menerapkan metode Capped Free Float Adjusted Market Capitalization Weighted dengan batas maksimal bobot setiap saham sebesar 9%.

Dengan demikian, bobot gabungan BBCA, BBRI, dan BMRI mencapai sekitar 25%. Kondisi ini membuat pergerakan saham perbankan berpotensi semakin menentukan arah indeks acuan pasar saham Indonesia.

Baca Juga: Harga Saham Ini Rp 161, Tapi Akan Diakuisisi dengan Banderol Rp 300

Risiko konsentrasi sektor perbankan meningkat

Head of Research RHB Sekuritas, Andrey Wijaya, menilai perubahan komposisi tersebut meningkatkan konsentrasi sektoral IHSG. Akibatnya, pergerakan indeks menjadi lebih sensitif terhadap sentimen yang memengaruhi industri perbankan.

Menurut Andrey, sejumlah faktor yang perlu diperhatikan investor meliputi suku bunga, pergerakan rupiah, pertumbuhan kredit, kualitas aset perbankan, hingga arus dana asing.

"Risiko utamanya adalah meningkatnya konsentrasi sektoral. IHSG menjadi lebih sensitif terhadap sentimen perbankan, seperti suku bunga, rupiah, pertumbuhan kredit, kualitas aset, dan arus dana asing," jelasnya kepada Kontan, Kamis (5/11/2026).

Ia menambahkan, tekanan terhadap IHSG dapat semakin besar apabila investor institusi melakukan aksi jual saham perbankan secara bersamaan. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan korelasi pergerakan saham-saham bank besar dan memberikan tekanan terhadap indeks.

Sebagai ilustrasi, dengan bobot gabungan sekitar 25%, penurunan harga BBCA, BBRI, dan BMRI secara bersamaan sebesar 1% berpotensi memangkas IHSG sekitar 0,25%, dengan asumsi saham lainnya tidak mengalami perubahan harga.

Meski demikian, Andrey menilai pengecualian saham HSC juga memiliki dampak positif. Kebijakan tersebut dapat meningkatkan keterwakilan indeks terhadap saham-saham dengan kepemilikan publik yang memadai. Selain itu, pembatasan bobot maksimal 9% dapat mengurangi dominasi satu emiten terhadap IHSG.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Melonjak US$3, Ketegangan Perang Iran Kembali Memanas

Perubahan bobot berpotensi menggeser alokasi investasi

Equity Research Analyst Pilarmas Investindo Sekuritas, Arinda Izzaty Hafiya, mengatakan perubahan komposisi indeks juga berpotensi memengaruhi strategi alokasi investasi investor institusi dan manajer investasi.

Pasalnya, sejumlah pengelola reksadana menggunakan IHSG sebagai salah satu acuan dalam menyusun portofolio investasi.

Dengan bobot gabungan ketiga bank besar mencapai sekitar 25,4%, aksi beli maupun jual dalam jumlah besar pada saham-saham tersebut dapat memberikan pengaruh signifikan terhadap pergerakan indeks.

Menurut Arinda, risiko utama dari perubahan tersebut bukan hanya peningkatan volatilitas, melainkan semakin besarnya ketergantungan IHSG terhadap kinerja dan prospek sektor perbankan.

Risiko tersebut perlu dicermati terutama ketika sentimen negatif muncul secara bersamaan dan memengaruhi prospek industri perbankan.

Senada, Equity Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Kevin Yudha Pratama, menilai konsentrasi bobot indeks pada saham-saham berkapitalisasi besar membuat pergerakan beberapa emiten utama semakin menentukan arah IHSG.

Kevin menyoroti potensi tekanan ketika investor asing melakukan aksi jual secara serentak. Sentimen seperti pengumuman MSCI, pelemahan rupiah, hingga perubahan arus dana asing dapat memicu tekanan terhadap saham-saham berkapitalisasi besar.

"Konsentrasi pada big caps memang membuat IHSG lebih sensitif terhadap pergerakan beberapa saham utama, terutama ketika investor asing melakukan penjualan secara bersamaan di pasar saham Indonesia," tuturnya.

Namun, Kevin menilai kondisi tersebut belum tentu meningkatkan volatilitas IHSG secara keseluruhan. Sebab, saham-saham perbankan besar umumnya memiliki likuiditas tinggi sehingga transaksi dalam jumlah besar relatif lebih mudah diserap pasar.

Baca Juga: Daftar Saham PER Terendah & Tertinggi LQ45 (5 November 2026), MDKA dan BBTN Melesat

Rekomendasi saham bank besar dan emiten pilihan analis

Di tengah perubahan komposisi IHSG, sejumlah analis masih melihat peluang investasi pada saham-saham perbankan berkapitalisasi besar.

Kevin merekomendasikan saham BBCA dan BMRI dengan target harga untuk 12 bulan ke depan masing-masing sebesar Rp 7.150 dan Rp 4.800. Meski demikian, investor tetap perlu memperhatikan kondisi fundamental dan valuasi sebelum mengambil keputusan investasi.

Sementara itu, Andrey mempertahankan rekomendasi beli untuk BBCA, BBRI, dan BMRI dalam cakupan riset RHB Sekuritas.

BBCA dinilai menarik karena didukung kualitas pendanaan dan ketahanan aset. BBRI menawarkan peluang pemulihan bisnis mikro, sedangkan BMRI memiliki prospek pertumbuhan bisnis dan profitabilitas yang tetap terjaga.

Dari sisi strategi investasi, Andrey menyarankan investor melakukan akumulasi saham secara bertahap dengan mempertimbangkan valuasi dan prospek pertumbuhan laba. Investor juga perlu membatasi konsentrasi portofolio pada saham perbankan agar risiko investasi lebih terukur.

Arinda turut menyarankan strategi selective accumulation atau akumulasi saham secara selektif dan bertahap, terutama ketika terjadi koreksi harga yang tidak disertai perubahan fundamental perusahaan secara signifikan.

Untuk sektor perbankan, Arinda melihat BBCA dapat menjadi pilihan defensif. Sementara BMRI menarik dari sisi valuasi dan pertumbuhan kredit, sedangkan BBRI memiliki peluang pemulihan seiring perbaikan bisnis mikro.

Selain perbankan, Arinda menyarankan diversifikasi portofolio ke saham PT Astra International Tbk (ASII) dan TLKM untuk mengurangi ketergantungan terhadap pergerakan saham bank besar.

Ia menetapkan target harga saham ASII sebesar Rp 6.530 dan TLKM sebesar Rp 3.250.  

BREAKING NEWS! Cristiano Ronaldo Resmi Mundur dari Timnas Portugal
© 2026 Konten oleh Kontan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News