KONTAN.CO.ID - TAIPEI. Taiwan membawa tujuh anggota parlemen asing berpatroli menggunakan kapal Penjaga Pantai (Coast Guard) di sekitar Kepulauan Kinmen, Kamis (9/7/2026), sebagai bentuk penolakan terhadap klaim yurisdiksi maritim China yang kian agresif di kawasan tersebut. Langkah ini menjadi upaya terbaru Taipei untuk menarik perhatian internasional terhadap meningkatnya tekanan Beijing di Selat Taiwan. Patroli tersebut juga menjadi yang pertama kalinya melibatkan legislator asing dalam operasi Coast Guard Taiwan. Rombongan berlayar selama sekitar 90 menit menggunakan kapal patroli PP-10081 di perairan sekitar Kinmen, wilayah yang dikuasai Taiwan tetapi hanya berjarak beberapa kilometer dari kota Xiamen dan Quanzhou di pesisir China.
Sejak 2024, Penjaga Pantai China rutin melakukan patroli di sekitar Kinmen setelah insiden tewasnya dua warga China yang melarikan diri dari kejaran Penjaga Pantai Taiwan usai memasuki perairan terlarang.
Baca Juga: China-Taiwan Bersitegang, Patroli Laut Picu Sengketa Kedaulatan Aktivitas tersebut semakin meluas sejak bulan lalu ketika kapal Penjaga Pantai China mulai berpatroli di perairan lepas pantai timur Taiwan dalam operasi yang disebut sebagai penegakan hukum. Aksi Beijing memicu kekhawatiran dari Amerika Serikat (AS), Inggris, Prancis, dan Jerman, sekaligus memancing protes keras dari Taipei yang menegaskan China tidak memiliki hak untuk mengklaim yurisdiksi atas perairan Taiwan. Delegasi yang ikut dalam patroli terdiri dari tiga anggota parlemen Inggris serta masing-masing satu legislator dari Ukraina, Republik Ceko, India, dan Selandia Baru. Mereka merupakan anggota Inter-Parliamentary Alliance on China (IPAC) dan berkunjung ke Taiwan dalam agenda yang difasilitasi Kementerian Luar Negeri Taiwan bersama Ocean Affairs Council.
Baca Juga: Di Tengah Tekanan China, Perwira Penjaga Pantai Taiwan Andalkan Kekuatan Spiritual Meski selama pelayaran tidak berpapasan dengan kapal Penjaga Pantai China, otoritas Taiwan menyebut kapal China kembali memasuki perairan sekitar Kinmen sehari sebelumnya dalam patroli rutinnya. Kapal PP-10081 sendiri tidak membawa persenjataan yang dipasang di geladak, sementara awak kapal juga tidak terlihat membawa senjata. Selama ini, setiap kali kapal kedua pihak bertemu di sekitar Kinmen, interaksi umumnya terbatas pada saling memberikan peringatan melalui radio tanpa bentrokan fisik. Wakil Direktur Cabang Armada Penjaga Pantai Taiwan, Tsai Chung-mou, mengatakan pemerintah berharap kunjungan tersebut dapat memberikan gambaran langsung kepada komunitas internasional mengenai tekanan yang terus dihadapi Taiwan. "Kami berharap negara-negara yang mendukung kebebasan dan demokrasi memahami bahwa Kinmen berada di garis depan Selat Taiwan dalam menghadapi tekanan Partai Komunis China," ujarnya.
Baca Juga: Kapal Perang Australia Lintasi Selat Taiwan, Militer China Pantau Ketat Selama pelayaran, para legislator juga dapat melihat langsung wilayah pesisir China, termasuk pembangunan bandara baru di Xiamen yang menurut Taiwan dilakukan tanpa memberikan informasi keselamatan penerbangan, meski lokasinya sangat dekat dengan Bandara Kinmen. Kepulauan Kinmen dan Matsu tetap berada di bawah kendali Taiwan sejak pemerintah Republik China pindah ke Taipei pada 1949 setelah kalah dalam perang saudara melawan pasukan komunis pimpinan Mao Zedong.
Hingga kini, kapal Penjaga Pantai Taiwan hanya beroperasi di perairan yang dikuasainya, sementara kapal Penjaga Pantai China secara rutin memasuki kawasan yang sama. Meski ketegangan terus meningkat, kedua pihak sejauh ini belum terlibat bentrokan terbuka. Pemerintah China juga masih menolak berkomunikasi dengan Presiden Taiwan Lai Ching-te yang dianggap sebagai tokoh separatis.
Baca Juga: Kapal Induk China Berlatih di Timur Filipina, Jepang Tingkatkan Pemantauan Sebaliknya, Lai menegaskan hanya rakyat Taiwan yang berhak menentukan masa depan pulau tersebut dan menolak klaim Beijing atas Taiwan maupun representasinya di panggung internasional.