Tantangan di Kota Besar: Mendorong Warga Menggunakan Transportasi Publik



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Transformasi transportasi perkotaan menjadi salah satu kunci menjawab tantangan perubahan iklim, kemacetan, hingga ketimpangan akses mobilitas di kota-kota besar. Di tengah upaya tersebut, peran lembaga berbasis riset dan advokasi menjadi penting untuk mendorong kebijakan transportasi yang lebih terintegrasi, berkelanjutan, dan inklusif.

Salah satu organisasi yang aktif mendorong agenda tersebut adalah Institute for Transportation and Development Policy (ITDP). Organisasi nirlaba global ini menggandeng pemerintah dan kota untuk merancang sistem transportasi berkualitas tinggi yang bertujuan meningkatkan kualitas hidup masyarakat, mengurangi emisi karbon, serta memperkuat inklusi sosial.

Di Indonesia, ITDP telah hadir sejak 2001 dan menjadi bagian dari jaringan global yang beroperasi di berbagai negara. Selama lebih dari dua dekade, ITDP Indonesia telah mendampingi lebih dari 26 kota di 10 negara, mulai dari tahap perencanaan hingga implementasi kebijakan transportasi perkotaan.


Direktur Asia Tenggara ITDP, Gonggomtua Sitanggang menjelaskan, ITDP berperan dalam berbagai transformasi transportasi di Indonesia, termasuk mendukung pengembangan sistem bus rapid transit (BRT) dan integrasi layanan di berbagai kota. Salah satu kontribusi penting adalah pendampingan pengembangan Transjakarta, yang kini melayani hingga sekitar 1,5 juta penumpang per hari.

"ITDP juga terlibat dalam penyusunan kajian dan peta jalan integrasi transportasi Jabodetabek yang kemudian diadopsi dalam Undang-Undang Daerah Khusus Jakarta (UU DKJ). Pendekatan ini mencakup integrasi tarif, fisik, hingga kelembagaan antar moda transportasi," kata Gonggom, belum lama ini.

Baca Juga: Peralihan ke Transportasi Publik Bisa Jadi Salah Satu Upaya Hemat BBM

Namun demikian, tantangan masih besar. Berdasarkan data Dinas Perhubungan DKI Jakarta, pangsa penggunaan transportasi publik di Jakarta baru mencapai sekitar 11,6% pada 2024, jauh di bawah dominasi kendaraan pribadi yang mencapai sekitar 78% . Kondisi ini menunjukkan perlunya percepatan reformasi sistem transportasi publik yang lebih menarik dan efisien.

Dalam upaya menekan emisi, ITDP mendorong percepatan elektrifikasi transportasi publik. Indonesia sendiri menargetkan hingga 90% armada angkutan umum telah terelektrifikasi pada 2030.

ITDP berkontribusi melalui penyusunan peta jalan elektrifikasi serta pendampingan implementasi bus listrik, termasuk di Jakarta. Penggunaan bus listrik dinilai mampu menurunkan biaya operasional kendaraan hingga lebih dari 20% untuk beberapa kategori armada .

Selain aspek efisiensi, elektrifikasi juga menjadi bagian dari strategi besar untuk menciptakan sistem transportasi rendah emisi, sejalan dengan target pembatasan kenaikan suhu global.

Di sisi lain, ITDP  mendorong pengembangan mobilitas aktif melalui penyediaan infrastruktur pejalan kaki dan pesepeda yang aman serta terintegrasi. Di Jakarta, misalnya, ITDP turut mendukung pengembangan lebih dari 225 km trotoar serta perencanaan jaringan jalur sepeda hingga 500 km.

Konsep transit oriented development (TOD) juga menjadi fokus penting, dengan integrasi antara tata ruang dan transportasi guna mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi. Salah satu contoh kawasan yang dikembangkan adalah kawasan Blok M sebagai pusat TOD yang terintegrasi dengan moda transportasi publik.

Melalui kombinasi riset, advokasi kebijakan, dan pendampingan teknis, ITDP menargetkan peningkatan penggunaan transportasi publik hingga 50%, percepatan adopsi kendaraan listrik, serta peningkatan pembiayaan transportasi berkelanjutan dalam beberapa tahun mendatang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News