KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tantangan yang menyelimuti emiten semen sepanjang semester II 2026 dinilai masih berat. Salah satu pemberatnya adalah suku bunga yang dinaikkan ke 5,75% pada RDG Juni 2026. Hal itu memperburuk industri semen nasional yang sudah mengalami
over supply sejak beberapa tahun belakangan.
Corporate Secretary PT Semen Indonesia Tbk (SMGR), Vita Mahreyni mengatakan, salah satu strategi untuk menjaga ketahanan usaha sekaligus menciptakan sumber pertumbuhan baru bagi perseroan adalah dengan memperluas pasar ekspor.
Langkah tersebut diwujudkan melalui ekspor semen tipe khusus ke Amerika Serikat setelah fasilitas ekspor di Tuban, Jawa Timur, mulai beroperasi.
Baca Juga: Strategi Mayora Indah (MYOR) Hadapi Pelemahan Daya Beli Masyarakat Melalui anak usahanya, PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SMCB), SIG telah mengirimkan 97.500 metrik ton (MT) semen tipe khusus ke pasar Amerika Serikat (AS). “Ekspor tersebut merupakan bagian dari kerja sama strategis antara PT Solusi Bangun Indonesia Tbk dengan Taiheiyo Cement Corporation,” ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (6/7). Sepanjang 2026, SIG pun menargetkan total ekspor mencapai 450.000 MT semen tipe khusus ke Amerika Serikat yang akan direalisasikan secara bertahap. Vita bilang, SMGR membukukan volume penjualan sebesar 15,09 juta ton sepanjang Januari–Mei 2026, naik 4,4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 14,46 juta ton. “Segmen semen kantong menjadi kontributor utama dengan lonjakan penjualan mencapai 11,9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya,” katanya. Kinerja emiten semen pada kuartal II-2026 pun dinilai akan cenderung membaik secara bertahap dibandingkan kuartal I, meskipun perbaikannya belum terlalu signifikan. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta mengatakan, industri semen pada kuartal II biasanya mendapat dukungan dari mulai meningkatnya aktivitas konstruksi pasca Lebaran serta berjalannya proyek-proyek pemerintah maupun swasta. “Selain itu, permintaan dari segmen ritel atau semen kantong relatif lebih stabil dibandingkan semen curah, sehingga dapat membantu menopang volume penjualan,” katanya kepada Kontan, Sabtu (11/7). Namun, perbaikan tersebut masih dibatasi oleh tingginya persaingan harga akibat kelebihan kapasitas
(oversupply). Alhasil, pertumbuhan laba kemungkinan lebih banyak ditentukan oleh keberhasilan emiten menjaga efisiensi biaya dibandingkan sekadar meningkatkan volume penjualan. Di sisi lain, kondisi suku bunga acuan yang masih bertahan di level tinggi jelas membebani emiten semen secara tidak langsung. Misalnya, akibat perlambatan ekspansi sektor properti lantaran tingginya bunga KPR dan tingginya biaya modal untuk proyek swasta baru. “Adapun fokus emiten kini mulai bergeser dari mengejar volume menuju peningkatan margin, melalui efisiensi energi, penggunaan bahan bakar alternatif (alternative fuel/RDF), serta peningkatan porsi produk bernilai tambah seperti semen hijau,” ungkapnya. Senior Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas melihat, peluang kinerja emiten semen untuk lebih dari dari kuartal tetap ada melihat result kinerja para emiten yang berhasil tumbuh. Misalnya, SMGR masih mampu tumbuh, baik untuk pendapatan maupun laba.
Baca Juga: Proyeksi IHSG dan Rekomendasi Saham untuk Perdagangan Senin (13/7) “Hanya saja hambatan kenaikan suku bunga pada kuartal II bisa membuat permintaan melemah, sehingga peluang di kuartal II untuk lebih baik masih tipis,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (10/7/2026). Nafan berpandangan, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) menjadi unggulan hingga akhir 2026 karena kondisi kas keuangan yang sangat kuat dan tingkat utang (leverage) yang sangat minim. Hal ini membuat INTP sangat resilien di era suku bunga tinggi. “Ditambah lagi, penguasaan pasar (
market share) mereka yang stabil di kisaran 29% pasca-integrasi semen Grobogan memperkuat posisi tawar mereka,” katanya. Sedangkan, SMGR tetap menjadi market leader dominan yang paling diuntungkan oleh eksposur belanja infrastruktur strategis nasional berkat jaringan logistik dan fasilitas penggilingan terintegrasi, serta penetrasi pasar ekspornya yang paling agresif. Nafan pun merekomendasikan beli untuk SMGR dengan target harga Rp 1.740 per saham. Rekomendasi
add disematkan untuk INTP dengan target harga Rp 4.690 per saham. Sukarno bilang, suku bunga tinggi akan menyebabkan permintaan semen melemah. Sentimen positif ke emiten semen pun lebih ke efisiensi yang dilakukan. Misalnya, SMGR yang melikuidasi anak usaha sebagai bentuk efisiensi, sehingga meningkatkan
bottom line. Sentimen negatif lebih kepada
oversupply yang masih membayangi industri semen di tengah kenaikan suku bunga. Sukarno pun merekomendasikan beli untuk SMGR dengan target harga Rp 2.000 per saham. “Selain itu harga sudah tergolong diskon juga,” paparnya.
Baca Juga: Proyeksi IHSG dan Rekomendasi Saham untuk Perdagangan Senin (13/7) Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News