KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Defisit perdagangan di sektor minyak dan gas (migas) kembali menjadi penyebab defisit neraca dagang Indonesia yang mencapai US$ 0,45 miliar pada Juni 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca dagang non-migas menyumbang surplus sebanyak US$ 3,04 miliar, sedangkan perdagangan migas mencetak defisit sebesar US$ 3,49 miliar. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengungkapkan bahwa nilai impor migas pada bulan Juni 2026 mencapai US$ 4,56 miliar. Melonjak sebesar 105,15% secara
year on year (yoy) dibandingkan nilai impor US$ 2,22 miliar pada Juni 2025. Secara kumulatif, nilai impor migas tercatat sebesar US$ 22 miliar pada periode Januari - Juni 2026. Meningkat 38,71% dibandingkan nilai impor US$ 15,86 miliar pada periode yang sama tahun lalu (c-to-c).
Baca Juga: ASSA Bukukan Pendapatan Rp 3,06 Triliun Semester I-2026, Laba Bersih Turun 2,1% Merujuk Berita Resmi Statistik, impor migas sepanjang semester I-2026 bersumber dari impor minyak mentah sebesar US$ 5,84 miliar dan impor hasil minyak sebesar US$ 16,15 miliar. Masing-masing mengalami kenaikan 39,96% dan 38,27% dibandingkan periode Januari - Juni 2025. Hasil tersebut membuat defisit neraca perdagangan migas Januari - Juni 2026 membesar ke posisi US$ 15,77 miliar. Nilai tersebut melonjak 76,59% dibandingkan defisit US$ 8,93 miliar pada periode yang sama tahun lalu. "Komoditas utama penyumbang defisit pada migas yaitu hasil minyak dan juga minyak mentah. Impor migas, secara keseluruhan mengalami peningkatan baik nilai dan volumenya, di samping kenaikan harga dan juga cukup tinggi," ungkap Ateng dalam rilis BPS yang disiarkan pada Senin (3/8/2026). Ateng mengungkapkan bahwa impor migas Indonesia terutama berasal dari Singapura dengan kontribusi sebanyak 28,36%, Malaysia (19,72%) dan Amerika Serikat (8,55%). Sedangkan untuk impor minyak mentah, Nigeria mendominasi dengan porsi 24,91% terhadap impor minyak mentah Januari - Juni 2026. Disusul oleh Angola (15,41%) dan Saudi Arabia (13,62%). Ateng tidak merinci detail impor minyak mentah dan hasil minyak sepanjang semester I-2026. Ateng hanya memberikan gambaran bahwa volume dan nilai impor untuk minyak mentah mengalami fluktuasi. Pada bulan Januari 2026, volume impor minyak mentah tercatat sebanyak 2,52 juta ton. Kemudian turun menjadi 0,61 juta ton pada bulan Februari, dan naik kembali dengan volume 1,56 juta ton pada bulan Maret. Pada bulan April volume impor minyak mentah tercatat sebanyak 1,60 juta ton, dan 0,71 juta ton pada bulan Mei. Dihubungi terpisah,
Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Muhammad Baron tidak menanggapi secara langsung mengenai lonjakan defisit neraca dagang migas pada semester I-2026. Baron menyatakan bahwa impor minyak mentah maupun produk Bahan Bakar Minyak (BBM) merupakan bagian dari upaya pemenuhan kebutuhan energi nasional. Kebutuhan impor tersebut tidak terlepas dari kondisi di Indonesia, di mana produksi migas domestik saat ini masih belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan masyarakat. "Sebagai BUMN, Pertamina menjalankan perannya untuk menjamin ketersediaan energi bagi masyarakat di seluruh Indonesia," kata Baron saat dihubungi Kontan.co.id, Selasa (4/8/2026). Baron mengatakan, Pertamina secara berkelanjutan melakukan evaluasi dan penyesuaian kebutuhan pengadaan minyak mentah maupun produk BBM berdasarkan perkembangan permintaan energi nasional, kondisi pasokan domestik, serta kesiapan operasional kilang. Pertamina akan mengoptimalkan pemanfaatan pasokan domestik dan peningkatan fleksibilitas pengadaan untuk memperkuat ketahanan energi nasional. "Pertamina terus berkoordinasi dengan Pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan terkait untuk memastikan strategi pengadaan dan distribusi energi dapat berjalan secara optimal, sehingga kebutuhan energi nasional tetap terpenuhi dengan baik," tegas Baron.
Baca Juga: Antisipasi El Nino di 2026, Pemerintah Perkuat Irigasi hingga Asuransi Pertanian Tantangan dan Risiko Struktural
Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Pemasok Energi, Mineral dan Batubara Indonesia (Aspebindo) Anggawira menyoroti melonjaknya defisit neraca perdagangan sektor migas hingga mencapai US$ 15,77 miliar pada semester I-2026 merupakan sinyal persoalan ketahanan energi masih sangat struktural. Menurut Anggawira, defisit ini bukan semata-mata dipicu oleh kenaikan harga minyak dunia, tetapi juga menunjukkan bahwa pertumbuhan kebutuhan energi nasional belum diimbangi dengan peningkatan kapasitas produksi dan pengolahan di dalam negeri. "Kondisi ini tentu memberikan tekanan terhadap neraca perdagangan, kebutuhan devisa, serta meningkatkan kerentanan nilai tukar rupiah ketika terjadi gejolak geopolitik maupun volatilitas harga minyak global," kata Anggawira saat dihubungi Kontan.co.id, Selasa (4/8/2026). Di sisi lain, Anggawira menegaskan bahwa lonjakan impor minyak mentah dan hasil minyak tidak sertamerta membawa dampak positif bagi pelaku usaha logistik maupun supplier energi. Dia menjelaskan, bagi perusahaan logistik, bertambahnya volume impor dapat meningkatkan permintaan jasa bongkar muat, pergudangan, transportasi, terminal BBM, pelayaran, hingga distribusi. Begitu juga bagi supplier energi, terdapat peluang peningkatan volume perdagangan dan pengadaan. Namun, Anggawira menyatakan peningkatan volume tersebut tidak selalu diikuti dengan peningkatan keuntungan. Dalam kondisi harga minyak dunia yang tinggi dan sangat fluktuatif, biaya modal kerja (
working capital) meningkat tajam karena perusahaan harus menyediakan dana yang jauh lebih besar untuk membeli volume barang yang sama. Akibatnya, kebutuhan pembiayaan dari perbankan juga meningkat sehingga biaya bunga ikut bertambah. Selain itu, risiko bisnis juga semakin tinggi. Perusahaan harus menghadapi volatilitas harga minyak, fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, kenaikan biaya asuransi dan pengangkutan, hingga potensi keterlambatan pasokan akibat gangguan rantai logistik global.
Baca Juga: Laba KAI Anjlok 73% di Semester I, Beban Investasi Proyek Whoosh Jadi Pemicu Margin keuntungan justru bisa tertekan apabila kenaikan biaya tersebut tidak dapat langsung diteruskan kepada pelanggan. "Pelaku usaha tentu lebih menginginkan peningkatan aktivitas bisnis yang berasal dari naiknya produksi migas dalam negeri, pembangunan kilang, perluasan infrastruktur gas, bioenergi, maupun energi terbarukan, dibandingkan semata-mata karena meningkatnya impor," tegas Anggawira. Ekonom & Manajer Riset Strategis Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet menyoroti adanya tekanan dari dua sisi yang membuat lonjakan impor dan defisit neraca dagang migas pada paruh pertama 2026. Yakni harga yang lebih tinggi dan kebutuhan domestik yang terus bertambah, sementara produksi dalam negeri belum mampu mengimbanginya. Porsi impor hasil minyak yang semakin besar juga menunjukkan kapasitas kilang nasional masih belum memadai sehingga sebagian besar kebutuhan bahan bakar masih bergantung pada impor. Catatan Yusuf, impor hasil minyak tidak hanya mencakup BBM saja. Impor hasil minyak juga meliputi produk non-BBM seperti pelumas, nafta, aspal dan bahan baku petrokimia. Dus, lonjakan defisit neraca dagang migas mengindikasikan bahwa persoalan yang dihadapi bersifat struktural, bukan sekadar faktor musiman. Yusuf memprediksi risiko defisit migas masih cukup tinggi pada semester II-2026. Terutama jika volatilitas harga minyak berlanjut akibat eskalasi ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Gangguan pasokan dari Timur Tengah dapat dengan cepat mendorong lonjakan harga minyak dunia. Di sisi lain, kebutuhan energi Indonesia relatif tidak elastis dalam jangka pendek sehingga volume impor sulit turun secara signifikan. Akibatnya, nilai impor migas berpotensi kembali meningkat. Sebaliknya, jika pasokan global bertambah atau permintaan dunia melemah, harga minyak dapat terkoreksi sehingga tekanan terhadap defisit sedikit mereda. "Secara umum, saya memperkirakan defisit migas sepanjang 2026 masih akan lebih besar dibanding tahun lalu, kecuali ada kebijakan yang mampu menekan impor secara nyata," ungkap Yusuf. Peneliti dan Pengamat Kebijakan Publik Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA) Badiul Hadi turut menyoroti bahwa defisit neraca dagang migas yang menembus US$ 15,77 miliar pada Semester I-2026 menunjukkan persoalan utamanya bukan lagi soal fluktuasi harga minyak. Tetapi ketergantungan terhadap impor semakin besar, sementara produksi nasional terus tertinggal. "Yang perlu dicermati bukan hanya angka defisitnya, tetapi dampaknya. Semakin besar impor migas, semakin besar pula kebutuhan devisa, tekanan terhadap rupiah, dan potensi membengkaknya subsidi maupun kompensasi energi dalam APBN," ujar Badiul.
Badiul juga memperkirakan risiko defisit migas pada semester kedua ini masih tinggi. Konflik geopolitik, khususnya di Timur Tengah membuat harga minyak sulit stabil. Kalaupun harga minyak dunia turun, defisit belum tentu langsung membaik. Sebab, selama produksi minyak nasional belum meningkat dan kebutuhan energi terus naik, Indonesia tetap harus mengimpor dalam jumlah besar. "Artinya, persoalan terbesar bukan hanya harga minyak dunia, melainkan ketergantungan struktural terhadap impor. Selama akar masalah ini belum dibenahi, setiap gejolak global akan terus memukul ekonomi nasional," pungkas Badiul.
Baca Juga: Samator (AGII) Optimistis Permintaan Gas Industri Tumbuh pada Semester II-2026 Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News