Tantangan rupiah menghadang!



JAKARTA. Sentimen pemerintah baru sukses mengangkat rupiah. Kemarin, saat IHSG memble dan terjadi net sell, rupiah perkasa. Di kurs tengah Bank Indonesia (BI) rupiah menyentuh Rp 11.993, menguat dibanding sehari sebelumnya di Rp 12.042. Kurs rupiah menjadi salah satu kunci penting bagi stabilitas perekonomian pemerintah baru.

Kemarin, BI mengumumkan hasil stress test Oktober 2014 untuk melihat dampak pelemahan nilai tukar dan penurunan harga aset ke ketahanan perbankan, ketahanan korporasi dan rumah tangga (lihat infografik). Jika kurs rupiah ambruk, bisa dipastikan tiga sektor vital itu terganggu. Apakah tukar rupiah kini aman?

Fauzi Ichsan, Ekonom Standard Chartered Bank Indonesia menilai, rupiah masih terancam karena investor khawatir pemerintah sulit menjalankan program akibat parlemen dikuasai oposisi. Tapi hingga akhir tahun, Fauzi optimistis rupiah menguat ke Rp 11.700, dengan catatan kenaikan harga BBM terjadi tahun ini dan defisit APBN berkurang. Bila kenaikan batal di 2014 dan defisit melebar, rupiah loyo ke Rp 12.500.


Nurul Eti Nurbaeti, Head of Research Divisi Treasury Bank BNI menilai, penguatan rupiah berlanjut selama pasar masih optimistis atas kepemimpinan Joko Widodo. Prediksinya, rupiah akhir tahun kembali ke Rp 12.000. Seorang tresuri bank Eropa di Singapura menjelaskan, di jangka pendek pasar menanti susunan dan kiprah kabinet serta inflasi akibat kenaikan harga BBM.

Dari luar negeri, pasar mengkhawatirkan lesunya ekonomi global. "Tapi rada tenang begitu PDB China kuat, meski menurun dibandingkan bulan lalu," terangnya. Ia memprediksi, akhir 2014 rupiah di Rp 11.800. Tahun depan, faktor eksternal akan lebih dominan mempengaruhi rupiah. Pertama, apakah suku bunga The Fed jadi naik atau tidak.

Kedua, stimulus Bank Sentral Eropa (ECB). "Ada rumor, ECB ingin injeksi duit ke korporasi, tapi mendapat penolakan," kata tresuri bank Eropa tadi. Ketiga, ekonomi China. Keempat, tapering off AS. Kelima, satu-satunya faktor lokal adalah keberanian BI menaikkan bunga untuk menangkal efek kenaikan harga BBM.

David Sumual, Ekonom Bank Central Asia bilang, isu kenaikan bunga The Fed akan mengiringi gerak rupiah tahun depan. Ia berharap, pemerintah mengantisipasi dengan kebijakan yang dapat mendatangkan investasi langsung untuk mengimbangi dampak negatif. Akhir 2015,

David memprediksi, rupiah akan berada di level Rp 12.000. Sementara bankir Eropa tadi berharap, kurs rupiah di akhir 2015 terdepresiasi stabil. "Antara 2%-5% dibanding akhir 2014," terangnya. Yakni di Rp 12.036 - Rp 12.390.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie