KONTAN.CO.ID - Intip PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) kembali membagikan dividen tunai interim kepada pemegang saham untuk tahun buku 2026. Emiten perkebunan kelapa sawit ini menetapkan dividen sebesar Rp70 per saham dengan total nilai maksimal mencapai Rp1,39 triliun. Pembagian dividen tersebut didukung oleh kinerja keuangan yang positif. Hingga akhir September 2026, TAPG mencatatkan pendapatan Rp9,45 triliun dan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp3,51 triliun. Kedua indikator tersebut meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Selain membagikan dividen, TAPG memiliki kegiatan usaha yang mencakup perkebunan kelapa sawit, pengolahan hasil perkebunan, serta sejumlah lini usaha pendukung lainnya.
Mengutip data
IPOT, harga saham TAPG alami pelemahan dengan turun Rp1.905/saham atau memerah 1,04% pada sesi 1 hari Selasa (3/11). Lalu, seperti apa profil emiteni ini? Cek kinerja keuangan terbaru dari TAPG.
Baca Juga: Segera Tebar Dividen Interim Rp406 per saham, Cek Profil BSSR dan Kinerja Terkini Profil Perusahaan TAPG
PT Triputra Agro Persada Tbk merupakan perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan dan pengolahan kelapa sawit. Perusahaan berdiri pada 2005 dan resmi mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 12 April 2021 dengan kode saham TAPG. Kegiatan operasional perusahaan dijalankan melalui sejumlah entitas anak yang mengelola perkebunan dan fasilitas pengolahan. Wilayah operasinya mencakup Jambi, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur. TAPG merupakan bagian dari Grup Triputra yang didirikan oleh pengusaha Theodore Permadi Rachmat. Berdasarkan data kepemilikan per 30 September 2026, Persada Capital Investama menjadi pemegang saham terbesar dengan kepemilikan sekitar 33,07%, diikuti Triputra Investindo Arya sebesar 24,03% dan Daya Adicipta Mustika sebesar 19,94%.
Lini Bisnis TAPG
Kegiatan usaha utama TAPG berfokus pada perkebunan kelapa sawit dan pengolahan produk turunannya. Perusahaan mengintegrasikan kegiatan perkebunan dengan fasilitas pengolahan untuk menghasilkan berbagai produk yang dipasarkan ke pelanggan domestik maupun industri terkait.
- Perkebunan kelapa sawit TAPG mengelola perkebunan kelapa sawit sebagai sumber utama bahan baku produksi. Kegiatan ini mencakup pengelolaan lahan, pemeliharaan tanaman, hingga pemanenan tandan buah segar (TBS).
- Pengolahan minyak kelapa sawit Perusahaan mengolah hasil perkebunan menjadi produk minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO). Produk ini menjadi salah satu komoditas utama dalam rantai industri minyak nabati.
- Pengolahan inti sawit Selain CPO, TAPG menghasilkan produk turunan berupa minyak inti sawit atau palm kernel oil (PKO), inti sawit, dan bungkil inti sawit. Produk tersebut digunakan sebagai bahan baku berbagai industri, termasuk pangan dan pakan ternak.
- Perkebunan dan produk karet TAPG juga menjalankan kegiatan perkebunan karet dan menghasilkan produk karet beserta turunannya. Kontribusi bisnis ini lebih kecil dibandingkan segmen kelapa sawit.
- Usaha pendukung lainnya Grup TAPG memiliki sejumlah kegiatan pendukung dan usaha lain melalui entitas anak maupun perusahaan asosiasi, termasuk kegiatan restorasi ekosistem, pertambangan, konsultasi manajemen, dan jasa teknologi informasi.
Baca Juga: Bagikan Dividen Interim Rp 300 Miliar, Intip Profil SIDO hingga Kinerja Terbaru TAPG Bagikan Dividen Interim Rp70 per Saham
TAPG mengumumkan pembagian dividen tunai interim tahun buku 2026 sebesar Rp70 per saham. Total dividen yang disiapkan mencapai maksimal Rp1.389.677.800.000 atau sekitar Rp1,39 triliun. Keputusan pembagian dividen ditetapkan melalui keputusan sirkuler Direksi pada 28 Oktober 2026 dan memperoleh persetujuan Dewan Komisaris pada 30 Oktober 2026. Berikut jadwal pembagian dividen interim TAPG:
| Keterangan | Tanggal |
| Pengumuman dividen | 2 November 2026 |
| Cum dividen pasar reguler dan negosiasi | 10 November 2026 |
| Ex dividen pasar reguler dan negosiasi | 11 November 2026 |
| Cum dividen pasar tunai | 12 November 2026 |
| Recording date | 12 November 2026 |
| Ex dividen pasar tunai | 13 November 2026 |
| Pembayaran dividen | 27 November 2026 |
Investor yang ingin memperoleh dividen melalui transaksi di pasar reguler perlu memiliki saham TAPG paling lambat pada tanggal cum dividen, yaitu 10 November 2026. Pemegang saham yang tercatat dalam daftar pemegang saham pada recording date berhak menerima pembagian dividen tersebut.
Baca Juga: UNIC Tebar Dividen Rp 1.447 per Saham: Intip Profil Emiten Kimia dan Kinerjanya Kinerja Keuangan TAPG hingga September 2026
Berdasarkan laporan keuangan interim, TAPG mencatatkan pendapatan sebesar Rp9,45 triliun. Nilai tersebut meningkat 15,09% dibandingkan Rp8,21 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan pendapatan turut mendorong pertumbuhan laba kotor. TAPG membukukan laba bruto Rp4,12 triliun, naik dari Rp3,13 triliun pada sembilan bulan pertama 2025. Sementara itu, laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp3,51 triliun, meningkat sekitar 30,82% dibandingkan Rp2,68 triliun pada periode sebelumnya. Berikut perbandingan kinerja keuangan TAPG:
| Keterangan | 9 Bulan 2026 | 9 Bulan 2025 |
| Pendapatan | Rp9,45 triliun | Rp8,21 triliun |
| Beban pokok penjualan | Rp5,33 triliun | Rp5,08 triliun |
| Laba bruto | Rp4,12 triliun | Rp3,13 triliun |
| Laba sebelum pajak | Rp4,38 triliun | Rp3,33 triliun |
| Laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk | Rp3,51 triliun | Rp2,68 triliun |
| Laba per saham dasar | Rp177 | Rp135 |
Dari sisi pendapatan, produk kelapa sawit dan turunannya menjadi kontributor terbesar. Hingga September 2026, pendapatan dari produk tersebut mencapai sekitar Rp9,43 triliun. Sementara itu, produk karet dan turunannya menyumbang sekitar Rp21,46 miliar. Selain pertumbuhan pendapatan dan laba, TAPG mencatatkan total aset sebesar Rp15,46 triliun per 30 September 2026. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan posisi akhir 2025 sebesar Rp14,70 triliun.
Pada periode yang sama, total liabilitas tercatat Rp3,23 triliun, sedangkan total ekuitas mencapai Rp12,23 triliun.
| Keterangan | 30 September 2026 |
| Total aset | Rp15,46 triliun |
| Total liabilitas | Rp3,23 triliun |
| Total ekuitas | Rp12,23 triliun |
Posisi tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar aset perusahaan ditopang oleh ekuitas. Namun, investor tetap perlu memperhatikan perkembangan kebutuhan modal kerja, biaya produksi, serta kondisi industri kelapa sawit.
Tonton: Prabowo 2 Tahun, Mampukah Indonesia Lepas dari Impor Energi? Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News