Target Asaki Tarik Investasi Rp 5 Triliun, Utilisasi Keramik Tembus 80% pada 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) telah menggelar Rapat Umum Anggota (RUA) pada 13 Januari 2026. Dalam agenda yang berlangsung di Jakarta tersebut,  Edy Suyanto kembali terpilih sebagai Ketua Umum Asaki periode 2026–2029.

Edy pun memaparkan peta jalan (roadmap) pengembangan industri keramik nasional. Roadmap tersebut mencakup rencana investasi baru sekitar Rp 5 triliun. Ekspansi ini membuka potensi kapasitas produksi 70 juta meter persegi per tahun, serta penyerapan sekitar 3.500 tenaga kerja baru.

“Dengan sinergi kuat antara pemerintah dan pelaku industri, kami yakin industri keramik nasional tidak hanya bangkit, tetapi juga menjadi pemain utama di kawasan,” ungkap Edy melalui keterangan tertulis yang disiarkan pada Rabu (14/1/2026).


Asaki pun membidik utilisasi produksi keramik tahun ini akan mencapai 80%, atau menyentuh level tertinggi dalam satu dekade terakhir. Edy mengungkapkan optimisme tersebut didorong oleh kombinasi kebijakan pemerintah yang pro-industri, peningkatan kapasitas produksi, serta prospek pertumbuhan konsumsi domestik yang masih sangat besar.

Baca Juga: Kuota Produksi Nikel Nasional 2026 Dibatasi: 260 Juta Ton Jadi Batas Atas

“Target ini realistis dengan catatan dukungan kebijakan pemerintah tetap konsisten dan persoalan struktural industri segera diselesaikan,” ungkap Edy.

Dorongan kebijakan strategis pemerintah meliputi penerapan bea masuk anti-dumping dan safeguard Keramik, Standar Nasional Indonesia (SNI) wajib untuk produk keramik, program pembangunan 3 juta unit rumah, insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) sektor properti, penurunan suku bunga perbankan, serta program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) 350.000 unit rumah.

"Asaki menilai kebangkitan industri keramik tak lepas dari berbagai kebijakan strategis pemerintah. Kebijakan tersebut diyakini mampu mendongkrak permintaan keramik domestik secara signifikan," ujar Edy.

Asaki memproyeksikan, kapasitas terpasang ubin keramik nasional akan terus meningkat. Pada 2026, kapasitas terpasang keramik diproyeksikan akan menyentuh 672 juta meter persegi per tahun. Kenaikan berlanjut pada 2027, yang diproyeksikan mencapai 701 juta meter persegi per tahun.

Kemudian pada tahun 2029 diperkirakan mencapai 720 juta meter persegi per tahun. Meski begitu, Asaki mencatat bahwa tingkat konsumsi keramik per kapita Indonesia masih relatif rendah. Pada tahun 2029 konsumsi diperkirakan baru mencapai 2,5 meter persegi per kapita.

Masih tertinggal dibandingkan China dan Vietnam sekitar 4 meter persegi per kapita, maupun Malaysia dan Thailand sekitar 3 meter –3,5 meter persegi per kapita. “Artinya, ruang ekspansi industri keramik nasional masih sangat besar," ujar Edy.

Hanya saja di balik optimisme tersebut, Asaki mencatat sejumlah tantangan krusial yang membutuhkan perhatian serius pemerintah. Pertama, krisis pasokan gas industri. Asaki mencatat industri keramik di Jawa Barat hanya menerima sekitar 60%, sementara Jawa Timur hanya menerima 50% – 55% pasokan gas sesuai Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) sebesar US$ 7 per MMBTU.

Baca Juga: IPC Terminal Petikemas Catat Kinerja Tertinggi, Total Kapasitas Capai 3,6 Juta TEUs

Kekurangannya harus ditebus dengan harga surcharge yang mahal hingga US$ 15,4 per MMBTU, yang menekan daya saing dan utilisasi produksi. Kedua, lonjakan impor keramik.

Berdasarkan data Asaki sepanjang 2025, impor keramik melonjak drastis dari sejumlah negara, yakni: India dengan kenaikan 55%, Vietnam naik 32%, dan Malaysia melonjak 210%.

Asaki pun akan bekerjasama dengan Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) untuk menyelidik lonjakan  impor tersebut.

"Kami akan bekerja sama dengan KADI untuk menginisiasi penyelidikan dumping terhadap India pada semester I-2025, serta menelusuri dugaan transhipment produk China melalui Malaysia," ungkap Edy.

Ketiga, masalah bahan baku tanah liat. Menurut Edy, pencabutan izin tambang di Jawa Barat menyebabkan gangguan pasokan bahan baku. Keempat, usulan pemindahan pintu masuk impor. Asaki mendorong percepatan kebijakan pemindahan pelabuhan masuk impor ke luar Pulau Jawa guna melindungi industri domestik.

Di sisi lain, selain ubin keramik, kepengurusan Asaki periode terbaru juga menaruh perhatian besar terhadap industri tableware. Saat ini tingkat utilisasinya masih di bawah 50% akibat serbuan produk impor China yang diduga dumping dan ilegal.

"Asaki mendukung penuh kebijakan sertifikasi halal untuk produk tableware sebagai instrumen non-tariff barrier demi melindungi konsumen sekaligus industri nasional," tandas Edy.

Dalam pemberitaan Kontan.co.id sebelumnya, kinerja industri keramik membaik pada tahun 2025. Rata-rata utilisasi meningkat dari 66% pada tahun 2024 menjadi 73% pada 2025.

Baca Juga: Humpuss Maritim Internasional (HUMI) Rombak Susunan Direksi dan Komisaris

Peningkatan utilisasi ini mendongkrak volume produksi sekitar 62 juta m² menjadi 474,5 juta m² sepanjang tahun lalu. Hasil itu mencerminkan pertumbuhan sekitar 15% dibandingkan tahun sebelumnya.

"Sebagai catatan, Indonesia adalah satu-satunya negara produsen keramik baik di Asia, Eropa maupun Amerika yang mampu mencatat pertumbuhan tingkat utilisasi produksi dan kapasitas produksi pada tahun 2025," kata Edy saat dihubungi Kontan.co.id, Selasa (6/1/2026) lalu.

Asaki bahkan melihat potensi tingkat utilisasi bisa menembus level 90%, jika permintaan dari pasar dalam negeri naik cukup signifikan. Pasar domestik memang menjadi andalan para produsen keramik, lantaran kontribusi dari ekspor masih mini, yakni sekitar 3% - 4% dari total produksi.

Edy pun menyoroti Program 3 juta unit rumah. Apabila program ini terealisasi sesuai target, maka berpotensi mendongkrak utilisasi industri keramik hingga ke level 96%. Hanya saja, Edy memberikan catatan bahwa ada sederet tantangan yang masih membayangi industri keramik nasional.

Selanjutnya: Alexandr Wang Tertekan: Inovasi AI Meta Terancam Kontrol Zuckerberg?

Menarik Dibaca: Masih Lanjut Melonjak, Simak Harga Emas Galeri 24 & UBS di Pegadaian Hari Ini (15/1)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News