KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Presiden Prabowo Subianto mendorong percepatan reformasi pasar modal Indonesia lewat demutualisasi Bursa Efek Indonesia (BEI). Langkah ini dianggap berpotensi mengangkat pasar modal domestik ke standar internasional sekaligus memperkuat perannya sebagai sumber pembiayaan bagi dunia usaha. Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, mengatakan dalam horizon jangka pendek hingga menengah, target tersebut lebih tepat disebut sangat ambisius ketimbang realistis untuk dicapai. Menurutnya, bursa-bursa kelas dunia seperti
New York Stock Exchange (NYSE) dan
Hong Kong Exchanges and Clearing Limited (HKEX) berada pada level yang jauh berbeda dari BEI, bukan sekadar berbeda skala.
Baca Juga: FTSE Russell Kembali Tunda Penyesuaian Saham Indonesia, Bertahan hingga Desember 2026 "Target ini lebih tepat sebagai aspirational vision jangka sangat panjang rentang 20 tahun -30 tahun daripada sasaran jangka pendek," kata Wafi kepada Kontan, Selasa (18/8/2026). Wafi memaparkan enam indikator yang lazim digunakan untuk mengukur standar sebuah bursa efek kelas dunia, yakni kapitalisasi pasar absolut, volume perdagangan harian atau kedalaman likuiditas, jumlah emiten serta diversitas sektoralnya, tingkat sophistication basis investor, rata-rata free float per emiten, dan kedalaman pasar. Sebagai pembanding, Wafi menyebut bursa-bursa kelas atas dunia umumnya memiliki kapitalisasi pasar di atas US$ 5 triliun, kecepatan perputaran transaksi
(turnover velocity) di atas 1% dari kapitalisasi pasar, serta rata-rata
free float di atas 40%-50%. Menurut Wafi, Indonesia masih tertinggal jauh dari seluruh metrik tersebut. Lebih lanjut, Wafi mengungkapkan sejumlah pekerjaan rumah yang perlu digarap di luar sekadar penyempurnaan aturan, penegakan hukum, kebijakan HSC, maupun perbaikan
free float. Beberapa di antaranya adalah pendalaman basis investor institusi domestik seperti dana pensiun dan perusahaan asuransi yang memiliki dana kelolaan (AUM) jauh lebih besar dibandingkan investor ritel, diversifikasi produk seperti derivatif, Dana Investasi Real Estat (DIRE atau REITs), dan produk terstruktur yang belum berkembang di pasar domestik. Selain itu, ia juga menyoroti perlunya infrastruktur teknologi perdagangan yang setara dengan standar global, serta kerangka perpajakan yang kompetitif dibandingkan Singapura dan Hong Kong. Secara terpisah, Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto menjelaskan Indonesia perlu bergerak dari sekadar mengejar besaran nominal menuju kondisi besar sekaligus investable. Menurutnya, bursa yang setara secara internasional harus memiliki pasar primer yang produktif dan mampu membawa perusahaan-perusahaan berkualitas untuk mencatatkan saham perdana (IPO), serta pasar sekunder yang likuid dan berintegritas. "Bursa yang tergolong maju atau berperan sebagai pusat pasar modal internasional dinilai dengan seperangkat indikator, bukan hanya total
market capitalization," tambah Rully. Rully juga bilang
World Federation of Exchanges sendiri melacak ratusan indikator pasar, termasuk kapitalisasi, nilai transaksi saham, jumlah perdagangan, jumlah emiten, IPO, produk ETF dan derivatif, serta indikator spread sebagai ukuran likuiditas. Ini menunjukkan standar internasional secara praktis memang bersifat multidimensi.
Baca Juga: CNY Hingga SGD Jadi Valas Asia Paling Menarik Saat Dolar AS Melandai Kemudahan Bagi Investor Asing Sementara itu, kemudahan investasi bagi investor asing juga perlu menjadi sorotan tersendiri. Pengamat Pasar Modal sekaligus Co-Founder PasarDana Hans Kwee mengungkapkan, kemudahan transaksi bagi investor internasional ditentukan oleh sejumlah faktor utama.
Pertama, keterbukaan kerangka regulasi dan repatriasi modal, yang mencakup kepastian aturan hukum, kejelasan aturan perpajakan, serta kemudahan lalu lintas arus modal dan devisa.
Kedua, efisiensi penyelesaian dan operasional, meliputi kemudahan pembukaan rekening (onboarding), proses kustodian, serta kepastian alur penyelesaian transaksi yang selaras dengan standar global.
Ketiga, ketersediaan informasi, yakni laporan keuangan, keterbukaan informasi emiten, serta riset yang mudah diakses dan disajikan dalam bahasa internasional (Inggris) secara real-time.
Keempat, stabilitas makroekonomi dan nilai tukar, di mana kondisi fundamental ekonomi yang tangguh serta nilai tukar rupiah yang stabil dinilai dapat memberikan rasa aman bagi investor jangka panjang. "Secara keseluruhan, tujuan mewujudkan BEI sebagai bursa internasional adalah peluang besar yang sangat rasional untuk dicapai jika insentif lintas sektor terus diperkuat," ujar Hans.
Baca Juga: AVIA Raih Kenaikan Penjualan & Laba Double Digit per Semester I-2026, Ini Penopangnya Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News