KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perum Bulog menghadapi tantangan yang lebih besar pada 2026 seiring peningkatan target penyerapan komoditas pangan strategis dari pemerintah. Direktur Utama Ahmad Rizal Ramdhani mengungkapkan bahwa Bulog dituntut memperkuat perannya sebagai penyangga ketahanan pangan nasional. Rizal mengungkapkan, pemerintah menaikkan target penyerapan beras Bulog dari 3 juta ton pada 2025 menjadi 4 juta ton pada 2026.
“Tahun 2026 kami diberikan target yang lebih besar. Tahun 2025 target penyerapan beras totalnya 3 juta ton, sementara di 2026 targetnya naik menjadi 4 juta ton,” ujar Ahmad Rizal Ramdhani dalam diskusi bersama wartawan di Jakarta, Jumat (23/1/2026).
Baca Juga: Bulog Kebagian 70% Kuota MinyaKita BUMN, Setara 700.000 KL per Tahun Tak hanya beras, Bulog juga mendapat mandat untuk menyerap komoditas pangan strategis lainnya. Pemerintah menugaskan Bulog melakukan penyerapan jagung 1 juta ton serta kedelai 70 ribu ton. “Harapan kami, tugas-tugas dari pemerintah ini dapat kami laksanakan dengan baik,” kata Rizal. Untuk mendukung pencapaian target tersebut, Bulog menyiapkan langkah strategis dengan memperkuat infrastruktur logistik nasional. Salah satunya melalui rencana pembangunan 100 gudang baru yang akan difokuskan di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Selain itu, Bulog juga menyiapkan gudang filial serta menyewa fasilitas tambahan guna menampung target penyerapan 4 juta ton beras. “Kami sedang menyiapkan gudang tambahan untuk 4 juta ton, baik gudang filial maupun gudang sewa. Termasuk juga rencana pembangunan 100 gudang Bulog bantuan dari Presiden yang insyaallah dalam waktu dekat akan segera kita laksanakan,” ujar Rizal. Dari sisi pendanaan, Bulog memperoleh dukungan tambahan dana Obligasi Pemerintah (OIP) sebesar Rp39,1 triliun untuk membiayai penyerapan beras 4 juta ton. Rizal menyebut, skema pendanaan tersebut memiliki bunga yang relatif rendah, yakni sekitar 2%.
Baca Juga: Bulog Bakal Jadi Badan Otonom, Presiden Targetkan Kemandirian Pangan Nasional “Syukur alhamdulillah ada dukungan tambahan dana OIP sejumlah Rp39,1 triliun dari pemerintah. Dengan dana OIP itu, bunganya cukup rendah yaitu 2%,” kata Rizal. Selain fokus pada pengadaan stok, Bulog juga memperkuat kesiapan logistik untuk menghadapi momen musiman seperti tradisi meugang di Aceh, perayaan Imlek, serta bulan Ramadan dan Idulfitri. Bulog memastikan pasokan beras, minyak goreng, dan gula tersedia secara memadai di berbagai daerah. “Kami sedang konsentrasi menyiapkan dukungan logistik, baik untuk tradisi meugang di Aceh, Imlek, maupun Ramadan. Kami isi gudang-gudang Bulog semaksimal mungkin agar tidak ada masyarakat yang kekurangan,” ujarnya. Dalam rangka stabilisasi harga, Bulog juga akan bersinergi dengan Satgas Pangan, TNI, Polri, serta pemangku kepentingan lainnya untuk memastikan harga pangan, khususnya beras, minyak, dan gula, tetap berada di bawah harga eceran tertinggi (HET). “Kami akan menjaga betul harga-harga pangan, khususnya beras, minyak, dan gula, agar tidak di atas HET. Ini akan kami lakukan bersama Satgas Pangan, TNI, Polri, dan seluruh stakeholder,” tegas Rizal.
Baca Juga: CELIOS Ingatkan Risiko Distorsi Pasar di Balik Rencana Peleburan Bapanas–Bulog Ia menambahkan, pengalaman menjaga stabilitas harga pada periode Natal dan Tahun Baru 2025 menjadi modal penting untuk menghadapi Ramadan dan Lebaran 2026. “Syukur alhamdulillah di awal tahun baru kemarin maupun Natal tidak ada kenaikan harga sembako yang signifikan. Harapan kami, ini juga bisa kita laksanakan nanti pada saat Ramadan maupun Lebaran,” katanya. Ke depan, Bulog juga menyiapkan penguatan kinerja internal, termasuk pembangunan fasilitas secara mandiri serta peningkatan margin usaha yang diharapkan mencapai 7% pada 2026.
“Mudah-mudahan kenaikan margin ini akan menambah semangat Bulog dan meningkatkan kinerja perseroan ke depan,” pungkas Rizal.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News