KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera) mengungkap sejumlah faktor yang menyebabkan penyaluran dana Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) pada 2025 tidak mencapai target. Sepanjang 2025, BP Tapera menyalurkan dana FLPP sebesar Rp 34,64 triliun untuk pembiayaan 278.868 unit rumah. Realisasi ini masih di bawah target yang ditetapkan sebanyak 350.000 unit. Meski meleset dari sasaran, capaian tersebut menjadi yang tertinggi sejak program FLPP bergulir pada 2010.
Baca Juga: Simpanan Rumah Tangga di Perbankan Semakin Menciut, Ini Pemicunya Komisioner BP Tapera Heru Pudyo Nugroho menjelaskan, pada awalnya target penyaluran FLPP 2025 dipatok sebesar 220.000 unit. Namun, pada September 2025 target tersebut direvisi naik signifikan menjadi 350.000 unit. “Perubahan target yang cukup tinggi ini tidak sebanding dengan waktu yang tersedia. Bank penyalur dan pengembang membutuhkan waktu untuk melakukan akselerasi dari sisi supply maupun demand,” ujar Heru kepada Kontan, Jumat (9/1/2026). Selain itu, faktor cuaca juga menjadi penghambat. Musim hujan yang berkepanjangan berdampak pada proses pembangunan rumah sehingga penyelesaiannya tertunda. Kondisi ini berpengaruh pada penyerapan FLPP karena skema tersebut mensyaratkan rumah siap huni. Di sisi lain, permintaan masyarakat terhadap pembiayaan FLPP tergolong tinggi. Berdasarkan data Sistem Informasi KPR Sejahtera Perumahan (Sikasep) yang dikelola BP Tapera, permintaan rumah melalui skema FLPP sepanjang 2025 mencapai 349.000 unit.
Baca Juga: Pergerakan Saham Perbankan Masih Efek Teknikal, Begini Rekomendasi Analis Pemohon yang tercatat dalam sistem tersebut merupakan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) yang telah melalui proses penyaringan oleh pengembang, termasuk pengecekan Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) OJK. Heru menambahkan, capaian permintaan tersebut merupakan yang tertinggi sejak skema FLPP diterapkan. Sebelumnya, rata-rata permintaan yang tercatat di Sikasep berada di kisaran 275.000–285.000 unit. “Kecepatan sisi supply untuk mengimbangi pertumbuhan demand inilah yang menjadi tantangan utama sepanjang 2025,” imbuhnya. Untuk 2026, BP Tapera menargetkan penyaluran FLPP sebesar 285.000 unit rumah dengan alokasi dana Rp 36,6 triliun. Dana tersebut bersumber dari anggaran DIPA sebesar Rp 25,1 triliun, pengembalian pokok pembiayaan sebesar Rp 10,2 triliun, serta saldo awal tahun 2026 sebesar Rp 4,6 triliun.
Baca Juga: BTN Rebranding Produk Tabungan BTN Pos, Bidik Dana Murah Rp 5 triliun Sesuai Nota Keuangan 2026, pemerintah melalui BP Tapera juga menyiapkan pencadangan pembiayaan guna mengantisipasi potensi penambahan target penyaluran FLPP hingga 350.000 unit rumah. Untuk mengatasi backlog perumahan di kawasan perkotaan, BP Tapera juga akan mengusulkan skema pembiayaan rumah susun dan hunian vertikal pada tahun ini.
“BP Tapera telah menyiapkan konsep trilogi agar calon debitur, bank, dan pengembang dapat bersama-sama memantau kondisi rumah, sehingga meminimalkan akad atas rumah yang tidak layak huni,” pungkas Heru.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News