KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemulihan kepercayaan investor menjadi pekerjaan rumah utama pasar modal Indonesia untuk mendorong kembali aktivitas penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO). Meski Bursa Efek Indonesia (BEI) menargetkan pencatatan 905 efek pada 2027, meningkat 13,1% dibandingkan target dalam Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan (RKAT) 2026 revisi sebanyak 800 efek. Target tersebut terdiri atas 25 pencatatan saham baru, 175 emisi obligasi dan sukuk, serta 705 efek lainnya, termasuk waran terstruktur dan produk investasi kolektif. Sementara itu, target IPO pada 2026 telah direvisi menjadi 15 perusahaan, dari sebelumnya 50 perusahaan. Penurunan target tersebut mencapai sekitar 70%.
Hingga akhir Oktober 2026, baru tujuh emiten yang mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia. Dengan demikian, masih diperlukan delapan emiten tambahan untuk memenuhi target revisi IPO tahun ini. Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan, pihaknya berharap kondisi pasar modal membaik sehingga target pencatatan efek pada 2027 dapat tercapai. Di saat bersamaan, BEI melihat pemerintah memiliki peran aktif dalam menggerakkan perekonomian, salah satunya melalui pembangunan kawasan industri.
Baca Juga: Wall Street Dibuka Melemah, Tertekan Tingginya Rencana Belanja AI “Hal itu tentu akan membutuhkan pembiayaan. Salah satu potensi pembiayaannya melalui pasar modal. Ini salah satu potensi yang kami lihat,” ujarnya kepada wartawan di Gedung BEI, Rabu (28/10/2026). Selain pembangunan kawasan industri, restrukturisasi badan usaha milik negara (BUMN) yang tengah dilakukan oleh BPI Danantara juga dinilai berpotensi menjadi katalis bagi aktivitas IPO pada tahun depan. Namun, Jeffrey belum merinci jumlah perusahaan pelat merah yang berpotensi melantai di Bursa melalui aksi tersebut.
Target IPO 2027 Dinilai Masih Kurang Realistis
Pengamat pasar modal sekaligus Direktur Avere Investama Teguh Hidayat menilai, target IPO BEI masih menghadapi tantangan untuk dapat direalisasikan. Menurut dia, target IPO 2026 sulit tercapai karena waktu yang tersisa hingga akhir tahun semakin terbatas. Sementara itu, target 2027 juga belum sepenuhnya realistis mengingat tingginya ketidakpastian pasar, terutama terkait persoalan klasifikasi pasar Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI). Pada paruh pertama 2027, ketidakpastian diperkirakan masih tinggi hingga Juni, yang menjadi tenggat keputusan MSCI mengenai klasifikasi pasar Indonesia. “Apa pun keputusannya, pasar saham Indonesia baru akan normal setelah Juni 2027. Baru kita bisa melihat kembali target IPO ke depan,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (29/10/2026). Sementara itu, pengamat pasar modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy menilai peluang pemulihan aktivitas IPO pada 2027 masih terbuka, tetapi prosesnya tidak akan berlangsung secara instan. Menurut dia, prospek IPO akan sangat bergantung pada stabilitas ekonomi, arah suku bunga, arus dana asing, serta tingkat kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia. Rencana IPO BUMN melalui Danantara juga berpotensi menjadi katalis positif. Namun, perusahaan yang ditawarkan kepada publik harus memiliki fundamental dan tata kelola yang baik, serta valuasi yang wajar.
Baca Juga: BEI Luncurkan Indeks Baru IDX Commodity 20, Ini Daftar Sahamnya “Target 25 IPO di 2027 cukup realistis, tetapi yang lebih penting bukan jumlah perusahaan yang IPO, melainkan kualitas dan besarnya dana yang berhasil dihimpun,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (29/10). Analis pasar modal Alfred Nainggolan juga melihat peluang perbaikan tren IPO pada 2027. Menurut dia, koreksi dalam yang terjadi pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat ini dapat membuka peluang bagi aktivitas pasar modal untuk kembali tumbuh. Meski demikian, risiko eksternal masih perlu diperhatikan, terutama konflik geopolitik yang berpotensi memengaruhi sentimen investor. “Masih ada tantangan dari konflik geopolitik. Namun, pasar sudah mulai menunjukkan resiliensi, karena sudah terbiasa dengan eskalasi konflik Timur Tengah,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (29/10/2026).
Kepercayaan Investor dan Kualitas Emiten Jadi Kunci
Managing Director PT Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su menilai, tidak tercapainya target IPO dapat membatasi pertumbuhan pendapatan BEI dari pencatatan saham baru sekaligus mengurangi pilihan investasi bagi investor. Namun, kondisi tersebut tidak secara otomatis menekan pergerakan IHSG. Untuk mendorong pencapaian target IPO, BEI perlu meningkatkan kepastian proses pencatatan saham, memperkuat pendampingan bagi calon emiten, serta meningkatkan perlindungan investor tanpa mengabaikan kualitas perusahaan yang masuk ke Bursa.
Baca Juga: Harga Emas Dunia dan Antam Ikut Melemah Saat IHSG Anjlok, Cek Pemicunya “Pencatatan IPO bukan jaminan keuntungan, sehingga hindari membeli hanya karena antusiasme saat pencatatan,” ungkapnya, Kamis (29/10/2026). Harry mengatakan, di tengah lesunya aktivitas IPO, perusahaan masih memiliki sejumlah alternatif pendanaan. Pilihan tersebut antara lain pinjaman perbankan, penerbitan obligasi, serta masuknya investor strategis melalui mekanisme private placement. Di sisi lain, Alfred menilai potensi kenaikan suku bunga bank sentral pada akhir 2026 dapat membuat perusahaan lebih berhati-hati dalam menentukan sumber pendanaan ekspansi hingga 2027. Perusahaan perlu mempertimbangkan kembali biaya pendanaan yang bersumber dari pinjaman maupun penerbitan surat utang. “Pemerintah juga harus bisa menciptakan iklim yang lebih kondusif, mengingat kepercayaan pelaku pasar ini penting untuk meningkatkan ekspansi bisnis,” tuturnya. Teguh Hidayat memperkirakan aksi backdoor listing berpotensi semakin marak di tengah terbatasnya aktivitas IPO. Melalui mekanisme ini, perusahaan dapat memperoleh akses pencatatan di Bursa melalui akuisisi atau merger dengan perusahaan yang telah tercatat. Selain itu, persoalan kepercayaan pasar terhadap pemerintah dinilai semakin penting untuk diperhatikan, terutama di tengah sejumlah langkah yang dilakukan Danantara dan pejabat pengurusnya. Menurut Teguh, investor ritel tidak memiliki banyak pilihan untuk mengubah kondisi pasar dalam jangka pendek. Meski demikian, investor yang masih memiliki dana untuk berinvestasi di pasar saham dapat mempertimbangkan akumulasi saham perusahaan dengan fundamental yang baik. Budi Frensidy juga menilai perusahaan kemungkinan akan lebih mengandalkan pinjaman bank, penerbitan obligasi, laba ditahan, atau investor strategis untuk membiayai ekspansi. Namun, pendanaan melalui utang memiliki keterbatasan karena dapat meningkatkan beban bunga dan risiko keuangan perusahaan. Dengan kondisi tersebut, ekspansi bisnis tidak harus dihentikan. Perusahaan hanya perlu lebih selektif dalam memilih proyek dan mempertimbangkan penundaan investasi yang menawarkan tingkat pengembalian kurang menarik.
Baca Juga: Semen Indonesia (SMGR) Berencana Buyback Saham, Ini Tujuannya “Kondisi ini bisa berlanjut sampai kepercayaan investor dan prospek ekonomi membaik,” tuturnya.
BEI Diminta Prioritaskan Pemulihan Kepercayaan Pasar
Budi menilai prioritas organisasi regulator mandiri atau self-regulatory organization (SRO) di pasar modal saat ini seharusnya berfokus pada pemulihan kepercayaan investor. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui peningkatan transparansi, penegakan hukum, serta perbaikan kualitas emiten. Menurut dia, BEI tidak perlu terlalu berorientasi pada jumlah perusahaan yang melakukan IPO. Lebih baik jumlah IPO lebih sedikit, tetapi perusahaan yang masuk memiliki kualitas bisnis dan kapitalisasi pasar besar, dibandingkan banyak perusahaan yang sahamnya kemudian tidak likuid atau berkinerja buruk. “Pemerintah juga perlu menjaga stabilitas kebijakan ekonomi dan memberikan kepastian berusaha,” ungkapnya.
Selain perbaikan dari sisi regulator dan pemerintah, investor ritel juga perlu meningkatkan kehati-hatian dalam menilai peluang investasi saham perdana. Tidak semua IPO dapat memberikan keuntungan dalam waktu singkat. Investor perlu mencermati valuasi perusahaan, prospek laba, arus kas, penggunaan dana hasil IPO, rekam jejak pemegang saham pengendali, hingga kualitas penjamin emisi efek. “Terutama untuk IPO BUMN, jangan berasumsi bahwa dukungan pemerintah otomatis menjamin keuntungan investasi,” katanya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News