KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah mempertahankan target lifting minyak bumi dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 sebesar 610.000 barel per hari (bopd). Angka tersebut tercatat masih sama dengan target APBN 2026. Sementara itu, target lifting gas bumi dipatok turun menjadi 954.000 barel setara minyak per hari (boepd) dari sebelumnya 984.000 boepd pada APBN 2026. Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI), Hadi Ismoyo menilai, penetapan target lifting minyak 610.000 bopd pada RAPBN 2027 tersebut terbilang terlalu tinggi bagi industri.
Pihaknya menganggap angka yang ditetapkan oleh pemerintah dalam anggaran tahun depan masih sulit direalisasikan.
Baca Juga: Prabowo Targetkan Lifting Minyak Tahun 2027 Mencapai 610.000 Barel per Hari Menurutnya, ini perlu dicermati mengingat tantangan teknis lapangan hulu migas di dalam negeri yang terus berlanjut. "Terkait target 610.000 bopd, sangat ambisius dan tidak realistis menurut saya. Tahun ini 2026 saja including LPG produksi rata-rata sekitar 580.000 bopd. Jika tanpa LPG maka
most likely sekitar 560.000 bopd," ujarnya kepada Kontan.co.id, Selasa (18/8/2026). Hadi memproyeksikan laju produksi minyak bumi nasional pada 2027 berpotensi mengalami penurunan jika memperhitungkan laju penurunan alami (
decline rate). Dia menghitung, tanpa tambahan produksi yang signifikan dari lapangan baru, realisasi lifting minyak bumi akan berada cukup jauh di bawah target yang dipatok oleh pemerintah dalam RAPBN 2027.
Baca Juga: Pertamina Hulu Energi (PHE) Produksi 1,03 Juta BOEPD, Kuasai 65% Lifting Minyak RI "Jadi estimasi kami untuk tahun 2027 adalah sama atau lebih kecil. Dengan asumsi
decline 5% maka 2027 seharusnya tinggal 532.000 bopd. Jika ditambah LPG 20.000 ekivalen, maka prediksi kami adalah 552.000 bopd," tegasnya. Berbeda dengan sektor minyak, IATMI memandang target pemanfaatan dan lifting gas bumi sebesar 954.000 boepd dalam RAPBN 2027 masih relatif bisa dicapai. Hal tersebut didorong oleh karakteristik pengembangan proyek gas baru yang dinilai jauh lebih aktif dan prospektif dibandingkan dengan pengembangan lapangan minyak bumi saat ini. "Terkait gas masih sangat realistis karena POP (
Plan of Development) dan POD (Plan of Development) kecil most likelylebih banyak ke gas daripada oil," katanya. Dari sisi makroekonomi, Hadi menambahkan bahwa asumsi harga minyak mentah Indonesia (
Indonesia Crude Price/ICP) yang berada di kisaran US$ 75 per barel dalam RAPBN 2027 memberikan dampak positif bagi para pelaku usaha hulu migas. Baca Juga: Pelaporan NGL Disesuaikan, Lifting Minyak Berpotensi Bertambah 11.693 Barel per Hari Namun, lanjut dia, kondisi dinamika geopolitik yang belum menentu diperkirakan bakal terus membayangi pergerakan harga minyak mentah di pasar global. "Terkait ICP menurut kami sekitar US$ 80/bbl. Amanlah kalau APBN asumsinya US$ 75/bbl bagi dunia usaha. Secara umum bagi bisnis hulu sangat diuntungkan, namun menjadi tidak menguntungkan dari sisi bisnis hilir. Asumsi saya, Nota Perdamaian masih belum jelas, ketidakpastian masih tinggi, sehingga harga
remaining tinggi," pungkasnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News