Target Marketing Sales PANI Rp 4,3 Triliun pada 2026 Masih Realistis Tercapai



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Target marketing sales PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) sebesar Rp 4,3 triliun pada 2026 masih realistis tercapai. Penjualan pada semester I-2026 yang tumbuh 66% secara tahunan menjadi salah satu penopangnya.

Marketing sales PANI pada semester I-2026 mencapai sekitar Rp 1,93 triliun. Capaian tersebut menjadi modal bagi perusahaan untuk mengejar target tahunan di tengah pengembangan kawasan PIK2 yang terus berjalan.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand mengatakan, aktivitas penjualan pada paruh pertama tahun ini menunjukkan kondisi permintaan yang masih terjaga.


"Target Rp 4,3 triliun masih realistis tercapai. Realisasi semester I sebesar Rp 1,93 triliun atau 45% dari target dengan pertumbuhan 66% secara tahunan menunjukkan permintaan tetap kuat, terutama dari segmen residensial dan komersial di CBD PIK2," kata Abida kepada Kontan, Rabu (7/10/2026).

Baca Juga: Marketing Sales PANI Tumbuh 66%, Tapi Target Rp 4,3 Triliun Dinilai Masih Menantang

Abida menyebut target marketing sales tahun ini juga tergolong konservatif karena berada di kisaran realisasi 2025. Memasuki semester II, penjualan PANI berpotensi mendapat dorongan dari ekosistem PIK2 yang semakin berkembang.

Mulai beroperasinya gedung perkantoran perbankan di CBD PIK2 serta peningkatan konektivitas akses kawasan menjadi sejumlah katalis yang dapat mendukung penjualan. Segmen konsumen PANI yang didominasi kelas menengah atas dan investor juga membuat permintaan relatif lebih tahan terhadap tekanan daya beli dan suku bunga.

Pasalnya, konsumen pada segmen tersebut umumnya melakukan transaksi secara tunai atau tunai bertahap sehingga tidak terlalu bergantung pada pembiayaan KPR.

"Progres infrastruktur akses kawasan dan masuknya penyewa korporasi besar menjadi sentimen positif. Di sisi lain, BI Rate yang masih tinggi, rupiah yang lemah sehingga menaikkan biaya konstruksi, serta risiko pelaku usaha menahan keputusan investasi di tengah ketidakpastian ekonomi menjadi sentimen negatif," jelas Abida.

Penundaan ekspansi dan pengurangan investasi dunia usaha juga berpotensi menahan permintaan kaveling komersial dan produk ruko. Kondisi tersebut terutama dapat mempengaruhi segmen yang bergantung pada keyakinan pelaku usaha untuk melakukan ekspansi.

Baca Juga: Laba PIK Dua (PANI) Meroket 483%, Analis Ungkap Prospek dan Katalis hingga Akhir 2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News