KONTAN.CO.ID - Asian Development Bank (ADB) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan stabil di level 5,2% pada 2026 dan 2027. Proyeksi tersebut disampaikan dalam laporan Asian Development Outlook April 2026 berjudul The Middle East Conflict Challenges Resilience in Asia and the Pacific. Namun, proyeksi ADB ini lebih rendah dibanding target pertumbuhan ekonomi pemerintah yang dipatok sebesar 5,4% pada 2026. “PDB diproyeksikan tumbuh sebesar 5,2% pada tahun 2026 dan 2027 karena peningkatan investasi dan konsumsi yang stabil. Ekspektasi inflasi diperkirakan akan tetap terkendali dalam kisaran target,” tulis ADB dalam laporannya, dikutip Selasa (14/4/2026).
ADB juga menilai, risiko pertumbuhan ekonomi tetap meningkat akibat konflik berkepanjangan di Timur Tengah. Menurut ADB, menjaga pertumbuhan inklusif jangka panjang membutuhkan penciptaan lapangan kerja formal yang lebih kuat. Momentum Ekonomi Menguat di Awal 2026 ADB menilai perekonomian Indonesia memperoleh momentum pada awal 2026. Kombinasi faktor siklus dan kebijakan disebut mendukung pertumbuhan sesuai harapan pemerintah. Peningkatan produktivitas pertanian turut berkontribusi terhadap pendapatan pedesaan dan memperkuat pasokan pangan. Hal tersebut menjadi penopang awal pertumbuhan ekonomi di awal tahun.
Baca Juga: Harga Minyak Curah Meroket, Minyakita Jadi Buruan Utama Permintaan musiman juga meningkat karena perayaan Ramadan dan Idul Fitri pada bulan Maret, yang mendorong konsumsi rumah tangga di sektor makanan, ritel, transportasi, hingga perhotelan. Indikator Konsumsi dan PMI Masih Ekspansi Indikator frekuensi tinggi menunjukkan konsumsi domestik masih kuat. Indeks Manajer Pembelian (PMI) juga berada di wilayah ekspansi sejak paruh kedua 2025, bahkan menguat di awal 2026 ke level tercepat sejak Maret 2025. Meski demikian, pada Maret 2026 PMI tercatat turun signifikan menjadi 50,1 dari sebelumnya 53,8. Walau masih berada di atas ambang batas ekspansi, ADB menilai penurunan tersebut dapat mencerminkan efek awal meningkatnya ketidakpastian eksternal, terutama terkait perkembangan konflik di Timur Tengah. Investasi Diperkirakan Menguat Bertahap ADB memperkirakan momentum pertumbuhan yang terjadi pada awal tahun akan berlanjut. Konsumsi swasta diperkirakan tetap tangguh, didukung pertumbuhan pendapatan yang stabil dan keberlanjutan dukungan kebijakan. Selain itu, investasi juga diproyeksikan meningkat bertahap seiring perkembangan hilirisasi dan meningkatnya partisipasi sektor swasta. Kemajuan dalam pengolahan mineral, manufaktur, serta rantai pasok terkait diperkirakan terus menarik investasi domestik dan asing, sekaligus mendukung penciptaan lapangan kerja formal. ADB menambahkan, reformasi struktural untuk memperkuat iklim bisnis dan kondisi pembiayaan yang mendukung dapat mendorong pembentukan modal. Infrastruktur publik dan proyek strategis tetap menjadi pelengkap penting bagi investasi swasta. Inflasi Diproyeksikan Naik ke 2,5% Dari sisi inflasi, ADB memproyeksikan rata-rata inflasi Indonesia naik menjadi 2,5% pada 2026 dan 2027. Meski demikian, inflasi masih dinilai tetap dalam kisaran target. ADB menilai stabilnya harga memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dan stabilitas. Selain itu, pengeluaran prioritas yang berkelanjutan dalam anggaran 2026 juga akan menjaga daya beli rumah tangga dan momentum investasi. “Sikap kebijakan moneter yang terukur dengan baik bersama dengan langkah-langkah makroprudensial yang akomodatif akan membantu perluasan kredit bersama dengan investasi swasta,” tulis ADB.
Tonton: Ketidakpastian Global Membuat Investor Lebih Hati-Hati Masuk ke Indonesia Ekspor Melambat, Defisit Transaksi Berjalan Terkendali Dari sisi sektor eksternal, ADB memperkirakan posisi eksternal Indonesia secara umum tetap seimbang. Defisit transaksi berjalan diproyeksikan terkendali sepanjang periode perkiraan. Namun, pertumbuhan ekspor diperkirakan melambat karena perlambatan ekonomi mitra dagang utama seperti Amerika Serikat, China, dan zona euro, serta penurunan harga komoditas. Diversifikasi pasar ekspor dinilai dapat membantu menahan tekanan tersebut.
Sementara itu, pertumbuhan impor diperkirakan menguat seiring meningkatnya investasi dan konsumsi domestik, terutama untuk barang modal dan barang setengah jadi. “Arus masuk investasi langsung yang solid secara berkelanjutan diharapkan dapat membantu membiayai defisit eksternal dan mendukung stabilitas nilai tukar,” tulis ADB. Dengan proyeksi pertumbuhan yang stabil, ADB menilai peluang penguatan ekonomi Indonesia tetap terbuka. Namun, ketidakpastian global, terutama akibat konflik geopolitik dan perlambatan ekonomi dunia, menjadi tantangan yang perlu diantisipasi pemerintah. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News