Target Utilisasi Industri 85% Butuh Dorongan Permintaan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai target pemerintah untuk meningkatkan utilisasi kapasitas industri manufaktur nasional hingga 80%-85% pada akhir 2026 cukup ambisius.

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Organisasi, Komunikasi, dan Pemberdayaan Daerah Erwin Aksa mengatakan, utilisasi kapasitas industri manufaktur saat ini berada di kisaran mendekati 70%, sejalan dengan data yang disampaikan Kementerian Perindustrian (Kemenperin).

Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan adanya perbaikan aktivitas produksi dan mulai meningkatnya permintaan terhadap produk manufaktur. Sejumlah indikator, seperti PMI manufaktur S&P Global dan Indeks Kepercayaan Industri (IKI), juga masih menunjukkan momentum ekspansi.


Namun, pemulihan utilisasi belum terjadi secara merata di seluruh subsektor industri. Industri makanan dan minuman, pengolahan mineral, serta sejumlah industri berbasis sumber daya alam relatif memiliki prospek permintaan yang lebih kuat.

"Industri tekstil, alas kaki, furnitur, dan beberapa industri padat karya masih menghadapi tekanan dari biaya produksi, persaingan produk impor, serta permintaan pasar," ujar Erwin dalam keterangannya kepada Kontan, Selasa (27/10/2026).

Baca Juga: Utilisasi Kapasitas Industri Rendah, Target Kemenperin 85% Tidak Mudah Dicapai

Erwin mengatakan, peningkatan utilisasi dari sekitar 70% menjadi 80%-85% berarti membutuhkan tambahan utilisasi sebesar 10-15 poin persentase. Secara relatif, kenaikan tersebut setara dengan sekitar 14%-21% dari tingkat utilisasi saat ini.

Dengan waktu yang tersisa sekitar dua bulan hingga akhir tahun, Kadin menilai target tersebut membutuhkan langkah percepatan yang luar biasa dan terkoordinasi.

"Peningkatan dari 70% menjadi 80%-85% berarti membutuhkan tambahan utilisasi sebesar 10-15 poin persentase," kata Erwin.

Menurut dia, peningkatan utilisasi tidak cukup hanya mengandalkan kapasitas mesin dan fasilitas produksi yang sudah tersedia. Industri membutuhkan kepastian permintaan pasar, kelancaran pasokan bahan baku, energi yang kompetitif, serta dukungan pembiayaan.

Kadin mencatat sedikitnya empat tantangan yang masih membayangi peningkatan utilisasi industri. Pertama, permintaan domestik yang belum sepenuhnya kuat, terutama pada industri yang bergantung pada daya beli masyarakat.

Baca Juga: Kemenperin Bidik Utilisasi Industri 85%, Insentif Tambahan Disiapkan

Kedua, tingginya biaya produksi yang mencakup energi, logistik, bahan baku impor, hingga tekanan nilai tukar rupiah. Ketiga, persaingan produk impor, termasuk produk berharga rendah yang dapat menekan utilisasi pabrik domestik.

Keempat, ketidakpastian permintaan ekspor seiring kondisi ekonomi global dan perubahan kebijakan perdagangan internasional.

Karena itu, Erwin menilai target utilisasi 80%-85% lebih tepat dipandang sebagai sasaran percepatan yang perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing subsektor, bukan sekadar mengejar angka agregat nasional.

Dari sisi kebijakan, Kadin meminta pemerintah memperkuat ketersediaan energi dengan harga kompetitif. Kepastian pasokan gas melalui kebijakan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT), keandalan listrik, dan ketersediaan BBM industri dinilai penting bagi sektor manufaktur yang intensif energi seperti petrokimia, pupuk, baja, keramik dan kaca.

Selain energi, pemerintah perlu memperlancar pasokan bahan baku dan barang modal, termasuk untuk bahan baku yang belum tersedia memadai di dalam negeri. Efisiensi perizinan, pelabuhan dan logistik juga dinilai perlu diperkuat.

Kadin juga mendorong penguatan permintaan domestik melalui belanja pemerintah, BUMN dan proyek strategis nasional yang memberikan ruang lebih besar bagi produk industri dalam negeri.

Di sisi ekspor, pemerintah perlu memperluas akses pasar serta memperkuat dukungan pembiayaan, sertifikasi dan pemenuhan standar internasional bagi eksportir.

"Keberhasilan industrialisasi bukan semata-mata ketika utilisasi pabrik mencapai 80%-85%, tetapi ketika peningkatan produksi tersebut diikuti kenaikan penjualan, ekspor, investasi, dan penciptaan lapangan kerja," ujar Erwin.

Menurut dia, sinkronisasi kebijakan industri, energi, perdagangan, fiskal dan investasi menjadi kunci agar kenaikan utilisasi tidak hanya bersifat sementara, tetapi dapat menjadi fondasi pertumbuhan manufaktur yang berkelanjutan.

Baca Juga: Apindo Sebut Target Utilisasi Industri 80%-85% Cukup Ambisius

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News