KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah optimitis menargetkan investasi baru sebesar Rp 2.100 triliun pada 2026, dengan mengandalkan sektor-sektor berkelanjutan yang memiliki minat tinggi dari investor global. Salah satu sektor utama yang menjadi andalan adalah energi baru dan terbarukan (EBT), termasuk panas bumi (geothermal), dan sektor lainnya seperti waste to energy hingga data center. Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Perkasa Roeslani mengatakan, EBT menjadi sektor yang paling menjanjikan karena potensi besar yang dimiliki Indonesia serta tingginya minat investor.
"Kita ingin mendorong salah satunya yang kita lihat potensinya sangat besar dan appetite-nya dari investor dalam dan luar negeri juga sangat tinggi adalah dari energi baru terbarukan atau renewable energy. Ini sudah ada dalam rencana PLN, di mana ke depan 76% energi nasional akan berasal dari energi baru terbarukan,” ujar Rosan saat ditemui di Kantor BKPM belum lama ini.
Baca Juga: Ditopang Danantara, Pemerintah Yakin Raih Investasi Baru Rp 2.100 Triliun di 2026 Rosan mengungkapkan, total potensi EBT Indonesia mencapai sekitar 3.700 gigawatt, namun kapasitas terpasang saat ini baru 15,1 gigawatt. Potensi tersebut berasal dari energi surya, hidro, dan geothermal yang tersebar di berbagai wilayah. Menurutnya, geothermal menjadi salah satu subsektor EBT yang paling diminati investor asing, terutama dari Jepang. Ia mencontohkan proyek panas bumi di Aceh dengan nilai investasi sekitar US$ 900 juta yang telah mencapai tahap financial closing pada tahun lalu dan akan mulai dibangun tahun ini. Selain energi terbarukan, pemerintah juga mendorong investasi di kawasan industri, ekonomi digital, serta data center. Rosan menilai, investasi pusat data akan meningkat signifikan seiring ketertarikan perusahaan hyperscaler global. “Kita sudah bertemu dengan para hyperscaler. Sebelumnya mereka banyak masuk ke Johor dan Thailand, tapi sejak tahun lalu kita sudah intensif berbicara dan kita lihat investasi data center ini akan sangat signifikan,” ujarnya.
Baca Juga: BKPM, Danantara, dan Kadin Promosikan Investasi RI di WEF Davos 2026 Sektor lain yang dinilai berpotensi besar adalah waste to energy, yakni pengelolaan sampah menjadi tenaga listrik. Rosan mengatakan, proses tender proyek-proyek pengolahan sampah menjadi energi saat ini sudah berjalan dan mendapat respons tinggi dari investor. “Pengelolaan sampah menjadi listrik ini tendernya sudah mulai berjalan, dan minat investor juga sangat tinggi. Tahun ini akan menjadi salah satu kontributor investasi yang baik,” ucapnya. Rosan menegaskan, pemerintah tidak hanya mengejar besarnya nilai investasi, tetapi juga memastikan keberlanjutan (sustainability) dan dampak jangka panjang bagi perekonomian nasional. “Kita ingin investasi yang masuk benar-benar berkelanjutan, berdampak positif, dengan standar operasional dan teknologi yang semakin baik, sehingga kualitas sumber daya manusia kita juga terus meningkat,” pungkasnya.
Baca Juga: Realisasi Investasi Baru di Sektor Hilirisasi Tembus Rp 584,1 Triliun Sepanjang 2025 Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News