KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Pemerintah Indonesia resmi memberikan fasilitas tarif 0% bagi sejumlah produk utama asal Amerika Serikat, khususnya komoditas pertanian seperti gandum dan kedelai. Kebijakan ini menjadi bagian dari kesepakatan dagang timbal balik antara Indonesia dan AS dalam dokume
n agreement on reciprocal trade (ART). Menanggapi hal tersebut, Global Markets Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto menyambut positif kebijakan tarif 0% untuk sejumlah komoditas pangan tersebut.
Menurutnya, langkah tersebut berpotensi memperkuat ketahanan pangan (food security) nasional sekaligus menjaga daya beli dan konsumsi masyarakat.
Baca Juga: India Disebut Tawarkan Pengurangan Tarif Produk AS jadi Nol, Trump: Sudah Terlambat "Komoditas yang mendapatkan tarif impor 0% itu merupakan komoditas yang dibutuhkan untuk kebutuhan
food security kita," ujar Myrdal kepada Kontan.co.id, Jumat (20/2/2026). Ia menilai kebijakan ini selaras dengan berbagai program pemerintah, seperti program makan bergizi gratis dan agenda penguatan ketahanan pangan. Dengan kebutuhan pangan yang besar dan berkelanjutan, kebijakan tarif 0% dinilai dapat menjadi sentimen positif bagi perekonomian domestik. Namun demikian, Myrdal mengingatkan agar pemerintah tetap mempertimbangkan dampaknya terhadap neraca perdagangan secara keseluruhan. Ia mencatat, selama ini Indonesia secara rutin mencatatkan surplus perdagangan dengan Amerika Serikat.
Baca Juga: Trump Sebut India Tawarkan Pengurangan Tarif Barang-Barang AS Jadi Nol Persen "Secara umum kita mendapatkan kontribusi
trade surplus dari perdagangan dengan Amerika itu setiap bulan minimal sekitar 1,2 miliar dolar AS. Jadi wajar kalau Amerika merasa ada sesuatu yang perlu ditingkatkan dari aktivitas perdagangan antara mereka dengan Indonesia," katanya. Dari sisi fiskal, ia menekankan perlunya perhitungan matang dari pemerintah, khususnya Kementerian Keuangan terkait potensi penurunan penerimaan bea masuk dari komoditas pangan asal AS yang kini bertarif 0%. Menurut Myrdal, pemerintah perlu mencari skema kompensasi agar penerimaan negara dari pos kepabeanan tetap terjaga. "Mau tidak mau harus ada pos baru supaya bea impor itu bisa mendapatkan angka yang kurang lebih sama seperti pada saat bea masuk itu diterapkan untuk komoditas dari pertanian AS," ujarnya. Dari sisi ekonomi makro, Myrdal melihat dampaknya cenderung positif, terutama terhadap konsumsi rumah tangga yang menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Baca Juga: Ancaman Trump: Negara Mitra Dagang Iran Bakal Kena Tarif 25% dari AS Komoditas seperti gandum dan produk turunannya dinilai memiliki kontribusi penting dalam struktur konsumsi masyarakat. Sementara itu, Head of Macroeconomics and Market Research Permata Bank, Faisal Rachman menilai kebijakan tarif 0% perlu dilihat secara lebih selektif. Ia mengatakan, untuk komoditas utama seperti gandum dan kedelai, fasilitas tarif 0% berpotensi mendukung stabilitas harga pangan domestik. "Pada sektor pertanian, fasilitas tarif 0% untuk komoditas pangan utama seperti gandum dan kedelai sebenarnya berpotensi mendukung stabilitas harga pangan domestik," ujarnya. Namun, Faisal mengingatkan bahwa penerapan tarif 0% yang lebih luas terhadap berbagai produk pangan lainnya harus diantisipasi secara hati-hati. Ia menilai ada potensi dampak terhadap produsen dalam negeri jika kebijakan ini tidak dikaji secara komprehensif.
Baca Juga: Pemerintah Klaim Positif Hasil Negosiasi Tarif Dagang dengan AS “Penerapan tarif 0% yang lebih luas untuk produk pangan lainnya perlu diantisipasi secara hati-hati, mengingat potensi dampaknya terhadap produsen domestik serta kemungkinan ketidaksesuaian dengan strategi jangka panjang ketahanan pangan dan pembangunan sektor pertanian Indonesia,” jelasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News