Tarif AS 19% Segera Diteken, Kadin Soroti Risiko Penurunan Volume Ekspor



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai tarif resiprokal Amerika Serikat (AS) sebesar 19% yang dikenakan ke Indonesia berisiko menurunkan volume ekspor ke depan.

Untuk diketahui, Presiden Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump berencana meneken draf kesepakatan tarif resiprokal sebesar 19% pada Kamis (19/2/2026).

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Otonomi Daerah, Sarman Simanjorang mengatakan, dampak dari tarif tersebut masih relatif tinggi, meskipun sebelumnya tarif telah dipangkas dari 32%.


"Ini dapat menyebabkan produk kita seperti tekstil, alas kaki, elektronik, dan lainnya kurang kompetitif dan berpotensi menurunkan volume ekspor," katanya saat dihubungi Kontan, Rabu (18/2/2026).

Baca Juga: Kemenangan Ormat Atas WKP Panas Bumi di Halmahera Sulit Dicabut, Ini Alasannya

Kondisi ini, lanjut Sarman, akan menyebabkan industri padat karya kita makin tertekan dan berpeluang terjadinya PHK secara masif.

Untuk itu, menurutnya, pemerintah harus membantu mencari pangsa pasar baru melalui kerja sama multilateral dengan negara-negara di kawasan Amerika Latin dan Afrika.

Tak hanya itu, Sarman menilai, pemerintah dapat memperkuat pangsa pasar produk tekstil dan garmen domestik dengan melarang produk sejenis secara ilegal yang masih banyak ditemukan di berbagai pusat perdagangan.

"Penduduk Indonesia yang mencapai 280 juta jiwa menjadi pangsa pasar produk tekstil, garmen, dan alas kaki yang mampu membuat industri padat karya kita bertahan," terang Sarman.

Jika ekspor anjlok, kata dia, hal ini akan menghambat pertumbuhan ekonomi nasional. Mengingat, ekspor memberikan kontribusi sekitar 20% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.

Sarman bilang, para pengusaha berharap ada kejutan mengenai kesepakatan tarif 19%. Di mana, dalam diskusi, Presiden Prabowo diharapkan bisa meyakinkan Presiden Trump untuk menurunkan tarif resiprokal Indonesia-AS.

"Dengan begitu, daya saing berbagai produk ekspor ke AS bisa tetap dan semakin kompetitif," tandasnya.

Baca Juga: Danone Perkuat Strategi Digital, Optimalkan E-Commerce di Tengah Persaingan FMCG

Selanjutnya: Tekanan Harga Batubara dan CPO Bayangi Penerimaan PNBP Sektor SDA

Menarik Dibaca: Jadwal Imsakiyah Kota Batu Ramadan 2026 Lengkap

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News